CERPEN • 03 Oct 2026 • 75x dibaca
Sampai Jadi Bintang dimatamu
Aku mulai tertarik dengan istilah cinta, ketika Rin memberiku bunga di hari ulang tahunku tahun lalu. Aku hanya tersenyum dan berterima kasih. Namun, Rin malah cemberut, menganggapku tidak peka.
APA arti cinta? Yang sering kudengar tentang cinta dari mulut para pelacur itu adalah, ketika seorang lelaki menumpahkan cairan disertai lemparan segepok uang di muka. Suara cinta itu, berwujud gelak tawa beraroma alkohol yang disusul deru nafas lenguhan sapi. Wujud cinta itu, saat mereka secara beringas bergumul di ranjang, hingga dinding papan lapuk sebelahku seolah ingin melumat diriku yang tak kunjung tertidur di ruangan sebelah.
Aku mulai tertarik dengan istilah cinta, ketika Rin memberiku bunga di hari ulang tahunku tahun lalu. Orang-orang kompleks bertepuk tangan, menganggap itu ungkapan cinta seorang remaja ingusan yang akan memadu kasih di masa depan. Aku hanya tersenyum dan berterima kasih. Namun, Rin malah cemberut, menganggapku tidak peka.
Kadang saat losmen ramai dan berisik, aku selalu mengajaknya naik ke bukit untuk melihat bintang-bintang. Kami sering tertidur di bawah kelap-kelip langit malam, ditemani dingin yang menggigit kulit.
***
Sore ini aku menjemput Rin di stasiun kota, menggunakan sepeda onthel. Ia bekerja sebagai penjual bunga, mengabdi pada juragannya, Ibu Santi. Saat sampai, aku melihatnya duduk di bangku kayu, wajahnya masam, bibirnya kaku. Tangannya memeluk keranjang bunga yang setengah layu oleh panas sore.
“Kau terlambat, Ilyas,” suaranya datar. Wajahnya masam.
Aku nyengir, coba redakan amarahnya. “Heh… jangan marah begitu. Sepedaku tadi rantainya copot. Aku beneran sudah ngebut ke sini.”
Rin mendengus, “Aku sudah menunggu satu jam lebih. Kau pikir aku tak punya harga diri duduk sendirian di stasiun, ditatap orang-orang seperti anak yatim piatu yang dibuang?”
“Rin,” ucapku pelan, “kau tahu kan… aku pasti datang. Aku tidak akan meninggalkanmu di sini.”
Ia menoleh ke arahku, matanya berair. “Tapi suatu hari, kau akan meninggalkanku juga. Semua orang pergi, Ilyas. Ayahku, ibuku, bahkan orang-orang di kompleks pun hanya menjadikanku bahan ejekan. Kau… hanya tinggal menunggu giliran.”
Aku menepuk dahi, astaga. Semenjak sebulan lalu ada pembunuhan di losmen sebelah, Rin jadi posesif dan dikit-dikit merajuk. Aku menuntun sepedaku, lalu berdiri tepat di hadapannya. “Tidak. Aku berbeda. Aku selalu menjemputmu bukan karena kasihan. Aku tetap disampingmu.”
Rin tertawa kecil, getir. “Kau bicara seperti pahlawan. Tapi aku tahu, bisa saja kau seperti para lelaki losmen yang pergi begitu saja, tanpa bertanggung jawab.”
Aku menghela nafas panjang, Rin selalu bicara ngasal kalau lagi kesal. Kuraih keranjang bunganya, lalu kuikat di boncengan sepeda. “Ayo pulang. Sebelum kau menusukku hanya karena terlambat satu jam.”
Bibir Rin membulat cemberut, tapi akhirnya naik ke boncengan. Saat aku mengayuh sepeda, lengannya melingkar di pinggangku erat, seolah takut aku hilang sewaktu-waktu.
