CERPEN • 30 Sep 2026 • 93x dibaca
Menghilanglah dibalik Sang Surya
Tak boleh lagi kematian di depan mata, cukup sudah ia lewati dunia yang penuh kebusukan. Berteriaklah di antara guyuran hujan, "Jika kau benar ada, Tuhan! Selamatkanlah dia! Aku tak punya apa-apa lagi, dunia telah meninggalkanku. Kalau perlu, tukarkan saja nyawanya dengan nyawaku!"
Matahari turun perlahan dari balik bukit, segera tergantikan senja yang perlahan menghembuskan pekat hitam aroma malam Beit Lahiya, menembus batang-batang ilalang reruntuhan, menggiring angin tuk mengabarkan akan datangnya sang rembulan. Awan berarak menyatu, menaungi satu jiwa yang memandangi langit.
Rintik gerimis turun. Langit mulai memainkan melodinya.
la menatap butiran air yang mengalir pelan di wajahnya. Ia tak punya siapa-siapa lagi. Kakinya membawanya melewati gang demi gang rubuh, lorong demi lorong, berada dalam kegelapan yang perlahan menyeretnya lebih jauh dalam keputusasaan. Apa itu kedamaian?
Ia rebah di bawah atap reruntuhan. Busuk aroma sampah menguar. Jiwanya kosong, serupa taman yang dilingkupi hantu-hantu berterbangan. Sebusuk itulah ia bersiap lenyap. Ia lebih suka kematian menjemputnya, dari pada menanggung sejuta penderitaan, lebih lama lagi.
“Hiiss... hikss...”
Suara siapa?
Samar-samar suara gemeletuk gigi dan napas yang memburu terasa dekat. Matanya terjaga. Ia celingukan. Hujan turun makin deras. Sesenggukan itu menyayat hatinya.
la obrak-abrik tumpukan sampah, kaleng-kaleng jatuh berkelontangan. Sepasang kaki mungil menyembul dalam selimut kain buruk yang basah. Putih kebiruan warnanya, mati rasa. Seketika tangannya menyibak kain itu. Terlihat sosok kecil nan lemah kedinginan. Tetes hujan mengalir dari mata lecinya yang mengerjab-kerjab, melewati pipinya yang tembem kemerahan. Mata itu membulat sayu seperti kucing, menatapnya takut- takut.
Sejuta tanda tanya muncul, mengapa anak kecil berada di reruntuhan ini? Perempuan lagi. Dua telapak tangan ia sentuhkan ke dahinya, lalu memutar hingga ke pipi dan lehernya. Panas sekali. Bibir si anak perlahan memutih.
Ia peras kain buruk yang menutupi anak itu, ia selimutkan lagi di punggungnya. Tangannya merogoh rogoh rompi empat saku, mungkin ada sesuatu. Ah, sekerat roti selai kacang.
Ia lepas rompinya, lalu ia peluk anak itu. Dalam kehangatan ia suapi anak itu perlahan-lahan. Tetes hujan bercampur debu ia kumpulkan menggunakan kaleng, ia minumkan. Betapa lemahnya tubuh mungil ini. Mata leci itu terkantuk-kantuk, belum juga tiga suapan ditelannya. Demamnya makin tinggi, anak itu tertunduk lemas. Pingsan.
Segera di angkatnya anak itu ke punggung. Desau angin kencang menderu, sekitarnya memutih pekat. Ia berlari, mengabaikan keputusasaan yang berusaha menyeretnya. Tak boleh lagi kematian di depan mata, cukup sudah ia lewati dunia yang penuh kebusukan.
Berteriaklah di antara guyuran hujan,
"Jika kau benar ada, Tuhan! Selamatkanlah dia! Aku tak punya apa-apa lagi, dunia telah meninggalkanku. Kalau perlu, tukarkan saja nyawanya dengan nyawaku!"
Di name tag rompi tertulis nama Fahri, seorang gembong narkoba Indonesia yang kemarin beroperasi di Distrik Ashkelon. Ia tengah kabur dari kejaran militer Israel yang tengah menggempur Distrik Beit Lahiya, lebih dari sepuluh rekannya habis dibantai ditengah transaksi. Tak ada jaminan keselamatan. Pun, ia tengah di negeri asing, ditengah suasana perang yang asing.
Pintu-pintu langit terbuka, tiap tetesnya mengandung berkah dari Tuhan. Melingkupi seluruh alam, bersatu dengan dzikir pepohonan, dan dendang tasbih rumput ilalang. Dengan cahaya-Nya, terbukalah hati yang membatu dalam dadanya. Meruntuhkan keputusasaan, perlahan mengisi kekosongan dari taman yang meranggas. la tak tahu, akan malaikat yang menyiramkan air suci, sehingga menumbuhkan benih-benih kehidupan.
