CERPEN • 13 Oct 2026 • 34x dibaca
Musim Panas
Bagi anak SD kelas 4, pukul 4 sore bukanlah waktu yang wajar bila sendirian menunggu, dikala 4 jam yang lalu bel pulang telah berdetang.
Sekolah telah sepi, namun Abil belum dijemput ibunya. Bagi anak SD kelas 4, pukul 4 sore bukanlah waktu yang wajar bila sendirian menunggu, dikala 4 jam yang lalu bel pulang telah berdetang.
Hari senin tidak ada ekstrakurikuler, pun mana ada pelajaran ekstra di sekolah terpencil yang terletak di titik nol kilometer utara Indonesia : Kepulauan Natuna?! Yang berangkat sekolah harus melewati tiga pulau kecil ke barat daya, melipir ke kebun cengkeh, lalu sekolah di atas bukit yang tandanya kibaran bendera merah putih. Jumlah seluruh murid? Tak sampai dua puluh anak.
Tapi Abil beruntung punya empat orang teman seangkatan. Namun semua telah dijemput dikala matahari tepat diatas kepala, bahkan tukang kebun yang mengunci semua kelas telah pulang naik perahu. “Maaf boi, kau tunggu aja disini bentar. Paling ibumu lagi ngurus cengkeh, emang sih hari ini panen raya…”
Abil mengangguk polos, kelebat tukang kebun berlalu di mata lecinya yang mencembung cemburu. Andai saja, ia bisa pulang sendirian…
Matahari berangsur tenggelam di garis lautan. Senja menggerati mentalnya yang bertambah cemas, pusing bangun dari tidurnya yang senyap. Ada yang bergerak di punggungnya.
“Aaaarrggh..!”
Ia terjengkang, seekor anak ular meloncat dari punggungnya, lekas merayap sembunyi di lubang selokan. Itu mengerikan, entah darimana hewan itu datang, cepat-cepat Abil berdiri celingukan. Menyadari ia benar-benar sendirian, ia menangis.
‘Tick..’
Setitik cahaya muncul dari bolpoin yang ia injak.
Bolpoin itu berwarna biru pekat, Abil baru ingat kalau ia menemukan benda itu ketika bel pulang berdentang. Pangkal bolpoin itu bisa di pencet, sehingga setitik cahaya muncul setelah empat kali berkedip.
Di tengah bolpoin, gurat angka ‘01’ secara digital menyala. Ia meraba tengkuknya gatal kok muncul garis-garis timbul seperti tato? Bocah itu tidak begitu memedulikan, melihat bolpoin yang ia bawa sekarang mirip seperti yang digunakan pak presiden di televisi!
Ia nyalakan senter bolpoin, takut-takut melewati lorong-lorong sekolah, barangkali menemukan sesuatu? Setiap ruangan di gembok berkarat, daun pintu kayunya lapuk dimakan usia. Bisa saja tubuh kecilnya mendobrak masuk, pintunya bakal hancur. Tapi ia tak punya nyali, ‘ntar bu guru marah gimana?’ Gema sepatu bututnya terpantul kemana-mana.
Kantor tidak dikunci. Ia memasuki ruang kepala sekolah.
Oh, ada sebuah lentera di meja! Bocah gabut itu bermain-main di kursi beroda kepala sekolah, berputar kesana-kemari. Sederet piala dan sertifikat penghargaan terpampang. Sekolah ini telah berdiri lebih dari 20 tahun yang lalu, namun tak kunjung mendapatkan perbaikan.
‘Crek.. crrek..’ Abil berusaha menyalakan lentera, seperti ibunya menyalakannya di rumah. Ia tak pernah boleh menyentuhnya, tapi yang satu ini lain urusan. Beberapa kali ia menyalakan api, selalu mati oleh tiupan angin. Ia coba geser tubuh mendekat ke lentera. ‘Crek.. crrek..’ api berhasil menyala. Tak sengaja lengan kirinya malah menyambar lentera itu hingga jatuh, tumpahan minyak menggenangi meja.
‘Whugh!’
