CERPEN • 13 Oct 2026 • 39x dibaca
Garis Khayal Nukleotida
Aku membayangkan, awal kiamat itu muncul ketika seseorang berambisi mengambil hak orang lain tanpa alasan yang benar. Puncaknya seperti kejadian tahun 65’ maupun 98’ silam.
“Laba-laba itu biasa membunuh kawannya sendiri untuk merebut daerah kekuasaan. Ngga sampai sepuluh detik setelah bercinta, si betina berusaha membunuh si jantan yang abis ngawinin dia. Pun saat masih wujud telur aja, mereka udah saling membunuh.
“Telur-telur itu saling menindih satu sama lain hingga pecah, sisanya yang menetas mereka bertarung satu sama lain antar saudara kandung. Yang masih hidup akan mengikuti indukan kemanapun pergi. Itulah mengapa, istilah rumah laba-laba merupakan rumah terlemah itu tepat bila ditinjau dari sifat mereka..”
Rus menjelaskan konsekuensi alamiah, bersaing dengan saudara sendiri merupakan wujud kelemahan. Aku membayangkan, awal kiamat itu muncul ketika seseorang berambisi mengambil hak orang lain tanpa alasan yang benar. Puncaknya seperti kejadian tahun 65’ maupun 98’ silam.
“Dalam perilaku petani hari ini, keserakahan itu muncul ketika menyuruh lahan berproduksi terus-menerus dengan penggunaan pupuk kimia berlebihan. Kau lihat betapa tidak produktifnya lahan pertanian yang bantat hari ini, tanah mengeras. Pun tidak ada regenerasi petani.
“Tidak ada jaminan, jika kelaparan di masa depan itu situasi baik-baik saja. Kau butuh skill bertahan hidup, tentu tidak dengan mengambil hak orang lain seperti orang-orang kota. Dan skill bertahan hidup itu apa? Menanam tanaman”
Sudah beberapa kali kutolak, Rus masih berusaha membujukku untuk mengembangkan pertanian bersama-sama. Dia yang notabene anak petani sepertiku, sama sekali tidak malu mengidentifikasi dirinya petani pula. Padahal dia sarjana ekonomi.
Aku merenungkan kondisiku. Di usia yang ke-25 tahun, aku mengalami kebuntuan dalam menentukan karier masa depan. Lulus kuliah keguruan tidak lantas membuatmu langsung bisa ngajar. Apalagi tawaran honorer di desa kecil ini kecil pula hasilnya.
Sementara orang tuaku yang telah uzur, masih bekerja sebagai petani walau sakit-sakitan. Mereka sebenarnya mendukung apapun pilihanku. Toh, kemarin sekali aku ditawarin orang yang ngaku pejabat kementerian, buat jadi ASN di sekolah negeri pinggiran dengan membayar 50 juta di muka. Ayahku denger itu, berencana menjual sawahnya ke pengembang perumahan untuk modalku, tapi kuhentikan. Uangnya sayang.
“Masa depan ada di tanganmu nak” Ayah memanggul cangkul di bahunya. “Dari dulu, ayah bekerja sebagai petani lantaran kakek juga petani. Ayah tidak banyak memilih, tapi sekarang zamannya beda. Kau berhak menentukan masa depanmu”
Aku tidak berencana menaruh harapan di dunia pertanian, melihat tiap kali panen harga gabah terus turun. Ayah tidak pernah mendapat harga yang sesuai dengan kerja kerasnya. Sementara untuk ikut tes CPNS, aku perlu bersaing dengan ribuan pendaftar padahal profesi guru juga tak mudah.
“Pernahkah kau bercita-cita untuk memperbaiki dunia di depan matamu?”
“Dunia yang mana?”