Alam pun tersenyum, melihat seorang hamba yang dikehendaki-Nya, tengah melihat kedamaian yang nyata.
***
Indonesian Hospital penuh sesak orang-orang yang membawa korban ke IGD, aroma panas menguar, diantara aroma karbol bercampur darah dan pekik histeris anak-anak yang ditinggal mati orang tuanya akibat ledakan. Fahri si gembong narkoba yang ditemukan pingsan bersama seorang anak kecil, segera dilarikan ke IGD oleh para relawan. Untung, nyawanya terselamatkan.
“Arrgh!” Fahri terbangun.
“Kau sudah sadar? Siapa namamu?”
Seorang perawat perempuan berompi relawan tengah membebat luka di kakinya. Celingukan, ia berada di dalam ruang kaca, yang riuh orang-orang diluar menyeruak. Ia mencengkeram kepalanya yang pening, fakta bahwa nyawanya terselamatkan merupakan sebuah keajaiban.
“Fahri”
“Dari mana asalmu?”
Ia menggeleng. “Dimana anak kecil itu?”
Sang perawat menunjuk samping, ia melihat sosok anak kecil yang tengah kritis dibekap selang oksigen. “Dia perlu beberapa waktu hingga siuman. Beruntung, hanya mengalami sesak nafas dan malnutrisi ringan. Anak-anak korban perang yang lain terkena radiasi ledakan, mereka cacat seumur hidup... Kulihat wajahmu bukan orang Gaza. Apa kau dari Indonesia?”
Ingatan sebelumnya mulai mengalir di benak Fahri, mengapa dia bisa sampai kemari? Ia orang Aceh yang turun-temurun menanam tujuh hektar ganja di ladang, lalu orang-orang kulit putih Amerika turun dari helikopter di depan gubuk, memborong semua panenan. Setiap tiga bulan kapal kontainer itu mengirimnya ke perbatasan Myanmar, dan Fahri yang pandai bertani direkrut untuk menanamnya ke Ashkelon.
Setelah ia membunuh orang tuanya, agar ia bisa menjual seluruh tanah ke real estate.
“Kau tinggal dimana?”
Fahri tidak menjawab, kelebat ingatan ketika para teroris membajak pesawat muncul, ia tengah di sandera yang ternyata semua skenario itu rekaan untuk mendapatkan password rekeningnya. Ia dan para rekannya seketika menjadi budak pengedar di Tel Aviv, berpura-pura menjadi relawan Indonesia yang masuk ke Suriah untuk mengedarkan narkoba. Dan ketika sampai Ashkelon transaksi dengan mafia, seluruh rekannya di bunuh tanpa sebab. Ia kabur sendirian, ditengah kejaran militer yang mengoperasikan misil dan tank artileri ke perbatasan Gaza.
Untuk bertahan hidup, Fahri harus menyembunyikan identitasnya. Apalagi, Tuhan telah memberinya satu kesempatan lagi.
Fahri mencabut infus di lengannya secara paksa, sang perawat berusaha mencegah. Namun, Fahri menghalangi. “Kelihatannya aku ingin menjadi relawan sepertimu, dan aku.. aku ingin kehidupan itu tetap ada. Apa yang bisa kulakukan?”
Sang perawat tidak bertanya lagi, dan mengemasi selang infus.
***
Kaki mungil itu tersaruk-saruk lewati jalanan berkerikil. Bebatuan di sepanjang jalan tak menghalanginya berjalan lewati gang demi gang. Berbekal tekad, berloncatanlah ia di antara reruntuhan apartemen. Udara panas mengeringkan kulit gadis cilik bernama Aini. Usianya sekitar tujuh tahun. Kukunya putih kecokelatan dekil. Dia telah pulih sepekan lalu semenjak Fahri menyelamatkannya di reruntuhan. Tidak ada identitas orang tua, satu pun tidak ada yang mengenalnya.
"Shalallahu ‘ala muhammaaad....shallallahu ‘alaihi wassalam.. Shalallahu 'ala muhammaaad....shallallahu ‘alaihi wasaaalaam "
Bibir mungil Aini tak henti-henti lantunkan tembang mahalul qiyam. Ia sangat mencintai Rasulullah, idolanya. Itulah obat hati termanis. Rasul kan mencintai anak yatim? Walau tercatat yatim piatu, ia gembira sebab akan memiliki teman-teman baru seumuran.
