SYAAMIL.ID DIBACA SAAT SANTAI
Beranda
Karya ▾
Profil Penulis Dashboard
CERPEN • 30 Sep 2026 • 95x dibaca

Musim Kemarau

Bromo tengah terbakar malam ini, sementara aku mematung tanpa melakukan apapun.

Bromo tengah terbakar malam ini, sementara aku mematung tanpa melakukan apapun.
“Kiamaat! Dimana-mana kebakaran gegara kemarau panjang! Butuh lima puluh tahun lagi melihat sabana kembali menghijau seperti dulu...”
Kabut asap bergulung-gulung layaknya awan badai. Kuning kemerahan lidah api memantul ke langit seakan festival pasar malam, namun lebih tepat disebut dasar neraka. Penduduk sekitar berlarian dalam senyap lantaran tidak ada yang menyangka, api menghanguskan satu barisan pegunungan. Merah seragam pemadam kebakaran berbaris menyemprotkan air, dari darat, dari udara, helikopter memuntahkan busa merah.
Aku tersungkur, bukan karena menyesali tidak bisa berkemah lalu swafoto di lereng instagramable seperti kawan-kawan yang lain. Pemandangan ini terlalu mengerikan. Petugas menutup rapat-rapat taman nasional. Hanya abu yang tersisa dari rumput ilalang yang tergelar bagai permadani cokelat.
“Bagaimana... bagaimana aku bertahan hidup jika sewaktu-waktu bencana ini terjadi? Kau menanam padi dan gandum untuk dipanen tiga bulan kemudian, lalu tiba-tiba semuanya habis. Tekstur tanah mengeras, dan kau hanya membuang umur jikalau mencangkul di lahan yang rusak seperti ini”
“Sabana Bromo tidak bisa ditanami!” Kholis, kawan satu rombongan berkemah segera menarik tanganku menjauh dari lokasi. “Beruntung rumahmu berada di Boyolali, lereng merapi yang terkenal subur makmur itu. Kau tidak perlu memikirkan besok makan apa. Biarlah sabana ini terbakar, supaya orang-orang merasakan akibatnya bila meremehkan alam!”
‘Bum!’
Tengah sabana tiba-tiba meledak. Lidah api membumbung tinggi, sesuatu tengah dilempar ke atas langit. Saat aku dan Kholis menoleh, ‘Bum!’ jilatan lidah api seketika tersibak oleh kemunculan sosok ksatria berbaju zirah yang mendarat di depanku. Aku terlempar beberapa langkah, terpaku melihat sosok itu.‘Swugh!’ Seluruh tubuhnya hangus terbakar, api menyala di tangan dan lehernya.
“Astaga!” Kholis memekik. Tidak sempat ku berdiri menjauh, segera sosok itu menarik kerah jaketku ke angkasa, ‘Whoosh!’ sepatu kananku terjatuh menimpa kepala Kholis yang terbelalak kaget, melihatku berputar-putar ke angkasa bagai desing peluru. Sosok itu melemparku ke atas awan.
“Aarrgh!” kukira akan terjun bebas, ternyata aku melayang di angkasa.
“Lihatlah perbuatan kalian, manusia!” gemuruh suaranya bagai guntur tatkala membuka topeng armor. Aku bergidik, tak ada selapis dagingpun di wajahnya. “Aku telah tertidur selama sepuluh ribu kali purnama, kelihatannya kalian sengaja membakarku hidup-hidup bersama gunung ini?”
Aku melihat cakrawala barisan lereng gunung yang menyala terbakar. Ratusan hektar area Bromo, semuanya terbakar membumbung tinggi ke langit. Sangat mengerikan.
“Bukan aku yang membakarmu!”
Sosok itu menghentakkan kaki. Udara terbelah seketika membuat suara dentuman. Satu per satu, sosok serupa muncul dari balik api, ratusan, menjadi barisan ribuan yang memenuhi angkasa. “Kalian telah membangkitkan kami dari tidur panjang. Disini kau akan menjadi saksi, bahwa pasukan mayat hidup Ksatria Tengger akan membumi hanguskan Pulau Jawa. Tidak ada yang boleh hidup setelah kalian menghancurkan tempat peristirahatan kami!”
“Jangan!” sergahku. “Ada yang lebih menderita daripada sekedar gunung yang terbakar akibat kemarau panjang!”
“Siapa?”
Telunjukku mengarah ke utara. “Orang-orang di seberang sana.. Suku di Kalimantan yang kehilangan dua ratus hektar hutan, untuk proyek yang sama sekali tidak memberi manfaat apapun selain kelaparan!”
“Omong kosong! Itulah hasil dari perbuatan kalian!” Ksatria Tengger itu mengenakan kembali topeng tengkoraknya. “Roh bumi marah akibat keserakahan kalian. Sekarang tak ada yang bisa menghalangi kami untuk mereset pulau ini kembali seperti semula”
