ESAI • 13 Oct 2026 • 56x dibaca
Akar Masalah Kerusakan Berbahasa yang Mengancam Eksistensi Budaya
Pola kerusakan berbahasa yang diwarnai umpatan, makian, cemoohan, merupakan ekspresi kehidupan yang dipenuhi oleh rasa lelah, tidak nyaman, penuh penyakit dan marabahaya yang sewaktu-waktu menjadi ledakan krisis moral.
Zaman ini, jarang sekali muncul sosok pujangga besar seperti Ranggawarsita yang memiliki tingkat kebahasaan tinggi. Karyanya 200 tahun lalu seakan menembus ruang dan zaman seperti Serat Hidayat Jati, Serat Kalatidha, dan 9 karya lain yang saat ini masih menjadi sumber referensi yang relevan. Meski terbatas di bidang perpaduan spiritualitas kesusasteraan Jawa dan islam, namun satu tokoh tersebut menjadi indikator bahwa di tahun 1800-an, masyarakat memiliki jati diri berbahasa tinggi yang hari ini sulit dicari padanannya.
Betapa kita mengenal Sutan Takdir Alisyahbana, Suwandi, Gorys Keraf, dan beragam tokoh kebahasaan era pasca kemerdekaan, yang membuat Bahasa Indonesia berkembang menjadi identitas dan jati diri bangsa. Namun, betapa kita temukan kerusakan berbahasa yang tengah menjadi krisis moral pada hari ini. Budaya mengumpat, memaki-maki, cemoohan, dan tindakan brutal yang disajikan terang-terangan di berbagai media, menjadi cerminan berbahasa yang sangat buruk.
Kita melihat contoh kasus yang dialami siswa SMP Negeri 2 Pringsurat, Temanggung, Jawa Tengah yang membakar sekolahnya pada Selasa (27/6/2023), karena kerap mengalami perundungan. Atau kasus terbaru video viral aksi perundungan terhadap siswa kelas VII di Cimanggu, Cilacap, yang mendapat perhatian dari UNESCO dan pemerintah pusat. Dalam video itu, pelaku yang notabene pelajar sama sekali tidak menunjukan ekspresi takut. Seolah pamer dengan perbuatannya.
Berbagai bentuk ujaran kebencian tersebar di berbagai platform sosial media. Seperti yang dilansir data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), sejak 2018-2021 ada sebanyak 3.640 konten di ruang digital yang dilakukan pemutusan akses (takedown) oleh Kemenkominfo karena menimbulkan kebencian atau permusuhan berdasarkan SARA. Dan sepanjang 2021, Kemenkominfo juga menindaklanjuti sebanyak 1.170 isu hoaks di media sosial.
Apakah bahasa itu sekedar pengucapan alat dan tulisan? Menurut Prasasti (2016) Bahasa adalah identitas dari suatu negara sebagai alat untuk berkomunikasi, tidak sebatas sekedar pengucapan lisan dan tulisan. Bahasa adalah ekspresi dari jiwa manusia, dan ekspresi kebahasaan terbentuk dari akal budi budaya masyarakat tertentu.
Dalam KBBI, budaya diartikan sebagai pikiran atau akal budi. Budaya terbentuk dari interaksi manusia terhadap alam wilayahnya, interaksi antar anggota masyarakat, sehingga ciri khusus yang melatar belakangi lahirnya budaya setiap kelompok masyarakat tentu berbeda.
Kerusakan yang terjadi dalam ekspresi berbahasa, disebabkan kondisi jiwa yang rusak akibat interaksi yang terbangun selalu menimbulkan hal jahat. Seperti ketika perilaku berbahasa yang mengandung makian dan cemoohan akan dapat menimbulkan masalah psikologis. Misalnya, seorang anak yang sering memperoleh bentakan dari ayahnya atau seorang siswa yang sering dimarahi oleh gurunya, anak dan siswa tersebut ada kemungkinan memiliki beban psikologis yang berat. (Baryadi, 2012)
Pola kerusakan berbahasa yang diwarnai umpatan, makian, cemoohan, merupakan ekspresi kehidupan yang dipenuhi oleh rasa lelah, tidak nyaman, penuh penyakit dan marabahaya yang sewaktu-waktu menjadi ledakan krisis moral.
Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) oleh Kementerian Kesehatan tahun 2018, prevelansi rumah tangga dengan anggota menderita gangguang jiwa skizofrenia meningkat, dari 1.7 permil pada 2013 menjadi 7 permil di tahun 2018. Gangguan mental emosional pada penduduk usia di bawah 15 tahun, juga naik dari 6,1 persen atau sekitar 12 juta penduduk menjadi 9.8 persen atau sekitar 20 juta penduduk.
Data tersebut menjadi bukti bagi masyarakat, bahwa mereka tengah sakit. Tidak akan ada pujangga yang lahir dari kondisi kejiwaan yang sakit, apalagi rasa sakit itu membudaya sehingga seolah-olah budaya jahat itu sebagai hal yang wajar terjadi.