Peristiwa seorang pelacur yang mati overdosis pil dan lelaki pelanggannya kabur tanpa tanggung jawab, berkali-kali terjadi di sekitarku. Aku tahu, cinta itu sama sekali tidak manis. Ia wujud dari rasa sakit.
***
Kami berdua tidak pernah bersekolah sejak kecil. Aku mengenal huruf dan belajar membaca dari Kak Amel si bunga cantik baik hati, yang kerap menemaniku sembari menunggu pelanggan setiap malam. Ibuku selalu berkata aku beruntung diasuh olehnya. Bahwa aku harus bersyukur banyak anak lain diluar sana yang lahir, justru berakhir di tong sampah atau septic tank.
Ibuku bukan ibu kandungku. Perempuan yang melahirkanku katanya sudah mati dimakan anjing-anjing peliharaan satpam kompleks. Ia meninggal setelah melahirkan, dengan penyesalan karena telah mengandungku tanpa ayah.
Rin sedikit lebih beruntung. Ibunya tidak mati, hanya gila, dan ia masih rutin menjenguknya tiap enam bulan sekali di Rumah Sakit Jiwa kota. Rin lahir di kamar mandi sekolah, tepat sehari setelah ibunya diputus sang pacar. Ibunya bukan pelacur. Ia adalah keponakan mucikari yang mengelola tempat ini. Orang-orang memanggil mucikari itu “Mama.” Rin dipungut dan diasuh oleh mama karena ibunya yang gila, hampir saja menusuknya pakai pisau dapur setelah melahirkan. Sejak itu, Rin tumbuh bersamaku di tempat ini.
Di balik sikap normalnya, Rin mudah sekali merasa sedih. Seringkali, ketika kami bermain bersama, ia tiba-tiba menyiksa diri, halusinasi, trauma, atau sekadar amarah yang tak bisa ia ceritakan. Anak-anak lain di kompleks selalu menjauhinya seakan ia penyakit menular. Ia pun tumbuh dengan kecenderungan melukai dirinya sendiri pakai silet. Aku berkali-kali memeluknya dari belakang, menghentikan tangannya yang gemetar sejak umur sebelas tahun. Tuhan entah bagaimana memberi kami hidup yang panjang hingga kini, usia kami sudah enam belas tahun. Rin bahkan bisa menikmati pekerjaannya sebagai penjual bunga di Stasiun Kota.
Namun kawan, aku tak pernah benar-benar menyalahkan tempatku lahir, meski para pemuka agama menyebut tempat ini sarang setan, di mana alkohol, air kencing setan, mengalir deras memenuhi perut. Aku pernah membaca kutipan filsuf Agustinus dari Hippo di selebaran bungkus bandeng, jika pelacuran ibarat selokan yang menyalurkan air busuk dari kota, agar warga lainnya tetap sehat.
Aku juga pernah mendengar sabda Rasul yang disampaikan seorang pemuka agama, sewaktu menggerebek tempat ini, “tidak ada dosa yang lebih besar, daripada seorang lelaki yang menumpahkan spermanya ke rahim perempuan yang tidak halal baginya!”
Tetapi aku… aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana harus bersikap. Tak ada seorang pun yang datang mengajariku. Orang-orang kampung menjauhiku, menganggap aku dan Rin hasil dari penyakit menjijikkan.
Tapi aku masih punya rasa nyaman. Tiga hari lagi adalah ulang tahun Rin. Aku ingin membalas kebaikannya. Bunga yang diberikannya padaku tahun lalu, dengan sebuah cincin yang sudah kusiapkan. Tapi jangan salah sangka, aku tidak berniat melamarnya seperti di film. Cincin ini hanyalah tanda perpisahan. Karena aku telah memutuskan untuk hidupku, aku perlu belajar sesuatu untuk memperbaiki kehidupan ini. Sebelum aku menapaki perjalanan panjang, aku harus berpisah darinya.