"Ups.. aduh!" Kakinya terantuk batu, untung tidak jatuh. "Hampir saja Aini jatuh ih...sedikit lagi... semangat..."
Jarak masjid hanya tinggal beberapa meter lagi. Wah, ternyata halaqoh Ustadz Hamid dari Indonesia sudah dimulai! Tergesa-gesa dia berlari menuju masjid. "Ustadz Hamiid..!!" Pekiknya riang sembari melambaikan tangannya kencang-kencang. Ustadz Hamid sempat menjenguknya di IGD kemarin. Ia gembira. Senyum mengembang di wajahnya.
Ustadz muda itu balas melambaikan tangannya.“Eh, Aini anakku, masuk-masuk! Halaqoh mau segera dimulai, ayoo!"
Aini berlari, sejenak lupa akan kesedihannya. Ia begitu gembira. Teman-temannnya yang riuh menunggunya di dalam, juga melambaikan tangan. Para calon penghafal Qur’an. Pemandangan yang sangat indah. Penuh keceriaan dan senyuman.
"Teman-teman...!"
'BUUM!!!'
Terngiang bunyi yang memekakan telinga. Sesaat tuli. Pandangannya kabur. Aini terpana menatap semburat api meluncur dari langit, menghancurleburkan masjid. ia terpental bepuluh-puluh meter jauhnya, terhujani pasir dan bebatuan. Asap membumbung bagai jamur Senyumnya menghilang. Tatapannya kosong.
Fahri yang mendengar letusan itu histeris, segera berlari meraih tubuh Aini yang terkulai lemah diantara kepulan asap dan puing-puing bangunan.
Bom kluster telah dijatuhkan sepuluh kilometer yang dari atap masjid tiga lantai, bukti akan kezaliman yang begitu kejam. Akan pena takdir yang begitu pedih menorehkan luka di hati. Sirine meraung-raung. Pekik takbir bersahut-sahutan menyesakkan dada. Para manusia berkerumun bagai semut-demi mereka yang selalu menerima akan kehilangan. Tiga puluh anak dan dua ustadz syahid di Masjid Beit Lahiya sore ini, menambah daftar catatan langit.
Seorang wanita paruh baya mendekat diantara korban yang dibawa para petugas medis. Ia menangis. Ia tersenyum. Ia bersimpuh di antara reruntuhan masjid. Ia memekik dalam nyanyian sendu, akan rahmat Tuhan yang bersinar di tengah badai eligi.
"Berilah selamat! Berilah selamat kepadaku hai para manusia, sebab sekarang kupunya lima syahid di rumahku!"
Fahri pun belajar akan makna kedamaian.
Semarang, 02 Mei 2018
(Dari buku : 'Mata Berlian' - 2023 - Karya Khanif Fauzan)
Rintik gerimis turun. Langit mulai memainkan melodinya.
la menatap butiran air yang mengalir pelan di wajahnya. Ia tak punya siapa-siapa lagi. Kakinya membawanya melewati gang demi gang rubuh, lorong demi lorong, berada dalam kegelapan yang perlahan menyeretnya lebih jauh dalam keputusasaan. Apa itu kedamaian?
Ia rebah di bawah atap reruntuhan. Busuk aroma sampah menguar. Jiwanya kosong, serupa taman yang dilingkupi hantu-hantu berterbangan. Sebusuk itulah ia bersiap lenyap. Ia lebih suka kematian menjemputnya, dari pada menanggung sejuta penderitaan, lebih lama lagi.
“Hiiss... hikss...”
Suara siapa?
Samar-samar suara gemeletuk gigi dan napas yang memburu terasa dekat. Matanya terjaga. Ia celingukan. Hujan turun makin deras. Sesenggukan itu menyayat hatinya.
la obrak-abrik tumpukan sampah, kaleng-kaleng jatuh berkelontangan. Sepasang kaki mungil menyembul dalam selimut kain buruk yang basah. Putih kebiruan warnanya, mati rasa. Seketika tangannya menyibak kain itu. Terlihat sosok kecil nan lemah kedinginan. Tetes hujan mengalir dari mata lecinya yang mengerjab-kerjab, melewati pipinya yang tembem kemerahan. Mata itu membulat sayu seperti kucing, menatapnya takut- takut.
Sejuta tanda tanya muncul, mengapa anak kecil berada di reruntuhan ini? Perempuan lagi. Dua telapak tangan ia sentuhkan ke dahinya, lalu memutar hingga ke pipi dan lehernya. Panas sekali. Bibir si anak perlahan memutih.
Ia peras kain buruk yang menutupi anak itu, ia selimutkan lagi di punggungnya. Tangannya merogoh rogoh rompi empat saku, mungkin ada sesuatu. Ah, sekerat roti selai kacang.