“Aku paham, namun aku punya penawaran yang lebih baik daripada kalian mereset pulau ini padahal sudah capek-capek dibangun pemerintah. Anak cucu Tengger tidak akan suka melihat kakeknya terlalu kejam. Aku akan berupaya mengembalikan alam kalian. Jika hasilnya tidak ada, nyawaku jadi taruhan”
“Tiga hari” Sosok itu mengangkat tangannya. “Hanya itu waktu yang kuberikan. Nyawamu terlalu murah, aku akan mencabut satu juta lainnya lewat aliran waktu”
‘Splash!’ Mereka menghilang, tiba-tiba aku mendarat di tengah sabana tepat saat fajar menyingsing.
***
Pemuda sepertiku tidak patut bila berpangku tangan.
Mereka tertarik menangkapku lantaran azimat kakek yang kukalungkan di leher. Rencanaku berkemah di Bromo telah gagal. Dengan menyewa kuda, aku mengitari tanah ilalang yang lenyap menjadi abu, dimana swafoto pre wedding menggunakan flare dilakukan serampangan tanpa memikirkan hal logis yang akan terjadi. Mau menyalahkan siapapun, hanya akan memperpanjang masalah tanpa sekalipun memberikan solusi. Kita telah terbiasa dengan lingkungan yang seperti itu.
Aku kembali ke basecamp, membuka kembali catatan lama dari tas untuk menemukan cara memundurkan aliran waktu untuk mencari solusi. Takdir tidak dapat diubah. Meskipun aku kembali ke masa lalu, peristiwa ini tetap akan terjadi. Lalu apa yang harus kulakukan setiba disana?
Di tengah lahan Bromo sesuai mitos Tengger, kugambar lingkaran di dalam segitiga berdasar petunjuk catatan ‘Mangsa’. Malam gemintang, bulan tidak nampak pada hari ke-19 penanggalan lunar akibat fase node. Aku menuangkan darah binatang di ujung simbol bintang, lalu menghentakkan kaki tiga kali. ‘Wush!’ jasadku jatuh terserak, namun roh ku melayang terbang ke langit. Lorong waktu terbuka, bergulung-gulung membawaku sesuai angka yang ku tulis. Angka 18. Saat usiaku lebih muda tujuh tahun dari sekarang. Usia dimana seharusnya aku memulai tuk berkarya.
Aku lahir tanpa sempat melihat ayah dan ibu. Mereka meninggal gegara dua kereta saling adu banteng di Bintaro, Jakarta. Nenek jadi merawatku sendiri di gubuk kecilnya hingga aku tumbuh bersekolah, sambil membawa makanan ringan untuk dijual ke kelas-kelas. Meski mendapatkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP), aku memilih untuk tidak menggantungkan uang jajan dari pemberian nenek atau orang lain. Ayah dan ibuku dulu seorang pedagang sayuran di Pasar Cepogo lama sebelum terbakar, tentu aku mewarisi bakat berjualan mereka.
Aku mengimpikan untuk hidup mandiri, punya toko dan tempat tinggal seperti orang tuaku dulu yang dikenal baik. Sayang, di masa SMA aku malah menjadi sasaran bully anak-anak berandal, ketika kucoba berteman dengan salah satu korban bully. Mereka merendahkanku yang yatim piatu, menyuruhku membuang semua dagangan. Aku melapor, yang terjadi malah sesuatu yang mengerikan. Di saat istirahat sekolah, diam-diam mereka menaburkan racun ke makanan yang kujual yang membuat seisi kelas keracunan. Mereka merekam semuanya sehingga namaku viral di medsos!
Aku dipanggil orang tua wali. Sorot mata para guru merendahkanku. Orang-orang tukang bully bahkan menganiayaku sepulang sekolah, membuat satu jariku patah. “Kau sampah, kau takkan mendapatkan apapun!” kata mereka. Mereka juga merekamnya. Kasus keracunan itu merembet sampai membuatku dikeluarkan dari sekolah. Impianku menjadi pebisnis sukses, seketika hancur.
Aku syok berat. Berbulan-bulan tak pernah keluar rumah, hanya makan minum membantu nenek yang prihatin melihatku. Tak terasa umurku 25 tahun, sampai Kholis mengajak ke Bromo dan melihat semua kebakaran itu.
***
‘Whush!’
Aku kembali ke masa terpuruk.
Tak pernah terfikir, catatan lama yang ditinggalkan kakek bisa membawaku melihat diriku sendiri di masa lalu. Melihat wujud kurus kering meringkuk di balik selimut kamar. Makanan basi berseliwer lalat di samping tempat tidurku. Diriku yang malas membuatku marah. Tapi, aku punya cara untuk membangunkannya.
‘Wugh!’
Api menyala dari selimut yang dia gunakan.
Sontak, dia terperanjat hampir terloncat dari kasur. Makanan basi berantakan kemana-mana akibat tak sengaja ketendang. Aku berbisik, “Hei, kau tidak seharusnya seperti ini”