***
Aku tidak tahu, apakah Ali mengasihani aku, atau memang dia melihat sesuatu yang bahkan aku sendiri tak pernah sanggup menyadarinya. Lelaki tua itu menatapku lama, seakan membaca garis hidupku yang kusut.
“Ilyas,” katanya suatu sore sambil menyerahkan kalung itu, “setiap manusia lahir membawa luka. Tapi tak semua diberi kesempatan untuk menjahitnya. Kau diberi kesempatan itu. Jangan sia-siakan.”
Sebulan, kenapa aku terkadang terlambat menjemput Rin adalah, aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Ali si tua yang bijaksana. Untuk belajar tentang agama.
Aku menatap kalung emas dengan satu mutiara yang berkilau samar dalam genggamanku. Rasanya terlalu mewah untuk anak lokalisasi sepertiku, anak tanpa ayah dan ibu.
“Kenapa kau memberiku ini?” tanyaku, suaraku hampir tak terdengar.
Ali tersenyum, wajahnya penuh keriput. Ada cahaya hangat di matanya. “Karena aku ingin kau tahu, ada yang percaya padamu. Kau bukan sekadar darah haram atau anak buangan. Kau bisa memilih jalanmu sendiri.”
Aku terdiam. Kata-katanya seperti air dingin yang disiramkan pada bara. Aku tak tahu harus menjawab apa, hanya bisa menggenggam kalung itu erat-erat.
Di jalan pulang, aku mengayuh sepeda dengan lambat. Angin sore membawa bau amis dari sungai belakang kompleks, bercampur dengan aroma bunga Rin yang masih tersisa di keranjang. Aku berpikir tentang ulang tahunnya yang sebentar lagi. Tentang cincin kecil yang kusembunyikan di bawah bantal.
Ada rasa takut, jika hadiah itu justru akan membuka luka yang lebih besar. Takut Rin akan melihat niatku sebagai olok-olokan. Tapi ada juga harapan kecil, bahwa mungkin kali ini aku bisa membuatnya tersenyum tanpa topeng getir yang selalu ia pakai.
Kalung emas dengan mutiara ini terasa berat di saku bajuku. Seakan itu adalah sebutir mata yang terus mengawasi langkahku, mengingatkan bahwa pilihan-pilihan kecil bisa mengubah segalanya. Aku mendongak. Senja merambat perlahan, bintang-bintang belum muncul.
***
Tiga hari kemudian, aku dan Rin berjalan-jalan di taman kota. Kami menaiki komedi putar, lalu merayakan ulang tahunnya di sebuah kafe dengan minuman beralkohol ringan. Hanya Rin yang meminumnya, sedangkan aku menolak tanpa alasan.
Setelah itu, kami memanjat pagar sebuah wahana taman air, untuk berenang di bawah sinar rembulan yang terang benderang. Tubuh kami basah kuyup, kaus Rin menempel erat di kulitnya. Lalu, kembang api meledak menghiasi langit.
Kami buru-buru mengganti pakaian sebelum seorang petugas memergoki kami. Sembari berboncengan dengan sepeda onthelku, aku membawa Rin ke atas bukit—tempat biasa untuk menatap bintang gemintang.
Di atas bukit, kembang api meletus mekar di gelap malam. Aku mengeluarkan cincin yang terpahat nama ‘Rin’. Matanya berbinar sembab.
“Maaf, hanya ini yang bisa kuberikan.” kuamit tangannya, lalu kupasang pada kelingkingnya yang lentik.
Cincin itu mengkilap di terpa sinar rembulan. Ia usap sudut matanya. “Kejutan yang indah, Ilyas.”
“Tapi, ada yang perlu kau dengar. Aku..”
Ia menatapku. Aku berusaha menguatkan diri.
“Aku ingin kau bersabar, dan menungguku kembali.”
“Kau mau pergi kemana?”
Aku menelan ludah. “Ada kehidupan yang perlu kukejar. Aku.. akan belajar agama.”