Jiwa manusia selalu menuju pada harmonisasi perilaku kehidupan, selaras dengan ekspresi alam yang bergerak beriringan terus-menerus. Sesuatu yang harmoni, akan selalu indah dan nyaman. Maka, ekspresi kebahasaan yang dipenuhi umpatan dan makian adalah sesuatu yang harusnya tidak ada dalam masyarakat berbudaya.
Bahasa adalah keluhuran yang muncul dari jiwa yang baik. Mengambil pedoman dalam contoh kitab suci Al-Qur’an, bahasa berasal dari pengajaran Allah Subhanahu wa ta’ala, Tuhan yang maha Esa. Merujuk dalam firman-Nya, surah Al-Baqarah ayat 31 yang artinya :
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman : “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!” (QS. Al-Baqarah : 31)
Hasil dari sebuah karya kerja adalah bahasa yang mengandung nilai di dalamnya. Nilai itu muncul dalam karya buku, bangunan, pergelaran film, gotong royong untuk mengurus urusan bersama. Maka penting sekali, spiritualitas menjadi fondasi dalam setiap bidang pekerjaan yang dilakukan.
Masyarakat madani yang mampu bersatu dalam tujuan bersama, tidak akan muncul kecuali dari kesantunan budi bahasa. Kesantunan itu berasal dari fondasi spiritualitas iman kepada Tuhan yang Maha Esa, Allah Subhana hu wa ta’ala. Yang mengajarkan manusia lewat sunnatullah alam yang beredar menurut alurnya. Menolak sebuah ilmu pengetahuan dari kitab suci, hanya karena bahasa manusia zaman sekarang tidak mampu membuktikan faktanya, adalah sebuah keangkuhan intelektual.
Keangkuhan itu merusak akal budi manusia, padahal ilmu yang diwariskan dalam kitab suci itu harusnya berkembang dengan bahasa terbaik.
Seperti yang di Firmankan Allah Subhana hu wata’ala dalam Al-Qur’an surah Ar-Rahman ayat 1-4 yang artinya :
“(Tuhan) yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajarnya panda berbicara (berekspresi)” (QS. Ar-Rahman : 1-4)
Dalam potongan ayat tersebut, Ar-Rahman berarti yang maha pengasih. Bentuk kasih sayang Allah, sang pencipta manusia adalah mengajarkan Al-Qur’an (Kitab suci) yang diperuntukkan bagi seluruh manusia. Dengan kitab suci diturunkan melalui Sang Nabi (Muhammad) yang mengejawantahkan maknanya, mampu menjadikan manusia sebagai sebaik-baik manusia sehingga mampu untuk berekspresi (Bayan) melalui bahasa. Seperti yang dijelaskan Syeikh Wahbah Az-Zuhaily (2018) bahwa nikmat bagi manusia adalah berekspresi melalui bahasa.
“Nikmat yang kedua dan ketiga adalah diciptakan sebagai manusia, untuk meramaikan dunia, dan mengajarkannya ‘Bayan’, yaitu berbicara dan kefahaman, hal itu termasuk salah satu yang dianugerahkan kepada manusia, tidak kepada hewan.”
Dari manakah akal budi manusia sehingga melahirkan bahasa? Lahirnya bahasa yang santun, tidak lepas dari peran wahyu Allah yang diturunkan kepada para nabi, sehingga mampu mengajarkan kepada para manusia kepandaian berekspresi yang membawa kemajuan.
Informasi yang di firmankan Allah melalui pengajaran sang nabi, mampu membuka akal budi yang sebelumnya tertutup selubung seperti kacang yang masih berkulit. Manusia menjadi lebih mudah memahami pergerakan alam sekitar, seperti fenomena tumbuhnya biji yang menjadi pepohonan yang rindang, yang biji itu tidak akan tumbuh kecuali dari tanah yang baik, dan mengandung nutrisi seimbang.
Lewat pengajaran kitab suci, muncul renungan yang mengasah spiritualitas akal budi. Sehingga ilmu pengetahuan yang didapat tidak hanya berasal dari informasi dari luar. Harus ada informasi dari dalam batin, atau istilahnya “Pengetahuan Internal”.
Apabila pengetahuan internal itu muncul lewat pengajaran dari firman Tuhan, akan terjadi keseimbangan dalam jiwa sehingga pengetahuan dari luar (eksternal) itu berkembang melahirkan interaksi terbaik dari manusia. Manusia bisa memahami peran yang harus dilakukan, tanpa terlalu banyak menelan istilah sulit dari dunia luar. Sehingga, keseimbangan harmoni pengetahuan internal dan eksternal di dalam pergolakan batin, melahirkan kemampuan ekspresi berkebudayaan.