Api membakar permukaan meja kayu, Abil panik. Sambil menggenggam bolpoin, ia lari keluar kantor menuju halaman sekolah. Pikirannya kalut, ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Di sela-sela kobaran api yang perlahan melalap gedung sekolah tua itu, ia tertidur di halaman sekolah.
Keesokan harinya ia membuka mata dan melihat, banyak orang mengelilingi dirinya. Abil melihat gedung sekolahnya yang rata dengan tanah, sementara ia tidak menemukan ibu diantara kumpulan orang yang berusaha mengevakuasi barang-barang.
Seragam putih merahnya kucel penuh debu dan angus, wajahnya coreng abu-abu. Orang-orang seakan memandang dengan tatapan aneh. Ia terkesiap mendengar kasak-kusuk diantara mereka membicarakan kantor kepala sekolah yang hangus. Sontak, ia berlari.
“Ampun! Aku tidak melakukan apapun!”
Abil menuju ke hutan menghindari tatapan orang-orang. Sayup kelebat rombongan berseragam polisi mendekat ke tempat kejadian, Abil menjauhi arah jalanan dan terus masuk ke jantung hutan bertelanjang kaki. Sampai ke tepian pantai, ia terpergok dua orang tinggi besar yang berusaha melepas tali tambang yang menambat kapal pribadi.
Terlihat tukang kebun sekolah terkapar di sapu ombak, bersimbah darah.
“Hoi! Kesini kau!”
Sontak dua orang itu mengejar Abil yang telah melihat wajah mereka. Abil tertangkap, ia dibanting dalam sekali ayun hingga tak sadarkan diri. Moncong pistol sekonyong-konyong menempel di pelipisnya.
“Jangan lakukan, bodoh! Kita bisa menjualnya juga!”
Mereka pun mengikat tangan dan kaki Abil, lalu dilemparkan di atas boks-boks berisi puluhan kilo daun marijuana. Kapal pun bergerak ke arah utara, deru ombak memecah di sepanjang Laut Natuna yang ganas. Abil tidak bisa melihat apapun di kegelapan lambung kapal. Ia ingin muntah, tapi tak ada yang bisa dimuntahkan.
Berlalu delapan belas jam, kapal pun merapat ke dermaga. Bendera merah putih berkibar di tiang lampu. Dua orang itu meloncat dari kapal dan segera bertransaksi dengan salah seorang pria gendut berjas hitam lalu menanda tangani beberapa kertas. Pria itu sesaat terkejut melihat Abil terkapar layu di gendongan porter. Namun itu bukan urusannya.
Musim panas tidak membuat harga-harga semakin murah, justru bahan baku ekspor ke luar negeri makin mahal sebab panenan banyak yang kering layu, pergerakan polisi makin masif, ditambah BBM naik. Abil dihargai murah, ditempatkan di lambung kapal yang lebih besar bersama belasan anak perempuan selundupan yang pingsan.
***
Abil hanya diam sepanjang perjalanan, pun waktu mandi, makan, dan diobati awak kapal yang menjaga kualitas barang-barang ‘premium’ ini, ia tidak mampu berkomunikasi dengan sesama orang di kapal. Anak-anak perempuan itu berambut keriting, beberapa pirang dengan warna mata biru dan berbahasa asing.
Mereka tidak saling bercakap, sebab apa yang dikatakan sesama mereka, tak ada yang saling memahami. Tak jarang mereka berkelahi karena salah paham, para petugas melerai mereka.
Di kapal yang tujuannya entah kemana, ia tidak mengenal siapapun, dan akan kemana nasibnya ia tak tahu. Abil hanya ingin pulang.
Tiga hari berlalu.
‘Drrak!’
Ada yang menabrak kapal sehingga nahkoda bermanuver kesana-kemari. Dua kapal loreng berbendera merah putih mengapit kapal penyelundup itu, tali-tali dilemparkan dikait ke sisi sehingga tiga kapal saling merepet satu sama lain.
Para awak kapal berhamburan keluar membawa senjata laras panjang, memuntahkan isi peluru ke dua kapal yang mengeluarkan barisan lelaki berseragam taktis, langsung mengepung dan menyergap para awak kapal sehingga terjadi baku tembak.