Ia lepas rompinya, lalu ia peluk anak itu. Dalam kehangatan ia suapi anak itu perlahan-lahan. Tetes hujan bercampur debu ia kumpulkan menggunakan kaleng, ia minumkan. Betapa lemahnya tubuh mungil ini. Mata leci itu terkantuk-kantuk, belum juga tiga suapan ditelannya. Demamnya makin tinggi, anak itu tertunduk lemas. Pingsan.
Segera di angkatnya anak itu ke punggung. Desau angin kencang menderu, sekitarnya memutih pekat. Ia berlari, mengabaikan keputusasaan yang berusaha menyeretnya. Tak boleh lagi kematian di depan mata, cukup sudah ia lewati dunia yang penuh kebusukan.
Berteriaklah di antara guyuran hujan,
"Jika kau benar ada, Tuhan! Selamatkanlah dia! Aku tak punya apa-apa lagi, dunia telah meninggalkanku. Kalau perlu, tukarkan saja nyawanya dengan nyawaku!"
Di name tag rompi tertulis nama Fahri, seorang gembong narkoba Indonesia yang kemarin beroperasi di Distrik Ashkelon. Ia tengah kabur dari kejaran militer Israel yang tengah menggempur Distrik Beit Lahiya, lebih dari sepuluh rekannya habis dibantai ditengah transaksi. Tak ada jaminan keselamatan. Pun, ia tengah di negeri asing, ditengah suasana perang yang asing.
Pintu-pintu langit terbuka, tiap tetesnya mengandung berkah dari Tuhan. Melingkupi seluruh alam, bersatu dengan dzikir pepohonan, dan dendang tasbih rumput ilalang. Dengan cahaya-Nya, terbukalah hati yang membatu dalam dadanya. Meruntuhkan keputusasaan, perlahan mengisi kekosongan dari taman yang meranggas. la tak tahu, akan malaikat yang menyiramkan air suci, sehingga menumbuhkan benih-benih kehidupan.
Alam pun tersenyum, melihat seorang hamba yang dikehendaki-Nya, tengah melihat kedamaian yang nyata.
***
Indonesian Hospital penuh sesak orang-orang yang membawa korban ke IGD, aroma panas menguar, diantara aroma karbol bercampur darah dan pekik histeris anak-anak yang ditinggal mati orang tuanya akibat ledakan. Fahri si gembong narkoba yang ditemukan pingsan bersama seorang anak kecil, segera dilarikan ke IGD oleh para relawan. Untung, nyawanya terselamatkan.
“Arrgh!” Fahri terbangun.
“Kau sudah sadar? Siapa namamu?”
Seorang perawat perempuan berompi relawan tengah membebat luka di kakinya. Celingukan, ia berada di dalam ruang kaca, yang riuh orang-orang diluar menyeruak. Ia mencengkeram kepalanya yang pening, fakta bahwa nyawanya terselamatkan merupakan sebuah keajaiban.
“Fahri”
“Dari mana asalmu?”
Ia menggeleng. “Dimana anak kecil itu?”
Sang perawat menunjuk samping, ia melihat sosok anak kecil yang tengah kritis dibekap selang oksigen. “Dia perlu beberapa waktu hingga siuman. Beruntung, hanya mengalami sesak nafas dan malnutrisi ringan. Anak-anak korban perang yang lain terkena radiasi ledakan, mereka cacat seumur hidup... Kulihat wajahmu bukan orang Gaza. Apa kau dari Indonesia?”
Ingatan sebelumnya mulai mengalir di benak Fahri, mengapa dia bisa sampai kemari? Ia orang Aceh yang turun-temurun menanam tujuh hektar ganja di ladang, lalu orang-orang kulit putih Amerika turun dari helikopter di depan gubuk, memborong semua panenan. Setiap tiga bulan kapal kontainer itu mengirimnya ke perbatasan Myanmar, dan Fahri yang pandai bertani direkrut untuk menanamnya ke Ashkelon.
Setelah ia membunuh orang tuanya, agar ia bisa menjual seluruh tanah ke real estate.
“Kau tinggal dimana?”
Fahri tidak menjawab, kelebat ingatan ketika para teroris membajak pesawat muncul, ia tengah di sandera yang ternyata semua skenario itu rekaan untuk mendapatkan password rekeningnya. Ia dan para rekannya seketika menjadi budak pengedar di Tel Aviv, berpura-pura menjadi relawan Indonesia yang masuk ke Suriah untuk mengedarkan narkoba. Dan ketika sampai Ashkelon transaksi dengan mafia, seluruh rekannya di bunuh tanpa sebab. Ia kabur sendirian, ditengah kejaran militer yang mengoperasikan misil dan tank artileri ke perbatasan Gaza.