Budaya merupakan gerak bersama, yang lahir dari ekspresi terbaik karya-karya besar individu yang terasah spiritualitasnya. Setiap lingkungan memiliki ekspresi yang berbeda, namun jika itu lahir dari keseimbangan pengetahuan internal dan eksternal, selalu memiliki nilai sama. Semua menuju pada kebahagiaan kehidupan. Maka tidak ada kebahasaan yang baik, tanpa beriman kepada Tuhan yang Maha Esa.
Indikator kemajuan suatu budaya adalah penggunaan bahasa yang baik, sehingga mampu menyatukan setiap interaksi. Kehidupan tidak serta merta sebatas hidup saja. Kehidupan harus mampu melahirkan karya besar yang bernilai spiritualitas. Sebagaimana contoh Ronggowarsito melahirkan karya dari beragam perenungan batin. Tentu kemampuan berbahasa menjadi vital menjadi media penyampai gagasan.
Dalam Ethnologue : Language of The World (2005), Ada sekitar 742 bahasa, 737 bahasa di antaranya merupakan bahasa yang masih hidup atau masih digunakan oleh penuturnya. Meski sekarang, bahasa-bahasa daerah perlahan kehilangan eksistensinya sebagai konsekuensi zaman, tidak perlu ditangisi sebab persatuan dibutuhkan dalam berkomunikasi antar masyarakat Indonesia.
Sebagaimana pernyataan wakil presiden Jusuf Kalla, dalam sambutan pembukaan Kongres Bahasa-Bahasa Daerah di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu, 22 Juli 2007 :
“Hilangnya bahasa-bahasa daerah tidak perlu ditangisi karena merupakan hal yang lumrah terjadi, seiring dengan tuntutan zaman. Kita harus sadari, bahasa daerah penting. Namun, karena kondisi saat ini yang semakin global, kita membutuhkan bahasa persatuan yang lebih cepat untuk berkomunikasi sehingga tidak perlu ditangisi bila bahasa-bahasa daerah semakin berkurang.” (Kompas, Juli 2007)
Ekspresi kebahasaan kita yang tidak berdasar spiritualitas, sangat miskin karya dan perenungan. Meski pada hari ini, sebanyak 96 persen penduduk Indonesia sudah bisa melek huruf, apalagi angaran pendidikan sudah mendapat porsi 20 persen dari APBN, ekspresi kebahasan kita hanya sebatas membahas data dan angka untuk menguatkan sebuah argumen tertentu. Padahal belum tentu itu masalah penting.
Contohnya, dalam media massa di jabarkan data masyarakat indonesia yang memilih partai politik A lebih banyak daripada partai politik B. Partai politik A, dinilai lebih banyak membuat proyek strategis nasional, sehingga apabila tidak memilih partai A, proyek tidak jadi dilaksanakan, dan isi opininya Indonesia akan bubar. Lalu dalam argumen itu, disebutkan angka dan datanya yang menggiring opini kita agar memilih partai politik A.
Siapa yang bisa memastikan, Indonesia akan bubar hanya gara-gara tidak memilih partai A? Tidak ada kepastian. Dan barang tentu, data dan angka menjadi senjata agar kita menelan mentah-mentah semua argumen yang dilontarkan dari luar diri kita. Kita dipaksa memilih sesuatu yang sebenarnya tidak kita pahami konteksnya. Siapa yang membuat data, dan apa manfaat dari proyek yang dilaksanakan, hasilnya hanya jalan ditempat. Kita tidak merenungkan contoh masalah itu dalam ekspresi kebahasaan kita.
Kerusakan bahasa yang selama ini dibahas, hanyalah berputar masalah bahasa yang saling bercampur aduk, antara bahasa indonesia yang dibahasakan jawa (misalnya), bahasa asing yang digunakan agar kelihatan keren. Bahasa daerah yang mulai punah digantikan bahasa asing atau bahasa indonesia itu sendiri. Atau contoh dalam konteks teknis, anak muda yang tidak bisa berbahasa yang baik kepada orang yang lebih tua.
Pengetahuan internal tidak pernah muncul sebab kita menelan mentah-mentah semua informasi eksternal yang dijejalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketidakmampuan mengolah informasi, disebabkan manusia yang terlalu angkuh menolak kitab suci sebagai landasan moral etika berbahasa. Spiritualitas tidak kunjung muncul dalam kebahasaan kita, lebih tertarik mengikuti insting nafsu dan cenderung ikut-ikutan. Sehingga, apabila bahasa menjadi rusak, akan sulit untuk memperbaikinya.
Sehingga, dalam mengidentifikasi diri “Saya sebenarnya siapa?” akibat hilangnya spiritualitas, kebingungan pun terjadi. Berbeda dengan manusia yang terasah spiritualitas pengetahuan internalnya. Mengidentifikasi diri sebagai Orang Jawa misalnya, yang lahir di Jawa, berkebudayaan Jawa, dan percaya diri sebagai orang yang berbudaya Jawa. Maka karya yang lahir, memiliki ciri kekhasan yang berbeda dengan yang lain. Tidak perlu dibuat-buat atau meniru-niru bangsa lain.