Rus menunjuk hamparan sawah di depan warung kopi. “Desamu tengah di tumbuhi perumahan, perlahan melahap habis lahan pertanian. Kau tidak kasihan pada ayahmu, paman-pamanmu yang tekun di bidang pertanian, mereka akan kehilangan mata pencahariannya akibat zaman lho”
Aku menggeleng. “Kran impor terbuka lebar masalah beras. Petani terus merugi. Tidak ada hasil di bidang pertanian! Kau akan terus merugi bila mengandalkan idealismemu itu Rus”
Rus tidak menanggapi. Dia asyik memandangi para petani yang bergotong-royong memanggul karung-karung gabah kering ke jalanan. “Dunia pertanian itu seperti lebah yang perlu berkoloni, memproduksi hasil terbaik untuk menjadi konsumsi terbaik. Kau jangan seperti semut yang hanya mikir mengumpulkan modal aja untuk hidup, nanti kesiram air dikit mati semua. Apalagi, laba-laba yang bersaing membunuh sesamanya hanya karena rebutan serangga kecil dan rumah yang rapuh. Untung rugi bisa kau jadikan alasan asalkan ada kebermanfaatan. Kau harus segera menentukan apa yang akan kaulakukan”
Aku tidak akan mengatakan pada Rus, bahwa esok hari aku akan bertemu seseorang di kota, untuk mengadaikan sawah milik ayah.
***
“Bagaimana kondisimu?”
Aku malah kehilangan mata kananku. Begini ceritanya.
Kemarin, setelah kupikirkan kembali daripada dijual, mending kugadaikan untuk modal auto jadi ASN. Akupun pergi ke kota dengan membawa surat tanah sawahku, tentu dengan izin ayah. Namun, di jalanan yang ramai sebuah mobil menyalip dari sisi kanan secara mendadak. Aku tidak bisa menjaga keseimbangan, lalu terperosok ke parit hingga kerikil masuk ke mata kananku. Darah mengucur, segera aku dilarikan ke IGD untuk operasi mata. Sementara tiga hari setelah operasi mata, tersiar kabar pejabat kementerian yang menawarkanku jadi ASN malah tersangkut kasus korupsi.
“Kau tidak jadi menjualnya?” Rus menyodorkan apel.
“Dan tidak ingin lagi menjualnya. Malu kalau jadi guru yang buta mata kanannya. Dengan mata tinggal satu, bisa apa?” Kuambil apel yang Rus sodorkan. “Kuterima tawaranmu menjadi petani saja, baiklah. Membantu ayahku mengurus lahan yang katamu kurang regenerasi. Aku tidak akan berpikir macam-macam”
“Jangan langsung jadi petani, bila niatmu setengah-setengah!” Rus menyodorkan pisau kupas depan wajahku. Bahaya sekali. “Kau punya usia muda. Berpikirlah! Masalah terbesarmu ialah kau malas untuk berpikir dan mengambil jalan pintas. Jika kaupilih dunia pertanian adalah tempatmu menghabiskan waktu, totalitaslah disini. Tentukan apa yang harus kaulakukan? Kulihat, dalam pertanian hari ini masalah utama sebab petani selalu merugi adalah pupuk yang harus beli mahal-mahal. Ayahmu selalu kehabisan modal buat pupuk aja. Ayo, kita kembangkan pupuk kompos dulu untuk memulai bab pertanian”
Aku paham alasan utama Rus kok ngotot mengajakku jadi petani. Usianya sama sepertiku. Selepas lulus kuliah tiga tahun lalu, orang tuanya meninggal akibat kecelakaan tol. Sedianya, mereka berdua akan menghadiri undangan pernikahan ke Ibukota. Rus memiliki adik laki-laki yang masih kecil, kelas 2 SD. Dia tinggal di rumah sendiri, seringkali ayahku menyambanginya. Orang tua Rus meninggalkan petak sawah seribu meter, dan pernah ditawar pengembang perumahan namun dia tolak. Dia bertekad akan melanjutkan pekerjaan ayahnya secara mandiri, meski di mata orang lain tidak profitable layaknya kerja kantoran.
“Aku mempunyai lahan yang luas di belakang rumah. Bila kau beneran niat, ayo kita buat pupuk kompos untuk kemandirian!”