Sang kapten kapal pengepung berteriak. “TNI Angkatan Laut telah mengepung kalian. Menyerahlah!”
Para awak kapal berhasil dilumpuhkan, rombongan tentara berseragam taktis serentak menyergap masuk menyisir tiap sudut ruangan. Baku tembak terjadi di lorong, derap langkah mereka sampai di basemen. Tempat Abil dan anak-anak seusianya di sekap.
‘Drakk!’ gembok berhasil dihancurkan. Terlihat anak-anak meringkuk ketakutan di sudut ruangan.
“Lapor, para korban berhasil ditemukan. Evakuasi segera dilakukan!”
Mereka juga berhasil menggeledah puluhan boks berisi marijuana yang akan diselundupkan ke negeri seberang. Tampak para awak kapal meringkuk diborgol.
Anak-anak itu segera lari ke dek untuk menuju ke kapal penyelamat. Namun saat mereka akan menyeberang, tiba-tiba seorang bocah perempuan disambar pria berjas hitam lalu menodongkan pistol ke pelipisnya. Para tentara bersiaga mengepung, pria itu menyeret si bocah ke dalam kapal untuk menjadi sandera, sembari menghubungi mafia pulau seberang meminta bantuan.
“Jangan mendekat! Aku tidak segan-segan membunuh bocah ini!”
Sekilas Abil mengingat pria itu nampak seperti tokoh yang sering muncul di televisi, ia meraba saku celananya, bolpoin itu hilang. Abil seketika meloncat, langsung menyelinap masuk ke dalam kapal.
“Bocah, berhentilah! Disana berbahaya!”
Abil menatap belasan mayat awak kapal dan tentara terkapar di lorong kapal. Darah memenuhi lantai, namun Abil tak merasa takut. Ia telah melihat mayat sebelumnya, dan kehidupan memang sesingkat itu. Ia terpergok pria berjas hitam yang mengempit leher anak perempuan yang menangis itu. Bolpoin biru ada di genggamannya. Pistol tertodong ke dahi Abil.
“Bapak, lepaskan dia”
“Bodoh! Kau pembawa sial!”
Si pria sekonyong-konyong melepaskan dua kali tembakan ke Abil, dia tak sempat menghindar. Tepat saat peluru beberapa senti lagi menyentuh dahinya, tak sengaja si bocah perempuan menekan pangkal bolpoin itu. Angka ‘01’ digital berubah menjadi ‘00’. Waktu berhenti. Kilatan cahaya ujung bolpoin, mengenai barcode di tengkuk Abil secara tak sengaja hingga seluruh badannya bersinar.
‘Zlap’
Peluru mengenai dinding. Abil menghilang dalam satu kedipan mata.
***
Bel pulang sekolah berdentang.
Hari ini senin, saat anak-anak generasi bangsa belajar di pekan pertama. Hal yang paling dikhawatirkan para orang tua adalah ketika anak mereka mengalami hal-hal mengerikan diluar pengawasan. Itulah kenapa para orang tua lekas menjemput anak mereka sepulang sekolah, karena anak belum memahami dunia yang sebenarnya terjadi.
Abil berdiri di tengah halaman. Bendera merah putih berkibar ditiang.
Bolpoinnya hancur, seragam putih merah yang ia kenakan masihlah rapi, tas masih melekat di punggung. Ia menatap langit. Menatap sekolahnya yang penuh lalu lalang para murid. Guru-guru bergegas pulang menuju pantai. Lalu ibunya muncul.
Abil menubruk, memeluknya erat. Menangis.
“Ada apa nak? Apa aku terlambar menjemputmu? Oh maafkan, ada banyak yang harus kulakukan di musim panas ini.. panen hari ini banyak sekali..”
Dia pun pulang bersama ibunya. Sementara dari kejauhan terlihat iring-iringan dua kapal loreng bergerak ke utara menembus ombak Laut China Selatan. Bendera merah putih berkibar di tiang kapal, tanda perjuangan. Bahwa dahulu, ada yang pernah berkorban untuk menyelamatkan orang lain. Ada banyak yang harus dilakukan, untuk menyelamatkan generasi masa depan.