Eksistensi bahwa sebenarnya ‘Saya ini ada’, apabila berhasil menunjukkan karya besar sebagai hasil dari perenungan budaya. Kita lebih mudah mengapresiasi orang-orang Jawa zaman dulu yang berhasil mengembangkan akal budi, sehingga tercipta unggah-ungguhing Basa Jawa. Ada Krama Inggil untuk berkomunikasi dengan orang terhormat atau orang tua. Ada Basa Ngoko yang rendah tingkatannnya untuk komunikasi dengan sesama. Birokrasi bahasa menunjukkan persatuan. Ada fungsinya, dan itulah contoh produk budaya.
Sebuah budaya tidak hanya sebatas kesenian dan bangunan kosong. Setiap yang memiliki makna filosofi, adalah produk budaya yang terus akan berkembang sebagai bahasa jiwa yang menembus relung batin. Kebermanfaatan menjadi dasar tujuan manusia berinteraksi, maka semakin bermanfaat sebuah produk budaya, akan semakin berkembang budaya itu hingga melahirkan kesejahteraan.
Tidak akan berkembang sebuah kebudayaan, manakala lebih mementingkan membangun bangunan megah dan perayaan mahal, dengan melupakan masalah yang tengah terjadi di tengah masyarakat. Ketimpangan sosial harus diatasi dengan beredarnya ekonomi, sesuai porsi yang dibutuhkan setiap individu. Sehingga memiliki motivasi untuk bekerja, berkarya, dan tidak memiliki alasan melakukan kejahatan. Untuk mengatasi masyarakat rusak, ‘bahasa harta’ itulah yang dapat digunakan.
Usaha setiap orang harus dihargai, harus saling menghargai satu sama lain. Gotong royong saling membantu, menghindari sifat tamak dan mementingkan diri sendiri saja. Usaha manusia yang memiliki jiwa spiritualitas, semua untuk menuju kepada Tuhan yang Maha Esa (Tauhid). Ancaman eksistensi budaya, selain dari perilaku egoisme dan ikut-ikutan budaya lain, juga disebabkan oleh ketamakan harta yang merusak keseimbangan kehidupan bermasyarakat.
Permasalahan tentang kerusakan berbahasa dan budaya memang kompleks dan menyeluruh, namun tidak mustahil untuk diatasi. Kebudayaan senantiasa berkembang, antara menuju pada kebaikan yang melahirkan karya besar ataukah menuju keburukan yang menghancurkan masyarakat itu sendiri. Budaya yang buruk, seperti mengumpat, mencela, dan menganiaya, mudah untuk hilang dari peredaran kehidupan. Pelakunya akan menjadi sampah sejarah, tidak memiliki nilai apapun untuk generasi selanjutnya.
Sehingga melestarikan budaya dengan membahasakannya dalam kehidupan sehari-hari, menjadi kewajiban bagi setiap manusia yang ingin agar eksistensinya tidak hilang ditelan zaman.
Boyolali, 30 Setember 2023
(Tulisan ini telah berhasil memenangkan lomba essay tingkat nasional yang diadakan oleh 2023 Karya Yowana Bali Learning Centre (KYBLC) Tahun 2023)
Daftar Pustaka
Admin SMP. 2021. “Dari Mana Datangnya Bahasa Indonesia”. Kemendikbud. https://ditsmp.kemdikbud.go.id/dari-mana-datangnya-bahasa-indonesia/. (Diakses 25 September 2023)
Al-Mawardiy, Ali bin Muhammad.(tt). al-Naktu wa al-„Uyûn, kitab digital al-Maktabah al-Syamilah.
Arif, Ahmad. 2023. “Krisis Kesehatan Mental Menghantui Generasi Z Indonesia”. Kompas. https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/07/09/krisis-kesehatan-mental-menghantui-generasi-z-indonesia (Diakses 25 September 2023)
Az-Zuhailiy, Syekh Wahbah, 2018. “Tafsir Munir”, Beirut : dar Al-Fikr. ( Juz 14, hal. 215)
Baryadi, I. Praptomo. 2012. “Bahasa, Kekuasaan, dan Kekerasan”. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma
Ciputra, William. 2022. “Mengenal Ranggawarsita Pujangga Terakhir Tanah Jawa dan Karya-karyanya”. Kompas. https://yogyakarta.kompas.com/read/2022/01/11/164000078/mengenal-ranggawarsita-pujangga-terakhir-tanah-jawa-dan-karya-karyanya?page=all (Diakses 25 September 2023)
Gordon, Raymond G., Jr. (ed.). 2005. “Ethnologue: Language of The World.” Fifteenth Edition. Dallas, Tex.: SIL International, Online Version: http://www.ethnologue.com/. (Diakses 25 September 2023)
Kementerian Agama RI, 2010. “Al-Qur’anul Karim : Miracle The Reference”, Bandung : Sygma Publishing
Kompas, Juli 2007, Kongres Bahasa Daerah.