***
Selepas sembuh, aku dan Rus pun membuka-buka informasi tentang bagaimana membuat pupuk sendiri. Berdiskusi dengan para petani, lahan di samping rumah Rus disulap menjadi pabrik kompos kecil. Beratapkan terpal, bersekat galar bambu yang disusun rapi. Dua ton kotoran sapi punya tetangga sebelah kuminta secara gratis.
Aku tidak memiliki modal dana seperti layaknya pelaku bisnis, tapi entah kenapa Rus berhasil membuat semua serba dekat dan mudah. Bahan baku pembuatan rumah kompos adalah bambu belakang rumah. Membangun sendiri, kerja bakti. Terpal beli murah. Bahkan mmt bekas juga terpakai untuk tutup kotoran sapi. Semua yang ada disekitar dipakai.
“Sarjana kok malah kotor-kotoran lethong sapi?” Pak Min, tetangga sebelah nyeletuk melihat kami mengaduk kompos. Dia petani, tapi itu tak lebih sekedar hiburan di masa tuanya.
“Lho, mau hasil panen banyak ya pupuknya buat sendiri no pak, gak usah beli!”
“Kalian nggak ada yang daftar PNS? Si Amin katanya kemarin ikut tes di kota, sayang kalau nggak diambil, mbok ijazahnya dipakai no”
“Ini saya lagi dinas praktik pertanian terjun langsung ke lapangan loh, tak melulu dengerin teori aja di sekolah”
“Emang ada diantara kalian sarjana pertanian?”
“Endak, pertanian butuhnya praktek langsung. Ijazah hanya tanda bukti lulus sekolah aja pak. Selagi ada yang bisa kita kerjakan ya gak melulu harus cari ke tempat lain”
Pak Min merengut, seperti kebanyakan tetangga sekitar yang heran melihat kita, kenapa kok nggak nyoba ndaftar seperti yang lain? Padahal mereka heran itu juga petani, seharusnya bangga kalau ada anak muda bikin kompos, lalu pagi-pagi sekali menaburkannya ke lahan sebelum mulai ditanami sepekan lagi. Para tetangga yang notabene orang-orang tua petani itu lebih bangga jika anak-anak kerja kantoran. Pertanian dianggap sebelah mata oleh mereka sendiri. Aku baru menyadari, itulah ciri orang tua gagal.
“Baguslah nak, besok kompos yang sudah jadi bawakan ke sawah kita juga ya. Pekan depan, bapak mau nanam tomat” Ayahku tidak seperti mereka. Dia bangga menggunakan pupuk hasil olahanku, dan mendorongku lebih banyak produksi lagi.
Sepekan sebelum kompos ditaburkan, aku dan Rus coba mencangkuli lahan sawah milik ayahnya Rus.
‘Tang!’ baru tiga kali cangkulan, tanah kering itu terasa bantat dan keras. Rus menunjukkan genangan oranye semacam minyak di sudut petak, perlahan menggumpal membias tujuh warna pelangi.
“Itulah yang disebut ‘tiyeng’ atau residu dari pemakaian kimia berlebihan di lahan. Ayahku Din menjadi petani selama 20 tahun, selama itu beliau selalu menggunakan pupuk kimia sebagai nutrisi padi dan sayuran. Namun lihat sekarang. Tanah yang coba kau cangkul teksurnya keras, akar-akar tanaman pendek dan oranye bukti pencemaran. Inilah warisan yang harus kutanggung sepeninggal beliau. Dan jika kau lakukan hal yang sama, generasi setelahmu akan menanggung beban lebih berat lagi”
Aku membayangkan, hal ini terjadi di seluruh Indonesia. Lahan pertanian tidak produktif juga kesalahan petani sendiri, meski mereka yang menanggung kerugiannya juga.
“Jika langsung diberikan kompos, apakah menjadi solusi?”
“Tidak serta merta. Kompos itu pupuk, sedangkan tanah yang rusak itu masalah lain. Buatlah analisis tentang tanah dan penyiapan lahan sebelum bertani! Kita punya potensi untuk berfikir!”