Dan selamanya, ia takkan melupakan semua kejadian itu. Ia harus jadi kuat.
Boyolali, 17 Agustus 2023
(Dari buku 'Mata Berlian' - Karya Khanif Fauzan - 2023)
Hari senin tidak ada ekstrakurikuler, pun mana ada pelajaran ekstra di sekolah terpencil yang terletak di titik nol kilometer utara Indonesia : Kepulauan Natuna?! Yang berangkat sekolah harus melewati tiga pulau kecil ke barat daya, melipir ke kebun cengkeh, lalu sekolah di atas bukit yang tandanya kibaran bendera merah putih. Jumlah seluruh murid? Tak sampai dua puluh anak.
Tapi Abil beruntung punya empat orang teman seangkatan. Namun semua telah dijemput dikala matahari tepat diatas kepala, bahkan tukang kebun yang mengunci semua kelas telah pulang naik perahu. “Maaf boi, kau tunggu aja disini bentar. Paling ibumu lagi ngurus cengkeh, emang sih hari ini panen raya…”
Abil mengangguk polos, kelebat tukang kebun berlalu di mata lecinya yang mencembung cemburu. Andai saja, ia bisa pulang sendirian…
Matahari berangsur tenggelam di garis lautan. Senja menggerati mentalnya yang bertambah cemas, pusing bangun dari tidurnya yang senyap. Ada yang bergerak di punggungnya.
“Aaaarrggh..!”
Ia terjengkang, seekor anak ular meloncat dari punggungnya, lekas merayap sembunyi di lubang selokan. Itu mengerikan, entah darimana hewan itu datang, cepat-cepat Abil berdiri celingukan. Menyadari ia benar-benar sendirian, ia menangis.
‘Tick..’
Setitik cahaya muncul dari bolpoin yang ia injak.
Bolpoin itu berwarna biru pekat, Abil baru ingat kalau ia menemukan benda itu ketika bel pulang berdentang. Pangkal bolpoin itu bisa di pencet, sehingga setitik cahaya muncul setelah empat kali berkedip.
Di tengah bolpoin, gurat angka ‘01’ secara digital menyala. Ia meraba tengkuknya gatal kok muncul garis-garis timbul seperti tato? Bocah itu tidak begitu memedulikan, melihat bolpoin yang ia bawa sekarang mirip seperti yang digunakan pak presiden di televisi!
Ia nyalakan senter bolpoin, takut-takut melewati lorong-lorong sekolah, barangkali menemukan sesuatu? Setiap ruangan di gembok berkarat, daun pintu kayunya lapuk dimakan usia. Bisa saja tubuh kecilnya mendobrak masuk, pintunya bakal hancur. Tapi ia tak punya nyali, ‘ntar bu guru marah gimana?’ Gema sepatu bututnya terpantul kemana-mana.
Kantor tidak dikunci. Ia memasuki ruang kepala sekolah.
Oh, ada sebuah lentera di meja! Bocah gabut itu bermain-main di kursi beroda kepala sekolah, berputar kesana-kemari. Sederet piala dan sertifikat penghargaan terpampang. Sekolah ini telah berdiri lebih dari 20 tahun yang lalu, namun tak kunjung mendapatkan perbaikan.
‘Crek.. crrek..’ Abil berusaha menyalakan lentera, seperti ibunya menyalakannya di rumah. Ia tak pernah boleh menyentuhnya, tapi yang satu ini lain urusan. Beberapa kali ia menyalakan api, selalu mati oleh tiupan angin. Ia coba geser tubuh mendekat ke lentera. ‘Crek.. crrek..’ api berhasil menyala. Tak sengaja lengan kirinya malah menyambar lentera itu hingga jatuh, tumpahan minyak menggenangi meja.
‘Whugh!’
Api membakar permukaan meja kayu, Abil panik. Sambil menggenggam bolpoin, ia lari keluar kantor menuju halaman sekolah. Pikirannya kalut, ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Di sela-sela kobaran api yang perlahan melalap gedung sekolah tua itu, ia tertidur di halaman sekolah.