“Siapa.. siapa itu yang ngomong?” dia celingukan, tidak bisa melihatku.
Aku cekikian. “Aku roh dari masa depan. Kau punya hutang budi pada nenek yang harus dibayar dengan bekerja!”
Dia mendadak murung. Tapi, aku mengenal diriku sendiri lebih dari siapapun. “Jangan mati sebelum haji. Jangan fomo sebelum mendaki Bromo. Di bawah lemari nenek, ada mantera Pranoto Mongso”
Dia melangkah keluar masuk ke kamar nenek. Dan benar, dia menemukan sepotong catatan kakek di bawah lemari.
“Kalau kau lakukan semua sesuai petunjuk itu..” aku menghimpun semua keyakinan. “Kau akan kaya mendadak dan mengalahkan para bajingan tukang bully itu!”
“Beneran?” matanya kembali berbinar. Aku memupuk ekspektasinya lebih tinggi lagi.
“Ikuti jalan kakekmu, kau akan dapatkan apapun yang kau mau!”
Tangannya bergetar. Aku paham rasa itu, kepercayaan yang kembali tumbuh dari sesuatu yang berbisik. Dia benar-benar akan berubah total.
Tanganku perlahan menghilang, waktu terlalu singkat. “Kukira itu yang bisa kutunjukkan. Terserah padamu, apakah masa depan akan berubah dengan itu? Nyawaku taruhannya”
‘Whush!’ aku menghilang, kembali ke aliran waktu.
***
“..Tiga hari telah berlalu..”
Mendadak muncul sosok Ksatria Tengger menghadangku di lorong waktu.
Api menyelimuti sekujur tubuhnya. Di belakangnya, ratusan pasukan menghunus pedang. Kukira ia akan melakukan serangan fisik di dunia, jikalau misiku gagal. Selintas ingatanku tentang mitos Tengger itu muncul. Cara mereka melancarkan penghancuran besar-besaran adalah dengan membakar melalui aliran waktu. Astaga, licik dan berbahaya!
Ah! Selapis demi selapis ingatan baru bermunculan di benakku. Diriku yang malas ternyata benar-benar melakukan semua yang kutunjukkan.
Dia mengambil cangkul, dan mulai menanam pada keesokan harinya. Dia kira akan menemukan emas setelah mempelajari konstelasi posisi bulan dan bintang, tapi malah tanamannya semakin subur. 48 jam sebelum bulan purnama, benih padi ditabur. Fase purnama menuju bulan mati, dia melakukan pengendalian hama dan penyemprotan pupuk cair. Akibat perbuatannya, selama tiga bulan bisa panen 2 ton padi. Tentu dengan bantuan sanak saudara yang respek dengan semangatnya yang tiba-tiba muncul. Pranoto Mongso ternyata petunjuk cara menanam menurut kalender Jawa.
Lalu, dia pun meneliti pembuatan pupuk kompos secara mandiri. Selama dua tahun riset pribadi dan mencoba aplikasi ke lahan, dia berhasil mandiri untuk memberdayakan limbah rumah tangga dan kotoran sapi untuk menjadi bahan pupuk kompos. Merekrut kawannya yang pengangguran selepas SMA satu, lalu tiga. Di daerah Cepogo, dia mengembangkan usahanya.
Lambat laun, dia mengetahui cara menghidupkan lahan kritis dengan petunjuk siklus Pranoto Mongso dan pengomposan mandiri.
“Kau..” Ksatria Tengger menunjukkan salah satu adegan di aliran waktu. Ada aku disitu. “Apa yang kau lakukan di tanahku?”
Aku tercengang. Aliran waktu berhenti, terdengar debum Ksatria Tengger terjun dari lubang waktu, disusul ratusan pasukan yang mendarat di permukaan Bromo. Pedang ratusan pasukan mayat hidup berubah menjadi cangkul yang mulai meratakan pupuk kompos yang dituangkan truck-truck berlabel ‘PT. Agriboy Sukses Makmur’. Puluhan mobil pemadam menyemprotkan air yang dicampur pupuk cair, terdengar pekik mandor yang menunjuk bukit gosong yang penuh arang. Segera, ratusan orang kesana meratakan lahan.
“Semprot disana! Kalian lihat reaksinya ketika kecampur pupuk cair? Itu jadi Biochar terbaik yang menyuburkan lahan kritis!”
Aku berdiri di tengah padang.
Baru sadar, aku sekarang mengenakan hem putih bersepatu boot parit meninjau pelestarian kembali kawasan konservasi Bromo, proyek senilai 1 Trilyun, agar menjadi taman nasional yang kembali hijau dan subur.
Boyolali, 05 Oktober 2023

(Dari buku : 'Mata Berlian' - 2023 - Karya Khanif Fauzan)
TAGS: cerpen, musim kemarau

Lanjut Baca Tulisan Sejenis

Cerpen
Musim Panas
Cerpen
Garis Khayal Nukleotida
Cerpen
Rambut