Disela-sela memproduksi pupuk kompos ke lahan, kita melakukan riset guna memperbaiki kembali kesuburan tanah dengan cara sesederhana mungkin. Banyak sekali obat yang ditawarkan, solusinya pasti tidak semahal itu. Kita rajin ke perpustakaan juga, dan menemukan bahwa zat asam dan mineral pupuk kimia, dapat diuraikan oleh mikroba sang dekomposer. Mikroba dalam tanah tertahan aktifitasnya sebab tertutupi residu kimia, sehingga membutuhkan ‘rumah’ agar mereka bisa mengurainya.
“Solusi itu adalah ‘Carbon’ pemakaian karbon di lahan kimia akan membongkar tabungan mineral yang terkandung dalam residu pupuk kimia. Dan tidak mahal, kita hanya perlu menambahkan arang lembut ke produk kompos kita!”
“Ah, kita perlu mengujinya dulu, tanya ahli lain, sebab itu tidak pernah dilakukan petani manapun..”
Keesokan harinya, kita tetap menambahkan arang ke dalam pupuk kompos dan menggunakannya ke lahan pertanian. Kita membuat dan memproduksi, buat dan gunakan. Terus seperti itu.
***
Usia muda, akan lebih produktif apabila menetapkan garis khayal untuk masa depan.
Sebab, semangatku di pertanian tidak lepas dari peran orang-orang tua yang menjadi sumber ilmu pengetahuan mengakar. Kakek nenekku petani, ayahku juga, mereka dulu tidak kunjung berkembang sebab sekedar ngikut aja. Tapi dengan itu, aku tinggal melanjutkan dunia pertanian yang telah mereka fondasikan sejak dulu.
Aku kini tinggal menikmati hasil tujuh hektar lahan subur di sawah berkat pilihanku melanjutkan pertanian. Sawahku menjadi daya tarik lokal anak-anak perumahan yang mulai menyenangi suasana alamiah. Aku bisa memanen timun, tomat, cabai, padi, sayur-sayuran, berkuintal-kuintal, sebab sepuluh tahun lalu usia mudaku fokus memperbaiki kesalahan generasi sebelumnya.
Bahwa tanaman, sebenarnya resisten terhadap hama dan penyakit sebab dia hidup di alam. Kondisi tanah itulah yang menyebabkan dia rapuh, dan tanah yang baik adalah kunci memperbaiki semua yang tumbuh di atasnya. Aku dan Rus terus melakukan riset pertanian, bahwa memang di dunia ini semua saling terhubung.
Tanah sebagai tempat tumbuh, membutuhkan air agar liat dan mengandung mineral renik. Lalu bahan organik di atasnya berubah menjadi lumpur kehitaman, sehingga mikroba mempunyai ruang gerak bebas untuk terjadinya polimerasi. atau reaksi perpanjangan rantai molekul dari asam amino menjadi protein, atau dari nukleotida menjadi polinukleotida. Termasuk molekul DNA, materi penyusun gen makhuk hidup.
Semua proses bertani ini, kami dokumentasikan dalam bentuk proposal untuk dilombakan dalam program pendanaan kementerian pertanian. Inovasi pembuatan kompos tanpa fermentasi dan ide memperbaiki kondisi lahan tercemar, berhasil menyisihkan puluhan kontestan lainnya. Sepuluh program terbaik yang lolos se-Indonesia, kami salah satunya.
Rus menunjuk laba-laba terang yang bersarang di antara tanaman.
“Kau lihat hewan itu gemuk dan sehat? Itu indikator, tanaman kita mempunyai keanekaragaman makhluk sehingga hewan itu nyaman bersarang di situ”
Ada lebah pula diantara pepohonan yang rindang. Kemarin, aku membawakan madunya untuk ayah yang terbaring lemah di rumah.
“Syukurlah nak, ayah tidak perlu menjual tanah untukmu. Teruslah berusaha, akan banyak hikmah yang akan datang”
Aku tidak akan mengatakan pada ayah, berkat proposal pendanaan itu, besok aku dan Rus berangkat ke pulau seberang untuk memperbaiki 500 hektar lahan food estate untuk generasi masa depan.
