SYAAMIL.ID DIBACA SAAT SANTAI
Beranda
Karya ▾
Profil Penulis Dashboard
CERPEN • 30 Sep 2026 • 55x dibaca

Burung yang diwarnai Cat

Apakah membunuh bayi perempuan saat ini disebut sebagai penyakit mental? Tidak, zaman ini, itu adalah hal lumrah yang dilakukan keluarga manapun.

Beijing, 1978
Tentu biasanya pada musim dingin, anak-anak riang berlarian menghindari salju yang membungkus jalanan. Namun, aku tidak menyaksikan pemandangan masa kecil itu disini. Para orang tua urban ketakutan jikalau bertemu rombongan manusia berseragam yang ingin merebut anak mereka. Tapi mereka lebih takut di denda pemerintah, bila ketahuan mempunyai anak perempuan. Akan lebih baik jika akan-anak itu sembunyi di ketiak orang tua mereka, tapi itu jika orang tuanya peduli.
Di perempatan Shuangyushu malam ini, aku menemukan bayi perempuan tengah sekarat.
Orang-orang berkerumun melihat tanpa melakukan apapun! Aku merengsek, seketika menyambar bayi yang tergeletak di aspal bersalju ke dalam pelukanku. Salah seorang wanita tua berkomentar, “Nak, jangan sembarangan mengambil bayi. Dia hanya akan membawa masalah untukmu”
“Maksudmu, membiarkannya sekarat membiru adalah hal yang normal di matamu? Aku manusia, dan takkan kubiarkan ada bayi meninggal di depan mataku!”
Kucoba menelpon William yang barusan kutemui di Zichunli school, ia tak mengangkatnya. Aku meminta tolong pada orang-orang, tak ada yang bersedia memberiku tumpangan ke rumah sakit. Oh, Tuhan! Rumah sakit berjarak lima kilometer ke barat. Untungnya sebuah taksi berhenti ketika melihat tanda dariku.
Sampai di resepsionis rumah sakit, sang perawat menolak.
“Nyonya, kami tidak bisa menangani bayi tanpa identitas sepertinya. Dia perempuan, akan sangat beresiko bagi rumah sakit ini bila menerima pasien bayi yang melanggar aturan pemerintah. Bila kami melanggarnya, para petugas akan menutup tempat ini dengan mudah..”
IGD Dao tengah kosong, dan perawat ini cerewet tentang aturan kaku yang tidak masuk akal. Langsung kukeluarkan kartu namaku.
“Lihat ini!” kartuku hampir menempel di depan matanya. “Namaku Mei, aku seorang wartawan televisi nasional CCTV. Aku bisa membuat rumah sakit ini ditutup dalam waktu dua belas jam dari sekarang, jika kau tak segera membukakan IGD untuk bayi ini. Esok, aku akan siaran, dan bisa kubuka seluruh kebusukan rumah sakit ini ke khalayak umum!”
“Nyonya, tapi... ”
Perawat itu ragu, sejenak ketakutan membayangkan ia akan kehilangan pekerjaan sebab masalah ini. Sosok pria berjas muncul dari IGD, lalu menyentuh pundak sang perawat. Dia pun merasa tenang.
“Dokter, nyonya ini memaksa masuk ke IGD dengan bayi perempuan tanpa identitas. Ini sangat beresiko untuk kita..”
Jam menunjukkan pukul 10 malam. Sang dokter melirik sekitar, memastikan.
“Aku telah mendengar sekilas dari ruang sebelah, ini masalah yang sering kutemui. Kau beruntung, aku tengah ingin berbaik hati. Orang-orang itu tidak akan berpatroli malam ini”
***
Dingin melindap di dinding dan lantai ruang IGD. Bayi itu selesai diinfus. Dokter muda itu cekatan menyuntikkan obat dari kakinya. Lambat laun, wajahnya memerah hangat. Nafasnya kembali stabil.