“Maksudmu, kau ingin meninggalkanku?”
Aku diam, memalingkan wajah.
“Bagaimana dengan janjimu selama ini, untuk setia bersamaku?”
“Manusia perlu berubah, Rin. Aku tidak ingin kehidupan sama yang menyakitkan setiap hari. Maksudku, kuingin mengubah keadaan kita, dan jika kau tetap setia, kuingin kau menungguku dengan penerimaan yang baik.”
Rin terdiam, wajahnya menegang. Mendengar alasanku ingin meninggalkannya, ia memelukku. “Jangan pergi.”
“Aku tak bisa terus seperti ini, Rin..”
“Jangan pergi!” Sergahnya. Aku mematung. Menggeleng.
“Dengar Rin, pahamilah keadaanku. Kini saatnya kau mandiri, dan tidak melulu bergantung pada siapapun.”
Ia menangis sesenggukan, merasakan dingin yang menyelimuti bahunya. Ia lepas tangannya dari pelukanku. Kutatap matanya yang kosong. Tiba-tiba, kurasakan perih menjalar di dada.
“Rin.. kenapa?”
‘Srat!’
Tanpa ragu, ia tusukkan sebilah belati ke dadaku. Sejenak, letusan kembang api memekakan atmosfer yang hening. Tak sempat ku hindari, ia mencium bibirku yang terbatuk berdarah.
“Aku ingin tahu warna hatimu, Yas!” teriaknya histeris. “Apakah kau benar-benar mencintaiku, atau hatimu dimiliki oleh makhluk lain?”
Darahku mengucur deras. Perlahan pandanganku gelap, mataku memerah diterpa sinar bulan. Rin tak berhenti, ia memelukku yang jatuh terlentang di atas rerumputan. Nafasku tersengal, ia terus menenggelamkan bilah, yang beberapa saat lalu digunakan untuk memotong kue ulang tahunnya.
Aku menjadi persembahan. Korban dari cintanya yang tak rela menerima kenyataan, bahwa aku memilih jalan berbeda.
“Kau sudah mati, Ilyas. Aku tahu kau akan mengatakan itu, semenjak diam-diam kau berada di rumah si tua Ali. Kau sudah dirasuki iblis yang bisa menghancurkan kehidupan kita, dan apa kata mama jikalau kau meninggalkan kita begitu saja? Padahal..” Rin tiba-tiba mencak-mencak memukul dadaku yang tersengal hebat.
“Padahal aku suka padamu, tapi kau tak peka.”
Perlahan, pandangan mataku berkunang-kunang gelap.
***
Menggunakan belati, Rin memotong tubuhku. Ia memisahkan kepalaku dari leher, dan memeluknya erat. Ia tertawa lalu menangis, menyadari jika aku sudah mati.
“Hei, kau akan selalu bersamaku bukan?”
Mataku menatap sinar rembulan yang kasihan, seakan aku ingin menggapainya untuk hidup. Aku masih memiliki mutiara itu, oh iya. Tuhan. Aku bisa berdoa. Memohon, kalau saja aku bisa mengulang kehidupan ini lagi dengan nasib yang lebih baik..
Tiba-tiba, darahku mendidih, mengalir seperti ombak yang dipilin. Urat-urat dan syaraf saling bertaut kembali. Jemariku, kepalaku, dan seluruh tubuhku menyatu perlahan, hingga akhirnya aku berdiri lagi.
Sesaat aku terhuyung. Nafasku berat, seperti ditarik dari dasar lautan.
Dalam kepalaku, berkelebat semua wajah, suara, dan kenangan yang pernah kualami. Rasa sakit itu masih ada, tetapi di baliknya aku merasa asing dengan tubuhku sendiri.
Aku meraih kalung emas yang bersinar di saku, lalu menatap Rin. Tangannya berlumuran darah. Matanya gemetar berair, teriakannya tertahan. Aku ingin marah, ingin merengkuhnya. Tapi yang keluar hanyalah satu kalimat yang terdengar lebih dingin daripada suaraku biasanya:
“Selamat tinggal, Rin.”