Boyolali, 14 Oktober 2023
(Dari buku 'Mata Berlian - Karya Khanif Fauzan - 2023)
“Telur-telur itu saling menindih satu sama lain hingga pecah, sisanya yang menetas mereka bertarung satu sama lain antar saudara kandung. Yang masih hidup akan mengikuti indukan kemanapun pergi. Itulah mengapa, istilah rumah laba-laba merupakan rumah terlemah itu tepat bila ditinjau dari sifat mereka..”
Rus menjelaskan konsekuensi alamiah, bersaing dengan saudara sendiri merupakan wujud kelemahan. Aku membayangkan, awal kiamat itu muncul ketika seseorang berambisi mengambil hak orang lain tanpa alasan yang benar. Puncaknya seperti kejadian tahun 65’ maupun 98’ silam.
“Dalam perilaku petani hari ini, keserakahan itu muncul ketika menyuruh lahan berproduksi terus-menerus dengan penggunaan pupuk kimia berlebihan. Kau lihat betapa tidak produktifnya lahan pertanian yang bantat hari ini, tanah mengeras. Pun tidak ada regenerasi petani.
“Tidak ada jaminan, jika kelaparan di masa depan itu situasi baik-baik saja. Kau butuh skill bertahan hidup, tentu tidak dengan mengambil hak orang lain seperti orang-orang kota. Dan skill bertahan hidup itu apa? Menanam tanaman”
Sudah beberapa kali kutolak, Rus masih berusaha membujukku untuk mengembangkan pertanian bersama-sama. Dia yang notabene anak petani sepertiku, sama sekali tidak malu mengidentifikasi dirinya petani pula. Padahal dia sarjana ekonomi.
Aku merenungkan kondisiku. Di usia yang ke-25 tahun, aku mengalami kebuntuan dalam menentukan karier masa depan. Lulus kuliah keguruan tidak lantas membuatmu langsung bisa ngajar. Apalagi tawaran honorer di desa kecil ini kecil pula hasilnya.
Sementara orang tuaku yang telah uzur, masih bekerja sebagai petani walau sakit-sakitan. Mereka sebenarnya mendukung apapun pilihanku. Toh, kemarin sekali aku ditawarin orang yang ngaku pejabat kementerian, buat jadi ASN di sekolah negeri pinggiran dengan membayar 50 juta di muka. Ayahku denger itu, berencana menjual sawahnya ke pengembang perumahan untuk modalku, tapi kuhentikan. Uangnya sayang.
“Masa depan ada di tanganmu nak” Ayah memanggul cangkul di bahunya. “Dari dulu, ayah bekerja sebagai petani lantaran kakek juga petani. Ayah tidak banyak memilih, tapi sekarang zamannya beda. Kau berhak menentukan masa depanmu”
Aku tidak berencana menaruh harapan di dunia pertanian, melihat tiap kali panen harga gabah terus turun. Ayah tidak pernah mendapat harga yang sesuai dengan kerja kerasnya. Sementara untuk ikut tes CPNS, aku perlu bersaing dengan ribuan pendaftar padahal profesi guru juga tak mudah.
“Pernahkah kau bercita-cita untuk memperbaiki dunia di depan matamu?”
“Dunia yang mana?”