Saputra, Galih Agus. 2021. “Ternyata Hal Ini yang Memicu Kerusakan Berbahasa”. Media Indonesia. https://mediaindonesia.com/weekend/442422/ternyata-hal-ini-yang-memicu-kerusakan-bahasa (Diakses 25 September 2023)
Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”, Jakarta: Balai Pustaka, (Hal 130-131)
Betapa kita mengenal Sutan Takdir Alisyahbana, Suwandi, Gorys Keraf, dan beragam tokoh kebahasaan era pasca kemerdekaan, yang membuat Bahasa Indonesia berkembang menjadi identitas dan jati diri bangsa. Namun, betapa kita temukan kerusakan berbahasa yang tengah menjadi krisis moral pada hari ini. Budaya mengumpat, memaki-maki, cemoohan, dan tindakan brutal yang disajikan terang-terangan di berbagai media, menjadi cerminan berbahasa yang sangat buruk.
Kita melihat contoh kasus yang dialami siswa SMP Negeri 2 Pringsurat, Temanggung, Jawa Tengah yang membakar sekolahnya pada Selasa (27/6/2023), karena kerap mengalami perundungan. Atau kasus terbaru video viral aksi perundungan terhadap siswa kelas VII di Cimanggu, Cilacap, yang mendapat perhatian dari UNESCO dan pemerintah pusat. Dalam video itu, pelaku yang notabene pelajar sama sekali tidak menunjukan ekspresi takut. Seolah pamer dengan perbuatannya.
Berbagai bentuk ujaran kebencian tersebar di berbagai platform sosial media. Seperti yang dilansir data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), sejak 2018-2021 ada sebanyak 3.640 konten di ruang digital yang dilakukan pemutusan akses (takedown) oleh Kemenkominfo karena menimbulkan kebencian atau permusuhan berdasarkan SARA. Dan sepanjang 2021, Kemenkominfo juga menindaklanjuti sebanyak 1.170 isu hoaks di media sosial.
Apakah bahasa itu sekedar pengucapan alat dan tulisan? Menurut Prasasti (2016) Bahasa adalah identitas dari suatu negara sebagai alat untuk berkomunikasi, tidak sebatas sekedar pengucapan lisan dan tulisan. Bahasa adalah ekspresi dari jiwa manusia, dan ekspresi kebahasaan terbentuk dari akal budi budaya masyarakat tertentu.
Dalam KBBI, budaya diartikan sebagai pikiran atau akal budi. Budaya terbentuk dari interaksi manusia terhadap alam wilayahnya, interaksi antar anggota masyarakat, sehingga ciri khusus yang melatar belakangi lahirnya budaya setiap kelompok masyarakat tentu berbeda.
Kerusakan yang terjadi dalam ekspresi berbahasa, disebabkan kondisi jiwa yang rusak akibat interaksi yang terbangun selalu menimbulkan hal jahat. Seperti ketika perilaku berbahasa yang mengandung makian dan cemoohan akan dapat menimbulkan masalah psikologis. Misalnya, seorang anak yang sering memperoleh bentakan dari ayahnya atau seorang siswa yang sering dimarahi oleh gurunya, anak dan siswa tersebut ada kemungkinan memiliki beban psikologis yang berat. (Baryadi, 2012)
Pola kerusakan berbahasa yang diwarnai umpatan, makian, cemoohan, merupakan ekspresi kehidupan yang dipenuhi oleh rasa lelah, tidak nyaman, penuh penyakit dan marabahaya yang sewaktu-waktu menjadi ledakan krisis moral.
Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) oleh Kementerian Kesehatan tahun 2018, prevelansi rumah tangga dengan anggota menderita gangguang jiwa skizofrenia meningkat, dari 1.7 permil pada 2013 menjadi 7 permil di tahun 2018. Gangguan mental emosional pada penduduk usia di bawah 15 tahun, juga naik dari 6,1 persen atau sekitar 12 juta penduduk menjadi 9.8 persen atau sekitar 20 juta penduduk.
Data tersebut menjadi bukti bagi masyarakat, bahwa mereka tengah sakit. Tidak akan ada pujangga yang lahir dari kondisi kejiwaan yang sakit, apalagi rasa sakit itu membudaya sehingga seolah-olah budaya jahat itu sebagai hal yang wajar terjadi.
Jiwa manusia selalu menuju pada harmonisasi perilaku kehidupan, selaras dengan ekspresi alam yang bergerak beriringan terus-menerus. Sesuatu yang harmoni, akan selalu indah dan nyaman. Maka, ekspresi kebahasaan yang dipenuhi umpatan dan makian adalah sesuatu yang harusnya tidak ada dalam masyarakat berbudaya.