Aku berbalik. Rin jatuh berlutut, menangis tersedu-sedu di bawah langit yang masih diterangi kembang api.
Semarang, 2019
(Dari buku : 'Integral' hal 41 - 2026 - Karya Khanif Fauzan)
Aku mulai tertarik dengan istilah cinta, ketika Rin memberiku bunga di hari ulang tahunku tahun lalu. Orang-orang kompleks bertepuk tangan, menganggap itu ungkapan cinta seorang remaja ingusan yang akan memadu kasih di masa depan. Aku hanya tersenyum dan berterima kasih. Namun, Rin malah cemberut, menganggapku tidak peka.
Kadang saat losmen ramai dan berisik, aku selalu mengajaknya naik ke bukit untuk melihat bintang-bintang. Kami sering tertidur di bawah kelap-kelip langit malam, ditemani dingin yang menggigit kulit.
***
Sore ini aku menjemput Rin di stasiun kota, menggunakan sepeda onthel. Ia bekerja sebagai penjual bunga, mengabdi pada juragannya, Ibu Santi. Saat sampai, aku melihatnya duduk di bangku kayu, wajahnya masam, bibirnya kaku. Tangannya memeluk keranjang bunga yang setengah layu oleh panas sore.
“Kau terlambat, Ilyas,” suaranya datar. Wajahnya masam.
Aku nyengir, coba redakan amarahnya. “Heh… jangan marah begitu. Sepedaku tadi rantainya copot. Aku beneran sudah ngebut ke sini.”
Rin mendengus, “Aku sudah menunggu satu jam lebih. Kau pikir aku tak punya harga diri duduk sendirian di stasiun, ditatap orang-orang seperti anak yatim piatu yang dibuang?”
“Rin,” ucapku pelan, “kau tahu kan… aku pasti datang. Aku tidak akan meninggalkanmu di sini.”
Ia menoleh ke arahku, matanya berair. “Tapi suatu hari, kau akan meninggalkanku juga. Semua orang pergi, Ilyas. Ayahku, ibuku, bahkan orang-orang di kompleks pun hanya menjadikanku bahan ejekan. Kau… hanya tinggal menunggu giliran.”
Aku menepuk dahi, astaga. Semenjak sebulan lalu ada pembunuhan di losmen sebelah, Rin jadi posesif dan dikit-dikit merajuk. Aku menuntun sepedaku, lalu berdiri tepat di hadapannya. “Tidak. Aku berbeda. Aku selalu menjemputmu bukan karena kasihan. Aku tetap disampingmu.”
Rin tertawa kecil, getir. “Kau bicara seperti pahlawan. Tapi aku tahu, bisa saja kau seperti para lelaki losmen yang pergi begitu saja, tanpa bertanggung jawab.”
Aku menghela nafas panjang, Rin selalu bicara ngasal kalau lagi kesal. Kuraih keranjang bunganya, lalu kuikat di boncengan sepeda. “Ayo pulang. Sebelum kau menusukku hanya karena terlambat satu jam.”
Bibir Rin membulat cemberut, tapi akhirnya naik ke boncengan. Saat aku mengayuh sepeda, lengannya melingkar di pinggangku erat, seolah takut aku hilang sewaktu-waktu.
Peristiwa seorang pelacur yang mati overdosis pil dan lelaki pelanggannya kabur tanpa tanggung jawab, berkali-kali terjadi di sekitarku. Aku tahu, cinta itu sama sekali tidak manis. Ia wujud dari rasa sakit.
***
Kami berdua tidak pernah bersekolah sejak kecil. Aku mengenal huruf dan belajar membaca dari Kak Amel si bunga cantik baik hati, yang kerap menemaniku sembari menunggu pelanggan setiap malam. Ibuku selalu berkata aku beruntung diasuh olehnya. Bahwa aku harus bersyukur banyak anak lain diluar sana yang lahir, justru berakhir di tong sampah atau septic tank.