Keesokan harinya ia membuka mata dan melihat, banyak orang mengelilingi dirinya. Abil melihat gedung sekolahnya yang rata dengan tanah, sementara ia tidak menemukan ibu diantara kumpulan orang yang berusaha mengevakuasi barang-barang.
Seragam putih merahnya kucel penuh debu dan angus, wajahnya coreng abu-abu. Orang-orang seakan memandang dengan tatapan aneh. Ia terkesiap mendengar kasak-kusuk diantara mereka membicarakan kantor kepala sekolah yang hangus. Sontak, ia berlari.
“Ampun! Aku tidak melakukan apapun!”
Abil menuju ke hutan menghindari tatapan orang-orang. Sayup kelebat rombongan berseragam polisi mendekat ke tempat kejadian, Abil menjauhi arah jalanan dan terus masuk ke jantung hutan bertelanjang kaki. Sampai ke tepian pantai, ia terpergok dua orang tinggi besar yang berusaha melepas tali tambang yang menambat kapal pribadi.
Terlihat tukang kebun sekolah terkapar di sapu ombak, bersimbah darah.
“Hoi! Kesini kau!”
Sontak dua orang itu mengejar Abil yang telah melihat wajah mereka. Abil tertangkap, ia dibanting dalam sekali ayun hingga tak sadarkan diri. Moncong pistol sekonyong-konyong menempel di pelipisnya.
“Jangan lakukan, bodoh! Kita bisa menjualnya juga!”
Mereka pun mengikat tangan dan kaki Abil, lalu dilemparkan di atas boks-boks berisi puluhan kilo daun marijuana. Kapal pun bergerak ke arah utara, deru ombak memecah di sepanjang Laut Natuna yang ganas. Abil tidak bisa melihat apapun di kegelapan lambung kapal. Ia ingin muntah, tapi tak ada yang bisa dimuntahkan.
Berlalu delapan belas jam, kapal pun merapat ke dermaga. Bendera merah putih berkibar di tiang lampu. Dua orang itu meloncat dari kapal dan segera bertransaksi dengan salah seorang pria gendut berjas hitam lalu menanda tangani beberapa kertas. Pria itu sesaat terkejut melihat Abil terkapar layu di gendongan porter. Namun itu bukan urusannya.
Musim panas tidak membuat harga-harga semakin murah, justru bahan baku ekspor ke luar negeri makin mahal sebab panenan banyak yang kering layu, pergerakan polisi makin masif, ditambah BBM naik. Abil dihargai murah, ditempatkan di lambung kapal yang lebih besar bersama belasan anak perempuan selundupan yang pingsan.
***
Abil hanya diam sepanjang perjalanan, pun waktu mandi, makan, dan diobati awak kapal yang menjaga kualitas barang-barang ‘premium’ ini, ia tidak mampu berkomunikasi dengan sesama orang di kapal. Anak-anak perempuan itu berambut keriting, beberapa pirang dengan warna mata biru dan berbahasa asing.
Mereka tidak saling bercakap, sebab apa yang dikatakan sesama mereka, tak ada yang saling memahami. Tak jarang mereka berkelahi karena salah paham, para petugas melerai mereka.
Di kapal yang tujuannya entah kemana, ia tidak mengenal siapapun, dan akan kemana nasibnya ia tak tahu. Abil hanya ingin pulang.
Tiga hari berlalu.
‘Drrak!’
Ada yang menabrak kapal sehingga nahkoda bermanuver kesana-kemari. Dua kapal loreng berbendera merah putih mengapit kapal penyelundup itu, tali-tali dilemparkan dikait ke sisi sehingga tiga kapal saling merepet satu sama lain.
Para awak kapal berhamburan keluar membawa senjata laras panjang, memuntahkan isi peluru ke dua kapal yang mengeluarkan barisan lelaki berseragam taktis, langsung mengepung dan menyergap para awak kapal sehingga terjadi baku tembak.
Sang kapten kapal pengepung berteriak. “TNI Angkatan Laut telah mengepung kalian. Menyerahlah!”
Para awak kapal berhasil dilumpuhkan, rombongan tentara berseragam taktis serentak menyergap masuk menyisir tiap sudut ruangan. Baku tembak terjadi di lorong, derap langkah mereka sampai di basemen. Tempat Abil dan anak-anak seusianya di sekap.