“Bayi itu hanya kekurangan oksigen. Beruntung, dia tidak mengalami Sianosis. Aku paham dia bukanlah anakmu. Ada banyak pasien yang datang sepertimu, sayang rumah sakit ini tidak cukup besar dibanding panti asuhan Beijing. Kami juga memiliki anak dan istri yang harus kuurus di rumah. Tentu aku tidak ingin para polisi menutup tempat ini, lantaran perbuatan ilegal mengurus nyawa yang tidak berguna...”
“Memang, apa yang selama ini kau lihat? Kau tidak merasakan, betapa sakit tiap kali kusaksikan bayi perempuan selalu dibunuh ketika dia lahir. Entah tiga atau empat kali ibunya melahirkan, dia tidak pernah melihat wajah bayinya sedetikpun! Setiap kali lahiran, para bidan desa telah menyiapkan baskom air untuk melakukan sesuatu pada mereka. Bila yang lahir lelaki, dia akan dicuci bersih dan selamat. Namun, jika yang lahir perempuan... mereka akan langsung menenggelamkannya di baskom!”
Sang dokter mengusap wajahnya.
“Engkau tidak perlu mengulang cerita sehari-hari itu.. aku juga merasa sakit tiap kali kudengar tangis kosong ibu-ibu pasca melahirkan bayi perempuan. Mereka selalu berakhir dengan aborsi, dan itu perlu dilakukan jikalau ingin selamat di negara ini”
***
Namaku Mei, usiaku 35 tahun. Aku wanita, dan aku hidup di era kebijakan satu keluarga satu anak yang diberlakukan oleh pemerintahan sekarang. Satu anak itu harus lelaki, apabila yang lahir perempuan maka keluarga itu tidak berhak mendapatkan pekerjaan di kota. Sedangkan di desa, mereka tidak mendapat bagian tanah untuk digarap. Lelaki akan mewarisi kehormatan, perempuan hanya menjadi beban. Tidak ada kehidupan bagi mereka.
Apakah membunuh bayi perempuan saat ini disebut sebagai penyakit mental? Tidak, zaman ini, itu adalah hal lumrah yang dilakukan keluarga manapun. Kalian akan menemui fenomena bayi perempuan di tinggal di depan pintu panti asuhan setiap hari. Orang-orang asing datang dan mengadopsi anak-anak yang terpilih, sehingga mereka di dandani bak barang dagangan.
Di desa-desa, para bidan membunuh sedikitnya tiga bayi perempuan setiap hari, berdasarkan permintaan keluarga. Sementara para ibu tersiksa seumur hidup berkat tuntutan mereka harus melahirkan bayi laki-laki - bila ingin dianggap sebagai bagian anggota keluarga, para ayah pergi ke kota untuk upah yang sangat kecil.
Sang dokter menatap sejenak bayi yang tertidur pulas itu. “Kau bekerja sebagai wartawan?”
“Sekalgus reporter. Aku mempunyai segmen khusus tentang wanita dan anak-anak dalam siaran di CCTV”
“Kau terlalu naif setelah melihat kejadian sehari-hari ini”
“Kau sebut rasa peduli itu, sesuatu yang naif?”
“Aku juga pernah naif sepertimu, tiga tahun yang lalu” Si dokter menghela nafas. “Senin, di musim dingin Hankou, aku tengah menaiki kereta menuju Beijing untuk mengadu nasib sebagai dokter. Di depanku, duduk sepasang suami istri paruh baya yang membawa anak perempuan mungil kira-kira berusia enam tahunan. Matanya indah, jemarinya lentik. Ia tertidur pulas macam boneka di pelukan ayahnya. Sang ibu tengah hamil tua, kulihat wajahnya sayu.
Kucoba berbasa-basi, dari mana mereka dan mau kemana? Mereka ternyata orang Sichuan yang tinggal di Hankou dua tahun, lalu ingin mengadu nasib di Beijing. Mereka berasal dari kampung terpencil, yang bertekad tidak akan kembali sebelum si istri berhasil melahirkan bayi laki-laki.