Untuk bertahan hidup, Fahri harus menyembunyikan identitasnya. Apalagi, Tuhan telah memberinya satu kesempatan lagi.
Fahri mencabut infus di lengannya secara paksa, sang perawat berusaha mencegah. Namun, Fahri menghalangi. “Kelihatannya aku ingin menjadi relawan sepertimu, dan aku.. aku ingin kehidupan itu tetap ada. Apa yang bisa kulakukan?”
Sang perawat tidak bertanya lagi, dan mengemasi selang infus.
***
Kaki mungil itu tersaruk-saruk lewati jalanan berkerikil. Bebatuan di sepanjang jalan tak menghalanginya berjalan lewati gang demi gang. Berbekal tekad, berloncatanlah ia di antara reruntuhan apartemen. Udara panas mengeringkan kulit gadis cilik bernama Aini. Usianya sekitar tujuh tahun. Kukunya putih kecokelatan dekil. Dia telah pulih sepekan lalu semenjak Fahri menyelamatkannya di reruntuhan. Tidak ada identitas orang tua, satu pun tidak ada yang mengenalnya.
"Shalallahu ‘ala muhammaaad....shallallahu ‘alaihi wassalam.. Shalallahu 'ala muhammaaad....shallallahu ‘alaihi wasaaalaam "
Bibir mungil Aini tak henti-henti lantunkan tembang mahalul qiyam. Ia sangat mencintai Rasulullah, idolanya. Itulah obat hati termanis. Rasul kan mencintai anak yatim? Walau tercatat yatim piatu, ia gembira sebab akan memiliki teman-teman baru seumuran.
"Ups.. aduh!" Kakinya terantuk batu, untung tidak jatuh. "Hampir saja Aini jatuh ih...sedikit lagi... semangat..."
Jarak masjid hanya tinggal beberapa meter lagi. Wah, ternyata halaqoh Ustadz Hamid dari Indonesia sudah dimulai! Tergesa-gesa dia berlari menuju masjid. "Ustadz Hamiid..!!" Pekiknya riang sembari melambaikan tangannya kencang-kencang. Ustadz Hamid sempat menjenguknya di IGD kemarin. Ia gembira. Senyum mengembang di wajahnya.
Ustadz muda itu balas melambaikan tangannya.“Eh, Aini anakku, masuk-masuk! Halaqoh mau segera dimulai, ayoo!"
Aini berlari, sejenak lupa akan kesedihannya. Ia begitu gembira. Teman-temannnya yang riuh menunggunya di dalam, juga melambaikan tangan. Para calon penghafal Qur’an. Pemandangan yang sangat indah. Penuh keceriaan dan senyuman.
"Teman-teman...!"
'BUUM!!!'
Terngiang bunyi yang memekakan telinga. Sesaat tuli. Pandangannya kabur. Aini terpana menatap semburat api meluncur dari langit, menghancurleburkan masjid. ia terpental bepuluh-puluh meter jauhnya, terhujani pasir dan bebatuan. Asap membumbung bagai jamur Senyumnya menghilang. Tatapannya kosong.
Fahri yang mendengar letusan itu histeris, segera berlari meraih tubuh Aini yang terkulai lemah diantara kepulan asap dan puing-puing bangunan.
Bom kluster telah dijatuhkan sepuluh kilometer yang dari atap masjid tiga lantai, bukti akan kezaliman yang begitu kejam. Akan pena takdir yang begitu pedih menorehkan luka di hati. Sirine meraung-raung. Pekik takbir bersahut-sahutan menyesakkan dada. Para manusia berkerumun bagai semut-demi mereka yang selalu menerima akan kehilangan. Tiga puluh anak dan dua ustadz syahid di Masjid Beit Lahiya sore ini, menambah daftar catatan langit.
Seorang wanita paruh baya mendekat diantara korban yang dibawa para petugas medis. Ia menangis. Ia tersenyum. Ia bersimpuh di antara reruntuhan masjid. Ia memekik dalam nyanyian sendu, akan rahmat Tuhan yang bersinar di tengah badai eligi.
"Berilah selamat! Berilah selamat kepadaku hai para manusia, sebab sekarang kupunya lima syahid di rumahku!"
Fahri pun belajar akan makna kedamaian.
Semarang, 02 Mei 2018
(Dari buku : 'Mata Berlian' - 2023 - Karya Khanif Fauzan)
TAGS: cerpen, dibalik sang surya