Ibuku bukan ibu kandungku. Perempuan yang melahirkanku katanya sudah mati dimakan anjing-anjing peliharaan satpam kompleks. Ia meninggal setelah melahirkan, dengan penyesalan karena telah mengandungku tanpa ayah.
Rin sedikit lebih beruntung. Ibunya tidak mati, hanya gila, dan ia masih rutin menjenguknya tiap enam bulan sekali di Rumah Sakit Jiwa kota. Rin lahir di kamar mandi sekolah, tepat sehari setelah ibunya diputus sang pacar. Ibunya bukan pelacur. Ia adalah keponakan mucikari yang mengelola tempat ini. Orang-orang memanggil mucikari itu “Mama.” Rin dipungut dan diasuh oleh mama karena ibunya yang gila, hampir saja menusuknya pakai pisau dapur setelah melahirkan. Sejak itu, Rin tumbuh bersamaku di tempat ini.
Di balik sikap normalnya, Rin mudah sekali merasa sedih. Seringkali, ketika kami bermain bersama, ia tiba-tiba menyiksa diri, halusinasi, trauma, atau sekadar amarah yang tak bisa ia ceritakan. Anak-anak lain di kompleks selalu menjauhinya seakan ia penyakit menular. Ia pun tumbuh dengan kecenderungan melukai dirinya sendiri pakai silet. Aku berkali-kali memeluknya dari belakang, menghentikan tangannya yang gemetar sejak umur sebelas tahun. Tuhan entah bagaimana memberi kami hidup yang panjang hingga kini, usia kami sudah enam belas tahun. Rin bahkan bisa menikmati pekerjaannya sebagai penjual bunga di Stasiun Kota.
Namun kawan, aku tak pernah benar-benar menyalahkan tempatku lahir, meski para pemuka agama menyebut tempat ini sarang setan, di mana alkohol, air kencing setan, mengalir deras memenuhi perut. Aku pernah membaca kutipan filsuf Agustinus dari Hippo di selebaran bungkus bandeng, jika pelacuran ibarat selokan yang menyalurkan air busuk dari kota, agar warga lainnya tetap sehat.
Aku juga pernah mendengar sabda Rasul yang disampaikan seorang pemuka agama, sewaktu menggerebek tempat ini, “tidak ada dosa yang lebih besar, daripada seorang lelaki yang menumpahkan spermanya ke rahim perempuan yang tidak halal baginya!”
Tetapi aku… aku tidak pernah benar-benar tahu bagaimana harus bersikap. Tak ada seorang pun yang datang mengajariku. Orang-orang kampung menjauhiku, menganggap aku dan Rin hasil dari penyakit menjijikkan.
Tapi aku masih punya rasa nyaman. Tiga hari lagi adalah ulang tahun Rin. Aku ingin membalas kebaikannya. Bunga yang diberikannya padaku tahun lalu, dengan sebuah cincin yang sudah kusiapkan. Tapi jangan salah sangka, aku tidak berniat melamarnya seperti di film. Cincin ini hanyalah tanda perpisahan. Karena aku telah memutuskan untuk hidupku, aku perlu belajar sesuatu untuk memperbaiki kehidupan ini. Sebelum aku menapaki perjalanan panjang, aku harus berpisah darinya.
***
Aku tidak tahu, apakah Ali mengasihani aku, atau memang dia melihat sesuatu yang bahkan aku sendiri tak pernah sanggup menyadarinya. Lelaki tua itu menatapku lama, seakan membaca garis hidupku yang kusut.
“Ilyas,” katanya suatu sore sambil menyerahkan kalung itu, “setiap manusia lahir membawa luka. Tapi tak semua diberi kesempatan untuk menjahitnya. Kau diberi kesempatan itu. Jangan sia-siakan.”