Bahasa adalah keluhuran yang muncul dari jiwa yang baik. Mengambil pedoman dalam contoh kitab suci Al-Qur’an, bahasa berasal dari pengajaran Allah Subhanahu wa ta’ala, Tuhan yang maha Esa. Merujuk dalam firman-Nya, surah Al-Baqarah ayat 31 yang artinya :
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman : “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!” (QS. Al-Baqarah : 31)
Hasil dari sebuah karya kerja adalah bahasa yang mengandung nilai di dalamnya. Nilai itu muncul dalam karya buku, bangunan, pergelaran film, gotong royong untuk mengurus urusan bersama. Maka penting sekali, spiritualitas menjadi fondasi dalam setiap bidang pekerjaan yang dilakukan.
Masyarakat madani yang mampu bersatu dalam tujuan bersama, tidak akan muncul kecuali dari kesantunan budi bahasa. Kesantunan itu berasal dari fondasi spiritualitas iman kepada Tuhan yang Maha Esa, Allah Subhana hu wa ta’ala. Yang mengajarkan manusia lewat sunnatullah alam yang beredar menurut alurnya. Menolak sebuah ilmu pengetahuan dari kitab suci, hanya karena bahasa manusia zaman sekarang tidak mampu membuktikan faktanya, adalah sebuah keangkuhan intelektual.
Keangkuhan itu merusak akal budi manusia, padahal ilmu yang diwariskan dalam kitab suci itu harusnya berkembang dengan bahasa terbaik.
Seperti yang di Firmankan Allah Subhana hu wata’ala dalam Al-Qur’an surah Ar-Rahman ayat 1-4 yang artinya :
“(Tuhan) yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajarnya panda berbicara (berekspresi)” (QS. Ar-Rahman : 1-4)
Dalam potongan ayat tersebut, Ar-Rahman berarti yang maha pengasih. Bentuk kasih sayang Allah, sang pencipta manusia adalah mengajarkan Al-Qur’an (Kitab suci) yang diperuntukkan bagi seluruh manusia. Dengan kitab suci diturunkan melalui Sang Nabi (Muhammad) yang mengejawantahkan maknanya, mampu menjadikan manusia sebagai sebaik-baik manusia sehingga mampu untuk berekspresi (Bayan) melalui bahasa. Seperti yang dijelaskan Syeikh Wahbah Az-Zuhaily (2018) bahwa nikmat bagi manusia adalah berekspresi melalui bahasa.
“Nikmat yang kedua dan ketiga adalah diciptakan sebagai manusia, untuk meramaikan dunia, dan mengajarkannya ‘Bayan’, yaitu berbicara dan kefahaman, hal itu termasuk salah satu yang dianugerahkan kepada manusia, tidak kepada hewan.”
Dari manakah akal budi manusia sehingga melahirkan bahasa? Lahirnya bahasa yang santun, tidak lepas dari peran wahyu Allah yang diturunkan kepada para nabi, sehingga mampu mengajarkan kepada para manusia kepandaian berekspresi yang membawa kemajuan.
Informasi yang di firmankan Allah melalui pengajaran sang nabi, mampu membuka akal budi yang sebelumnya tertutup selubung seperti kacang yang masih berkulit. Manusia menjadi lebih mudah memahami pergerakan alam sekitar, seperti fenomena tumbuhnya biji yang menjadi pepohonan yang rindang, yang biji itu tidak akan tumbuh kecuali dari tanah yang baik, dan mengandung nutrisi seimbang.
Lewat pengajaran kitab suci, muncul renungan yang mengasah spiritualitas akal budi. Sehingga ilmu pengetahuan yang didapat tidak hanya berasal dari informasi dari luar. Harus ada informasi dari dalam batin, atau istilahnya “Pengetahuan Internal”.
Apabila pengetahuan internal itu muncul lewat pengajaran dari firman Tuhan, akan terjadi keseimbangan dalam jiwa sehingga pengetahuan dari luar (eksternal) itu berkembang melahirkan interaksi terbaik dari manusia. Manusia bisa memahami peran yang harus dilakukan, tanpa terlalu banyak menelan istilah sulit dari dunia luar. Sehingga, keseimbangan harmoni pengetahuan internal dan eksternal di dalam pergolakan batin, melahirkan kemampuan ekspresi berkebudayaan.
Budaya merupakan gerak bersama, yang lahir dari ekspresi terbaik karya-karya besar individu yang terasah spiritualitasnya. Setiap lingkungan memiliki ekspresi yang berbeda, namun jika itu lahir dari keseimbangan pengetahuan internal dan eksternal, selalu memiliki nilai sama. Semua menuju pada kebahagiaan kehidupan. Maka tidak ada kebahasaan yang baik, tanpa beriman kepada Tuhan yang Maha Esa.
Indikator kemajuan suatu budaya adalah penggunaan bahasa yang baik, sehingga mampu menyatukan setiap interaksi. Kehidupan tidak serta merta sebatas hidup saja. Kehidupan harus mampu melahirkan karya besar yang bernilai spiritualitas. Sebagaimana contoh Ronggowarsito melahirkan karya dari beragam perenungan batin. Tentu kemampuan berbahasa menjadi vital menjadi media penyampai gagasan.