Rus menunjuk hamparan sawah di depan warung kopi. “Desamu tengah di tumbuhi perumahan, perlahan melahap habis lahan pertanian. Kau tidak kasihan pada ayahmu, paman-pamanmu yang tekun di bidang pertanian, mereka akan kehilangan mata pencahariannya akibat zaman lho”
Aku menggeleng. “Kran impor terbuka lebar masalah beras. Petani terus merugi. Tidak ada hasil di bidang pertanian! Kau akan terus merugi bila mengandalkan idealismemu itu Rus”
Rus tidak menanggapi. Dia asyik memandangi para petani yang bergotong-royong memanggul karung-karung gabah kering ke jalanan. “Dunia pertanian itu seperti lebah yang perlu berkoloni, memproduksi hasil terbaik untuk menjadi konsumsi terbaik. Kau jangan seperti semut yang hanya mikir mengumpulkan modal aja untuk hidup, nanti kesiram air dikit mati semua. Apalagi, laba-laba yang bersaing membunuh sesamanya hanya karena rebutan serangga kecil dan rumah yang rapuh. Untung rugi bisa kau jadikan alasan asalkan ada kebermanfaatan. Kau harus segera menentukan apa yang akan kaulakukan”
Aku tidak akan mengatakan pada Rus, bahwa esok hari aku akan bertemu seseorang di kota, untuk mengadaikan sawah milik ayah.
***
“Bagaimana kondisimu?”
Aku malah kehilangan mata kananku. Begini ceritanya.
Kemarin, setelah kupikirkan kembali daripada dijual, mending kugadaikan untuk modal auto jadi ASN. Akupun pergi ke kota dengan membawa surat tanah sawahku, tentu dengan izin ayah. Namun, di jalanan yang ramai sebuah mobil menyalip dari sisi kanan secara mendadak. Aku tidak bisa menjaga keseimbangan, lalu terperosok ke parit hingga kerikil masuk ke mata kananku. Darah mengucur, segera aku dilarikan ke IGD untuk operasi mata. Sementara tiga hari setelah operasi mata, tersiar kabar pejabat kementerian yang menawarkanku jadi ASN malah tersangkut kasus korupsi.
“Kau tidak jadi menjualnya?” Rus menyodorkan apel.
“Dan tidak ingin lagi menjualnya. Malu kalau jadi guru yang buta mata kanannya. Dengan mata tinggal satu, bisa apa?” Kuambil apel yang Rus sodorkan. “Kuterima tawaranmu menjadi petani saja, baiklah. Membantu ayahku mengurus lahan yang katamu kurang regenerasi. Aku tidak akan berpikir macam-macam”
“Jangan langsung jadi petani, bila niatmu setengah-setengah!” Rus menyodorkan pisau kupas depan wajahku. Bahaya sekali. “Kau punya usia muda. Berpikirlah! Masalah terbesarmu ialah kau malas untuk berpikir dan mengambil jalan pintas. Jika kaupilih dunia pertanian adalah tempatmu menghabiskan waktu, totalitaslah disini. Tentukan apa yang harus kaulakukan? Kulihat, dalam pertanian hari ini masalah utama sebab petani selalu merugi adalah pupuk yang harus beli mahal-mahal. Ayahmu selalu kehabisan modal buat pupuk aja. Ayo, kita kembangkan pupuk kompos dulu untuk memulai bab pertanian”
Aku paham alasan utama Rus kok ngotot mengajakku jadi petani. Usianya sama sepertiku. Selepas lulus kuliah tiga tahun lalu, orang tuanya meninggal akibat kecelakaan tol. Sedianya, mereka berdua akan menghadiri undangan pernikahan ke Ibukota. Rus memiliki adik laki-laki yang masih kecil, kelas 2 SD. Dia tinggal di rumah sendiri, seringkali ayahku menyambanginya. Orang tua Rus meninggalkan petak sawah seribu meter, dan pernah ditawar pengembang perumahan namun dia tolak. Dia bertekad akan melanjutkan pekerjaan ayahnya secara mandiri, meski di mata orang lain tidak profitable layaknya kerja kantoran.
“Aku mempunyai lahan yang luas di belakang rumah. Bila kau beneran niat, ayo kita buat pupuk kompos untuk kemandirian!”
***
Selepas sembuh, aku dan Rus pun membuka-buka informasi tentang bagaimana membuat pupuk sendiri. Berdiskusi dengan para petani, lahan di samping rumah Rus disulap menjadi pabrik kompos kecil. Beratapkan terpal, bersekat galar bambu yang disusun rapi. Dua ton kotoran sapi punya tetangga sebelah kuminta secara gratis.