Sebulan, kenapa aku terkadang terlambat menjemput Rin adalah, aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Ali si tua yang bijaksana. Untuk belajar tentang agama.
Aku menatap kalung emas dengan satu mutiara yang berkilau samar dalam genggamanku. Rasanya terlalu mewah untuk anak lokalisasi sepertiku, anak tanpa ayah dan ibu.
“Kenapa kau memberiku ini?” tanyaku, suaraku hampir tak terdengar.
Ali tersenyum, wajahnya penuh keriput. Ada cahaya hangat di matanya. “Karena aku ingin kau tahu, ada yang percaya padamu. Kau bukan sekadar darah haram atau anak buangan. Kau bisa memilih jalanmu sendiri.”
Aku terdiam. Kata-katanya seperti air dingin yang disiramkan pada bara. Aku tak tahu harus menjawab apa, hanya bisa menggenggam kalung itu erat-erat.
Di jalan pulang, aku mengayuh sepeda dengan lambat. Angin sore membawa bau amis dari sungai belakang kompleks, bercampur dengan aroma bunga Rin yang masih tersisa di keranjang. Aku berpikir tentang ulang tahunnya yang sebentar lagi. Tentang cincin kecil yang kusembunyikan di bawah bantal.
Ada rasa takut, jika hadiah itu justru akan membuka luka yang lebih besar. Takut Rin akan melihat niatku sebagai olok-olokan. Tapi ada juga harapan kecil, bahwa mungkin kali ini aku bisa membuatnya tersenyum tanpa topeng getir yang selalu ia pakai.
Kalung emas dengan mutiara ini terasa berat di saku bajuku. Seakan itu adalah sebutir mata yang terus mengawasi langkahku, mengingatkan bahwa pilihan-pilihan kecil bisa mengubah segalanya. Aku mendongak. Senja merambat perlahan, bintang-bintang belum muncul.
***
Tiga hari kemudian, aku dan Rin berjalan-jalan di taman kota. Kami menaiki komedi putar, lalu merayakan ulang tahunnya di sebuah kafe dengan minuman beralkohol ringan. Hanya Rin yang meminumnya, sedangkan aku menolak tanpa alasan.
Setelah itu, kami memanjat pagar sebuah wahana taman air, untuk berenang di bawah sinar rembulan yang terang benderang. Tubuh kami basah kuyup, kaus Rin menempel erat di kulitnya. Lalu, kembang api meledak menghiasi langit.
Kami buru-buru mengganti pakaian sebelum seorang petugas memergoki kami. Sembari berboncengan dengan sepeda onthelku, aku membawa Rin ke atas bukit—tempat biasa untuk menatap bintang gemintang.
Di atas bukit, kembang api meletus mekar di gelap malam. Aku mengeluarkan cincin yang terpahat nama ‘Rin’. Matanya berbinar sembab.
“Maaf, hanya ini yang bisa kuberikan.” kuamit tangannya, lalu kupasang pada kelingkingnya yang lentik.
Cincin itu mengkilap di terpa sinar rembulan. Ia usap sudut matanya. “Kejutan yang indah, Ilyas.”
“Tapi, ada yang perlu kau dengar. Aku..”
Ia menatapku. Aku berusaha menguatkan diri.
“Aku ingin kau bersabar, dan menungguku kembali.”
“Kau mau pergi kemana?”
Aku menelan ludah. “Ada kehidupan yang perlu kukejar. Aku.. akan belajar agama.”
“Maksudmu, kau ingin meninggalkanku?”
Aku diam, memalingkan wajah.
“Bagaimana dengan janjimu selama ini, untuk setia bersamaku?”
“Manusia perlu berubah, Rin. Aku tidak ingin kehidupan sama yang menyakitkan setiap hari. Maksudku, kuingin mengubah keadaan kita, dan jika kau tetap setia, kuingin kau menungguku dengan penerimaan yang baik.”