‘Drakk!’ gembok berhasil dihancurkan. Terlihat anak-anak meringkuk ketakutan di sudut ruangan.
“Lapor, para korban berhasil ditemukan. Evakuasi segera dilakukan!”
Mereka juga berhasil menggeledah puluhan boks berisi marijuana yang akan diselundupkan ke negeri seberang. Tampak para awak kapal meringkuk diborgol.
Anak-anak itu segera lari ke dek untuk menuju ke kapal penyelamat. Namun saat mereka akan menyeberang, tiba-tiba seorang bocah perempuan disambar pria berjas hitam lalu menodongkan pistol ke pelipisnya. Para tentara bersiaga mengepung, pria itu menyeret si bocah ke dalam kapal untuk menjadi sandera, sembari menghubungi mafia pulau seberang meminta bantuan.
“Jangan mendekat! Aku tidak segan-segan membunuh bocah ini!”
Sekilas Abil mengingat pria itu nampak seperti tokoh yang sering muncul di televisi, ia meraba saku celananya, bolpoin itu hilang. Abil seketika meloncat, langsung menyelinap masuk ke dalam kapal.
“Bocah, berhentilah! Disana berbahaya!”
Abil menatap belasan mayat awak kapal dan tentara terkapar di lorong kapal. Darah memenuhi lantai, namun Abil tak merasa takut. Ia telah melihat mayat sebelumnya, dan kehidupan memang sesingkat itu. Ia terpergok pria berjas hitam yang mengempit leher anak perempuan yang menangis itu. Bolpoin biru ada di genggamannya. Pistol tertodong ke dahi Abil.
“Bapak, lepaskan dia”
“Bodoh! Kau pembawa sial!”
Si pria sekonyong-konyong melepaskan dua kali tembakan ke Abil, dia tak sempat menghindar. Tepat saat peluru beberapa senti lagi menyentuh dahinya, tak sengaja si bocah perempuan menekan pangkal bolpoin itu. Angka ‘01’ digital berubah menjadi ‘00’. Waktu berhenti. Kilatan cahaya ujung bolpoin, mengenai barcode di tengkuk Abil secara tak sengaja hingga seluruh badannya bersinar.
‘Zlap’
Peluru mengenai dinding. Abil menghilang dalam satu kedipan mata.
***
Bel pulang sekolah berdentang.
Hari ini senin, saat anak-anak generasi bangsa belajar di pekan pertama. Hal yang paling dikhawatirkan para orang tua adalah ketika anak mereka mengalami hal-hal mengerikan diluar pengawasan. Itulah kenapa para orang tua lekas menjemput anak mereka sepulang sekolah, karena anak belum memahami dunia yang sebenarnya terjadi.
Abil berdiri di tengah halaman. Bendera merah putih berkibar ditiang.
Bolpoinnya hancur, seragam putih merah yang ia kenakan masihlah rapi, tas masih melekat di punggung. Ia menatap langit. Menatap sekolahnya yang penuh lalu lalang para murid. Guru-guru bergegas pulang menuju pantai. Lalu ibunya muncul.
Abil menubruk, memeluknya erat. Menangis.
“Ada apa nak? Apa aku terlambar menjemputmu? Oh maafkan, ada banyak yang harus kulakukan di musim panas ini.. panen hari ini banyak sekali..”
Dia pun pulang bersama ibunya. Sementara dari kejauhan terlihat iring-iringan dua kapal loreng bergerak ke utara menembus ombak Laut China Selatan. Bendera merah putih berkibar di tiang kapal, tanda perjuangan. Bahwa dahulu, ada yang pernah berkorban untuk menyelamatkan orang lain. Ada banyak yang harus dilakukan, untuk menyelamatkan generasi masa depan.
Dan selamanya, ia takkan melupakan semua kejadian itu. Ia harus jadi kuat.
Boyolali, 17 Agustus 2023
(Dari buku 'Mata Berlian' - Karya Khanif Fauzan - 2023)
TAGS: cerpen, musim panas