Aku tidak memiliki modal dana seperti layaknya pelaku bisnis, tapi entah kenapa Rus berhasil membuat semua serba dekat dan mudah. Bahan baku pembuatan rumah kompos adalah bambu belakang rumah. Membangun sendiri, kerja bakti. Terpal beli murah. Bahkan mmt bekas juga terpakai untuk tutup kotoran sapi. Semua yang ada disekitar dipakai.
“Sarjana kok malah kotor-kotoran lethong sapi?” Pak Min, tetangga sebelah nyeletuk melihat kami mengaduk kompos. Dia petani, tapi itu tak lebih sekedar hiburan di masa tuanya.
“Lho, mau hasil panen banyak ya pupuknya buat sendiri no pak, gak usah beli!”
“Kalian nggak ada yang daftar PNS? Si Amin katanya kemarin ikut tes di kota, sayang kalau nggak diambil, mbok ijazahnya dipakai no”
“Ini saya lagi dinas praktik pertanian terjun langsung ke lapangan loh, tak melulu dengerin teori aja di sekolah”
“Emang ada diantara kalian sarjana pertanian?”
“Endak, pertanian butuhnya praktek langsung. Ijazah hanya tanda bukti lulus sekolah aja pak. Selagi ada yang bisa kita kerjakan ya gak melulu harus cari ke tempat lain”
Pak Min merengut, seperti kebanyakan tetangga sekitar yang heran melihat kita, kenapa kok nggak nyoba ndaftar seperti yang lain? Padahal mereka heran itu juga petani, seharusnya bangga kalau ada anak muda bikin kompos, lalu pagi-pagi sekali menaburkannya ke lahan sebelum mulai ditanami sepekan lagi. Para tetangga yang notabene orang-orang tua petani itu lebih bangga jika anak-anak kerja kantoran. Pertanian dianggap sebelah mata oleh mereka sendiri. Aku baru menyadari, itulah ciri orang tua gagal.
“Baguslah nak, besok kompos yang sudah jadi bawakan ke sawah kita juga ya. Pekan depan, bapak mau nanam tomat” Ayahku tidak seperti mereka. Dia bangga menggunakan pupuk hasil olahanku, dan mendorongku lebih banyak produksi lagi.
Sepekan sebelum kompos ditaburkan, aku dan Rus coba mencangkuli lahan sawah milik ayahnya Rus.
‘Tang!’ baru tiga kali cangkulan, tanah kering itu terasa bantat dan keras. Rus menunjukkan genangan oranye semacam minyak di sudut petak, perlahan menggumpal membias tujuh warna pelangi.
“Itulah yang disebut ‘tiyeng’ atau residu dari pemakaian kimia berlebihan di lahan. Ayahku Din menjadi petani selama 20 tahun, selama itu beliau selalu menggunakan pupuk kimia sebagai nutrisi padi dan sayuran. Namun lihat sekarang. Tanah yang coba kau cangkul teksurnya keras, akar-akar tanaman pendek dan oranye bukti pencemaran. Inilah warisan yang harus kutanggung sepeninggal beliau. Dan jika kau lakukan hal yang sama, generasi setelahmu akan menanggung beban lebih berat lagi”
Aku membayangkan, hal ini terjadi di seluruh Indonesia. Lahan pertanian tidak produktif juga kesalahan petani sendiri, meski mereka yang menanggung kerugiannya juga.
“Jika langsung diberikan kompos, apakah menjadi solusi?”
“Tidak serta merta. Kompos itu pupuk, sedangkan tanah yang rusak itu masalah lain. Buatlah analisis tentang tanah dan penyiapan lahan sebelum bertani! Kita punya potensi untuk berfikir!”
Disela-sela memproduksi pupuk kompos ke lahan, kita melakukan riset guna memperbaiki kembali kesuburan tanah dengan cara sesederhana mungkin. Banyak sekali obat yang ditawarkan, solusinya pasti tidak semahal itu. Kita rajin ke perpustakaan juga, dan menemukan bahwa zat asam dan mineral pupuk kimia, dapat diuraikan oleh mikroba sang dekomposer. Mikroba dalam tanah tertahan aktifitasnya sebab tertutupi residu kimia, sehingga membutuhkan ‘rumah’ agar mereka bisa mengurainya.