Dalam Ethnologue : Language of The World (2005), Ada sekitar 742 bahasa, 737 bahasa di antaranya merupakan bahasa yang masih hidup atau masih digunakan oleh penuturnya. Meski sekarang, bahasa-bahasa daerah perlahan kehilangan eksistensinya sebagai konsekuensi zaman, tidak perlu ditangisi sebab persatuan dibutuhkan dalam berkomunikasi antar masyarakat Indonesia.
Sebagaimana pernyataan wakil presiden Jusuf Kalla, dalam sambutan pembukaan Kongres Bahasa-Bahasa Daerah di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu, 22 Juli 2007 :
“Hilangnya bahasa-bahasa daerah tidak perlu ditangisi karena merupakan hal yang lumrah terjadi, seiring dengan tuntutan zaman. Kita harus sadari, bahasa daerah penting. Namun, karena kondisi saat ini yang semakin global, kita membutuhkan bahasa persatuan yang lebih cepat untuk berkomunikasi sehingga tidak perlu ditangisi bila bahasa-bahasa daerah semakin berkurang.” (Kompas, Juli 2007)
Ekspresi kebahasaan kita yang tidak berdasar spiritualitas, sangat miskin karya dan perenungan. Meski pada hari ini, sebanyak 96 persen penduduk Indonesia sudah bisa melek huruf, apalagi angaran pendidikan sudah mendapat porsi 20 persen dari APBN, ekspresi kebahasan kita hanya sebatas membahas data dan angka untuk menguatkan sebuah argumen tertentu. Padahal belum tentu itu masalah penting.
Contohnya, dalam media massa di jabarkan data masyarakat indonesia yang memilih partai politik A lebih banyak daripada partai politik B. Partai politik A, dinilai lebih banyak membuat proyek strategis nasional, sehingga apabila tidak memilih partai A, proyek tidak jadi dilaksanakan, dan isi opininya Indonesia akan bubar. Lalu dalam argumen itu, disebutkan angka dan datanya yang menggiring opini kita agar memilih partai politik A.
Siapa yang bisa memastikan, Indonesia akan bubar hanya gara-gara tidak memilih partai A? Tidak ada kepastian. Dan barang tentu, data dan angka menjadi senjata agar kita menelan mentah-mentah semua argumen yang dilontarkan dari luar diri kita. Kita dipaksa memilih sesuatu yang sebenarnya tidak kita pahami konteksnya. Siapa yang membuat data, dan apa manfaat dari proyek yang dilaksanakan, hasilnya hanya jalan ditempat. Kita tidak merenungkan contoh masalah itu dalam ekspresi kebahasaan kita.
Kerusakan bahasa yang selama ini dibahas, hanyalah berputar masalah bahasa yang saling bercampur aduk, antara bahasa indonesia yang dibahasakan jawa (misalnya), bahasa asing yang digunakan agar kelihatan keren. Bahasa daerah yang mulai punah digantikan bahasa asing atau bahasa indonesia itu sendiri. Atau contoh dalam konteks teknis, anak muda yang tidak bisa berbahasa yang baik kepada orang yang lebih tua.
Pengetahuan internal tidak pernah muncul sebab kita menelan mentah-mentah semua informasi eksternal yang dijejalkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketidakmampuan mengolah informasi, disebabkan manusia yang terlalu angkuh menolak kitab suci sebagai landasan moral etika berbahasa. Spiritualitas tidak kunjung muncul dalam kebahasaan kita, lebih tertarik mengikuti insting nafsu dan cenderung ikut-ikutan. Sehingga, apabila bahasa menjadi rusak, akan sulit untuk memperbaikinya.
Sehingga, dalam mengidentifikasi diri “Saya sebenarnya siapa?” akibat hilangnya spiritualitas, kebingungan pun terjadi. Berbeda dengan manusia yang terasah spiritualitas pengetahuan internalnya. Mengidentifikasi diri sebagai Orang Jawa misalnya, yang lahir di Jawa, berkebudayaan Jawa, dan percaya diri sebagai orang yang berbudaya Jawa. Maka karya yang lahir, memiliki ciri kekhasan yang berbeda dengan yang lain. Tidak perlu dibuat-buat atau meniru-niru bangsa lain.
Eksistensi bahwa sebenarnya ‘Saya ini ada’, apabila berhasil menunjukkan karya besar sebagai hasil dari perenungan budaya. Kita lebih mudah mengapresiasi orang-orang Jawa zaman dulu yang berhasil mengembangkan akal budi, sehingga tercipta unggah-ungguhing Basa Jawa. Ada Krama Inggil untuk berkomunikasi dengan orang terhormat atau orang tua. Ada Basa Ngoko yang rendah tingkatannnya untuk komunikasi dengan sesama. Birokrasi bahasa menunjukkan persatuan. Ada fungsinya, dan itulah contoh produk budaya.