Rin terdiam, wajahnya menegang. Mendengar alasanku ingin meninggalkannya, ia memelukku. “Jangan pergi.”
“Aku tak bisa terus seperti ini, Rin..”
“Jangan pergi!” Sergahnya. Aku mematung. Menggeleng.
“Dengar Rin, pahamilah keadaanku. Kini saatnya kau mandiri, dan tidak melulu bergantung pada siapapun.”
Ia menangis sesenggukan, merasakan dingin yang menyelimuti bahunya. Ia lepas tangannya dari pelukanku. Kutatap matanya yang kosong. Tiba-tiba, kurasakan perih menjalar di dada.
“Rin.. kenapa?”
‘Srat!’
Tanpa ragu, ia tusukkan sebilah belati ke dadaku. Sejenak, letusan kembang api memekakan atmosfer yang hening. Tak sempat ku hindari, ia mencium bibirku yang terbatuk berdarah.
“Aku ingin tahu warna hatimu, Yas!” teriaknya histeris. “Apakah kau benar-benar mencintaiku, atau hatimu dimiliki oleh makhluk lain?”
Darahku mengucur deras. Perlahan pandanganku gelap, mataku memerah diterpa sinar bulan. Rin tak berhenti, ia memelukku yang jatuh terlentang di atas rerumputan. Nafasku tersengal, ia terus menenggelamkan bilah, yang beberapa saat lalu digunakan untuk memotong kue ulang tahunnya.
Aku menjadi persembahan. Korban dari cintanya yang tak rela menerima kenyataan, bahwa aku memilih jalan berbeda.
“Kau sudah mati, Ilyas. Aku tahu kau akan mengatakan itu, semenjak diam-diam kau berada di rumah si tua Ali. Kau sudah dirasuki iblis yang bisa menghancurkan kehidupan kita, dan apa kata mama jikalau kau meninggalkan kita begitu saja? Padahal..” Rin tiba-tiba mencak-mencak memukul dadaku yang tersengal hebat.
“Padahal aku suka padamu, tapi kau tak peka.”
Perlahan, pandangan mataku berkunang-kunang gelap.
***
Menggunakan belati, Rin memotong tubuhku. Ia memisahkan kepalaku dari leher, dan memeluknya erat. Ia tertawa lalu menangis, menyadari jika aku sudah mati.
“Hei, kau akan selalu bersamaku bukan?”
Mataku menatap sinar rembulan yang kasihan, seakan aku ingin menggapainya untuk hidup. Aku masih memiliki mutiara itu, oh iya. Tuhan. Aku bisa berdoa. Memohon, kalau saja aku bisa mengulang kehidupan ini lagi dengan nasib yang lebih baik..
Tiba-tiba, darahku mendidih, mengalir seperti ombak yang dipilin. Urat-urat dan syaraf saling bertaut kembali. Jemariku, kepalaku, dan seluruh tubuhku menyatu perlahan, hingga akhirnya aku berdiri lagi.
Sesaat aku terhuyung. Nafasku berat, seperti ditarik dari dasar lautan.
Dalam kepalaku, berkelebat semua wajah, suara, dan kenangan yang pernah kualami. Rasa sakit itu masih ada, tetapi di baliknya aku merasa asing dengan tubuhku sendiri.
Aku meraih kalung emas yang bersinar di saku, lalu menatap Rin. Tangannya berlumuran darah. Matanya gemetar berair, teriakannya tertahan. Aku ingin marah, ingin merengkuhnya. Tapi yang keluar hanyalah satu kalimat yang terdengar lebih dingin daripada suaraku biasanya:
“Selamat tinggal, Rin.”
Aku berbalik. Rin jatuh berlutut, menangis tersedu-sedu di bawah langit yang masih diterangi kembang api.
Semarang, 2019
(Dari buku : 'Integral' hal 41 - 2026 - Karya Khanif Fauzan)
TAGS: cerpen, abnormal love pain