“Tidak mudah pergi membawa perempuan hamil dan anak perempuan” ujarku. Sebab jarang sekali hal seperti ini ditemui. Kupuji betapa cantik puteri kecil yang mirip ibunya ini, mereka tersenyum tipis. Kereta lalu berhenti di Stasiun Zhoukou guna membawa penumpang lain jurusan Beijing.
Aku pergi ke toilet sebentar. Sekilas, kulihat si puteri kecil turun gerbong, untuk membeli arum manis keliling. Dia tampak lahap memakannya, di samping lelaki tua penjual arum manis yang sayu itu. Kereta lalu bergerak melaju. Setelah menyelesaikan urusanku dari toilet, akupun kembali duduk. Aku kembali berhadapan dengan sepasang pasangan tua itu. Sejenak, kulihat ada yang kurang. Aneh sekali. “Dimana puteri kecil kalian?”
Sang isteri tampak gelagapan, segera si suami mengelus punggung isteri untuk menenangkannya. Ia menatapku tajam. “Dia tidak ikut lagi dengan kami”
Spontan aku memekik. “Bagaimana bisa kalian tinggalkan dia di stasiun tadi! Sementara kalian tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti...” aku mengusap wajahku, berusaha menahan diri dengan memegangi tiang gerbong. Tangisan si istri pecah, sang suami menyahut, “Dia.. akan dirawat penjual arum manis itu, jangan khawatir..”
“Bagaimana kau yakin dia akan diperlakukan dengan baik oleh lingkungannya? Apa kau mengenal orang itu?”
Sang suami terdiam, menggeleng. Ada ekspresi penyesalan, tapi di mataku mereka tidak lagi manusia. Aku syok, mataku nanar menatap barisan tiang listrik bersicepat sepanjang laju kereta. Lampu-lampu temaram menyala menjelang malam. Perjalanan ke Beijing masih 700 kilometer. Aku berusaha menepis ganjalan itu, namun tak ada yang bisa kulakukan. Setiap menit adalah keheningan yang menikam. Suami istri itu pergi begitu saja sesampainya di Beijing. Nanar mataku menatap lalu lalang lelaki perempuan yang memenuhi stasiun”
Sang dokter menatap jendela.
“Orang-orang tengah sakit, kita pun sakit menyaksikan tragedi ini setiap hari. Kita dipaksa membuang kehidupan seseorang, dan lucunya kita menganggap itu sebuah kebenaran. Betapapun kau menyayangi bayi itu, kau harus menerima kenyataan hari ini. Apa yang akan kaulakukan selanjutnya?”
Salju turun melindap di jendela, menyatu satu sama lain seperti tangisan. Keponakanku William yang barusan kujenguk, adalah lelaki yang sering membantu aborsi para bidan di wilayah Sichuan. Dia tidak tahan, dan memutuskan menjadi cleaning service di sekolah. Melihat anak-anak tumbuh dan bermain, akan seramai apa bilamana bayi-bayi itu riang gembira menikmati kehidupan.
“Aku tinggal berdua dengan anakku Lim di Apartemen Tongzhou. Ia berusia 10 tahun, dan akan menjadi kakak yang baik untuk bayi itu”
Sang dokter tersenyum. “Paling tidak, hari ini aku melihat satu kehidupan berhasil terselamatkan. Aku akan membebaskan setengah biayanya”
Aku mengagguk. “Jangan berhenti menjadi orang baik”
Boyolali, 19 September 2023

Tulisan ini telah menjadi Juara 1 Lomba Cerpen FKM Fair Universitas Andalas Tahun 2023 Tingkat Nasional
(Dari buku : 'Mata Berlian' - 2023 - Karya Khanif Fauzan)
TAGS: cerpen, burung yang diwarnai cat

Lanjut Baca Tulisan Sejenis

Cerpen
Musim Kemarau
Cerpen
Rambut
Cerpen
Sampai Jadi Bintang dimatamu