“Solusi itu adalah ‘Carbon’ pemakaian karbon di lahan kimia akan membongkar tabungan mineral yang terkandung dalam residu pupuk kimia. Dan tidak mahal, kita hanya perlu menambahkan arang lembut ke produk kompos kita!”
“Ah, kita perlu mengujinya dulu, tanya ahli lain, sebab itu tidak pernah dilakukan petani manapun..”
Keesokan harinya, kita tetap menambahkan arang ke dalam pupuk kompos dan menggunakannya ke lahan pertanian. Kita membuat dan memproduksi, buat dan gunakan. Terus seperti itu.
***
Usia muda, akan lebih produktif apabila menetapkan garis khayal untuk masa depan.
Sebab, semangatku di pertanian tidak lepas dari peran orang-orang tua yang menjadi sumber ilmu pengetahuan mengakar. Kakek nenekku petani, ayahku juga, mereka dulu tidak kunjung berkembang sebab sekedar ngikut aja. Tapi dengan itu, aku tinggal melanjutkan dunia pertanian yang telah mereka fondasikan sejak dulu.
Aku kini tinggal menikmati hasil tujuh hektar lahan subur di sawah berkat pilihanku melanjutkan pertanian. Sawahku menjadi daya tarik lokal anak-anak perumahan yang mulai menyenangi suasana alamiah. Aku bisa memanen timun, tomat, cabai, padi, sayur-sayuran, berkuintal-kuintal, sebab sepuluh tahun lalu usia mudaku fokus memperbaiki kesalahan generasi sebelumnya.
Bahwa tanaman, sebenarnya resisten terhadap hama dan penyakit sebab dia hidup di alam. Kondisi tanah itulah yang menyebabkan dia rapuh, dan tanah yang baik adalah kunci memperbaiki semua yang tumbuh di atasnya. Aku dan Rus terus melakukan riset pertanian, bahwa memang di dunia ini semua saling terhubung.
Tanah sebagai tempat tumbuh, membutuhkan air agar liat dan mengandung mineral renik. Lalu bahan organik di atasnya berubah menjadi lumpur kehitaman, sehingga mikroba mempunyai ruang gerak bebas untuk terjadinya polimerasi. atau reaksi perpanjangan rantai molekul dari asam amino menjadi protein, atau dari nukleotida menjadi polinukleotida. Termasuk molekul DNA, materi penyusun gen makhuk hidup.
Semua proses bertani ini, kami dokumentasikan dalam bentuk proposal untuk dilombakan dalam program pendanaan kementerian pertanian. Inovasi pembuatan kompos tanpa fermentasi dan ide memperbaiki kondisi lahan tercemar, berhasil menyisihkan puluhan kontestan lainnya. Sepuluh program terbaik yang lolos se-Indonesia, kami salah satunya.
Rus menunjuk laba-laba terang yang bersarang di antara tanaman.
“Kau lihat hewan itu gemuk dan sehat? Itu indikator, tanaman kita mempunyai keanekaragaman makhluk sehingga hewan itu nyaman bersarang di situ”
Ada lebah pula diantara pepohonan yang rindang. Kemarin, aku membawakan madunya untuk ayah yang terbaring lemah di rumah.
“Syukurlah nak, ayah tidak perlu menjual tanah untukmu. Teruslah berusaha, akan banyak hikmah yang akan datang”
Aku tidak akan mengatakan pada ayah, berkat proposal pendanaan itu, besok aku dan Rus berangkat ke pulau seberang untuk memperbaiki 500 hektar lahan food estate untuk generasi masa depan.
Boyolali, 14 Oktober 2023
(Dari buku 'Mata Berlian - Karya Khanif Fauzan - 2023)
TAGS: cerpen, garis khayal nukleotida