Sebuah budaya tidak hanya sebatas kesenian dan bangunan kosong. Setiap yang memiliki makna filosofi, adalah produk budaya yang terus akan berkembang sebagai bahasa jiwa yang menembus relung batin. Kebermanfaatan menjadi dasar tujuan manusia berinteraksi, maka semakin bermanfaat sebuah produk budaya, akan semakin berkembang budaya itu hingga melahirkan kesejahteraan.
Tidak akan berkembang sebuah kebudayaan, manakala lebih mementingkan membangun bangunan megah dan perayaan mahal, dengan melupakan masalah yang tengah terjadi di tengah masyarakat. Ketimpangan sosial harus diatasi dengan beredarnya ekonomi, sesuai porsi yang dibutuhkan setiap individu. Sehingga memiliki motivasi untuk bekerja, berkarya, dan tidak memiliki alasan melakukan kejahatan. Untuk mengatasi masyarakat rusak, ‘bahasa harta’ itulah yang dapat digunakan.
Usaha setiap orang harus dihargai, harus saling menghargai satu sama lain. Gotong royong saling membantu, menghindari sifat tamak dan mementingkan diri sendiri saja. Usaha manusia yang memiliki jiwa spiritualitas, semua untuk menuju kepada Tuhan yang Maha Esa (Tauhid). Ancaman eksistensi budaya, selain dari perilaku egoisme dan ikut-ikutan budaya lain, juga disebabkan oleh ketamakan harta yang merusak keseimbangan kehidupan bermasyarakat.
Permasalahan tentang kerusakan berbahasa dan budaya memang kompleks dan menyeluruh, namun tidak mustahil untuk diatasi. Kebudayaan senantiasa berkembang, antara menuju pada kebaikan yang melahirkan karya besar ataukah menuju keburukan yang menghancurkan masyarakat itu sendiri. Budaya yang buruk, seperti mengumpat, mencela, dan menganiaya, mudah untuk hilang dari peredaran kehidupan. Pelakunya akan menjadi sampah sejarah, tidak memiliki nilai apapun untuk generasi selanjutnya.
Sehingga melestarikan budaya dengan membahasakannya dalam kehidupan sehari-hari, menjadi kewajiban bagi setiap manusia yang ingin agar eksistensinya tidak hilang ditelan zaman.
Boyolali, 30 Setember 2023
(Tulisan ini telah berhasil memenangkan lomba essay tingkat nasional yang diadakan oleh 2023 Karya Yowana Bali Learning Centre (KYBLC) Tahun 2023)
Daftar Pustaka
Admin SMP. 2021. “Dari Mana Datangnya Bahasa Indonesia”. Kemendikbud. https://ditsmp.kemdikbud.go.id/dari-mana-datangnya-bahasa-indonesia/. (Diakses 25 September 2023)
Al-Mawardiy, Ali bin Muhammad.(tt). al-Naktu wa al-„Uyûn, kitab digital al-Maktabah al-Syamilah.
Arif, Ahmad. 2023. “Krisis Kesehatan Mental Menghantui Generasi Z Indonesia”. Kompas. https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/07/09/krisis-kesehatan-mental-menghantui-generasi-z-indonesia (Diakses 25 September 2023)
Az-Zuhailiy, Syekh Wahbah, 2018. “Tafsir Munir”, Beirut : dar Al-Fikr. ( Juz 14, hal. 215)
Baryadi, I. Praptomo. 2012. “Bahasa, Kekuasaan, dan Kekerasan”. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma
Ciputra, William. 2022. “Mengenal Ranggawarsita Pujangga Terakhir Tanah Jawa dan Karya-karyanya”. Kompas. https://yogyakarta.kompas.com/read/2022/01/11/164000078/mengenal-ranggawarsita-pujangga-terakhir-tanah-jawa-dan-karya-karyanya?page=all (Diakses 25 September 2023)
Gordon, Raymond G., Jr. (ed.). 2005. “Ethnologue: Language of The World.” Fifteenth Edition. Dallas, Tex.: SIL International, Online Version: http://www.ethnologue.com/. (Diakses 25 September 2023)
Kementerian Agama RI, 2010. “Al-Qur’anul Karim : Miracle The Reference”, Bandung : Sygma Publishing
Kompas, Juli 2007, Kongres Bahasa Daerah.
Saputra, Galih Agus. 2021. “Ternyata Hal Ini yang Memicu Kerusakan Berbahasa”. Media Indonesia. https://mediaindonesia.com/weekend/442422/ternyata-hal-ini-yang-memicu-kerusakan-bahasa (Diakses 25 September 2023)
Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988. “Kamus Besar Bahasa Indonesia”, Jakarta: Balai Pustaka, (Hal 130-131)
TAGS: esai, kerusakan bahasa