CERPEN • 30 Sep 2026 • 102x dibaca
Mata Berlian
Dengan meyakinkan diri, Amira mengambil ancang-ancang dan melompat. Satu hentakan tanah membuatnya terbang. Angin berhembus menerbangkan syal kerudung merah, payungnya terkembang.
Dhani menatap langit. Rinai tipis di wajahnya berubah menjadi linangan intan yang turun menderas. Gurat-gurat penuaan mengakar, setetes turun mencair di sela jemarinya yang dingin, menyatu di bawah kakinya. Terlihat pantulan wajah dirinya yang sendu di genangan itu, ia merindukan mata itu. Tetes hujan seperti mata berlian, mata berbinar yang selalu ia rindukan kehadirannya, pasca ia ditinggalkan oleh si pemilik mata itu tiga tahun yang lalu.
Kala itu si kecil Rin yang berusia enam tahun sakit panas. Di malam mencekam, ia dekap anak perempuan semata wayangnya menempuh perjalanan darat menggunakan delman, dua jam menuju kota. Namun, entah takdir sial macam apa yang lewat, badannya telah dingin. Sedingin hujan yang menggemresikkan memori masa lalunya. Anak perempuannya yang selalu berbinar bagai berlian telah meninggal. Sendiri, ia tinggal di tepi danau menatap hujan.
Ia mengimpikan kembali bertemu dengannya, namun rasanya mustahil.
Esok pagi, Dhani sampai di kantor penerbitan majalah bulanan untuk bertemu dengan editor yang menanyakan revisi bab novelnya yang berjudul : “Meniti Jalan Menuju Angkasa”.
“Sepertinya kau stuck menuju bab terakhir, apakah ada masalah?”
“Block writers biasa dialami penulis sepertiku, aku akan segera mengirimkan kelanjutannya”
“Kau tidak bisa melanjutkan cerita ini, well, kulihat sikapmu yang menolak beberapa ilustrasi untuk penerbitan bab selanjutnya membuatku kelimpungan, apa yang kau pikirkan? Kau harusnya membuat ini menjadi mudah saja”
Dhani, melirik ke arah mesin tik di sudut jendela. “ Tiga gambar yang kau ajukan tidak sesuai ceritaku, makannya aku kemari untuk membuatnya mudah. Bagaimana jika aku saja yang membuat ilustrasi bab terakhir?”
“Gambarmu parah sekali, itu akan hancur seperti enam bulan kemarin. Aku sudah menebak, kau akan mengatakan itu. Makannya aku telah menyiapkan ini untukmu, lihat”
Dhani menerima brosur. “ Apa ini?”
“Kau bisa mengggunakan jasa mesin ilustrator untuk mewujudkan idealisme di kepalamu itu. Mesin ini sedang populer di kota bulan ini. Harga sewa per ilustrasinya agak mahal, namun kau bisa memikirkannya”
Ia baca seksama informasi dalam brosur.
“Aku tidak mau menerima review buruk dari pembaca lagi. Kau akan mengambilnya”
“Masa sewa hanya tiga hari?”
“Hanya dengan bualanmu, lima ilustrasi tercipta dengan waktu sesingkat itu””
Dhani mengangguk. Ide yang sangat menarik.
***
‘Tok-tok’
“Masuk!”
Pesanannya datang, Dhani terpana.
“Selamat siang tuan, perkenalkan nama saya Amira. Saya adalah mesin ilustrator yang di sewa selama tuan ingin mewujudkan dunia dalam kanvas...”
Seorang gadis muda, kerudungnya merah kirmizi, rok semata kaki bersepatu bot cokelat. Tidak ada alat atau semacamnya, ia hanya membawa satu koper besar dan lima ikat kanvas.
”Kau mesin ilustrator itu? Kukira itu mesin cetak atau semacamnya...”
Mesin ilustrator adalah istilah yang digunakan pada masa revolusi industri sekarang, untuk menyebut seorang pelukis handal yang bekerja secanggih mesin.
“Dan kau salah satu yang terbaik?”
Gadis muda itu mengangguk. Matanya mengkilat seperti boneka. “Saya akan tinggal selama tiga hari disini, mohon kerjasamanya”
***
Tidak pernah ia kira, yang datang adalah seorang gadis muda.
“Dimana saya akan mulai bekerja tuan?”
Dhani menunjuk kamarnya yang berantakan. “Kau bisa menggunakan ruanganku untuk bekerja, namun aku perlu sedikit merapikannya”
Amira melihat ruang tamu disekitarnya sangat berantakan. “Apakah kau tidak pernah membersihkan rumahmu?”
“Akan ku rapikan, kau bisa menaruh beberapa barangmu terlebih dahulu” Dhani menunjuk kamar belakang yang kosong.
Amira meletakkan kopernya ke dalam kamar, sementara Dhani masih memikirkan gambar macam apa yang akan ia buat bersama gadis ini. Ada gadis muda cantik di rumahnya, dan akan tinggal beberapa hari berdua. Sayang itu lebih terasa ayah dan anak menyadari umurnya telah hampir berkepala empat.
‘Fuuh’ kepul asap rokok melayang.
Sebuah sapu disodorkan oleh Amira. Dahi Dhani mengkerut.
“Tuan, kau akan membersihkannya sekarang”
“Sebentar, kita bisa melakukannya esok hari. Kau istirahatlah dahulu..”
“Kita akan langsung mengerjakannya. Aku adalah ilustrator, bukan pembantu”
Dhani menerima sapu. “O..oke?”
Amira sangat kaku dan blak-blakan.
***
Semburat sore meremang di halaman.
Cerita yang ditulis Dhani adalah, tentang seorang anak kecil yang kehilangan ayahnya di medan perang. Sang anak menderita penyakit leukemia yang mengharuskannya istirahat total dari segala macam aktifitas. Dia selalu mengurung diri kamar, menghabiskan waktunya berbincang dengan para peri yang bersedia membuatkannya jalan menuju angkasa. Ia selalu mencari kebenaran dimana sang ayah, dan dia berharap untuk bisa terbang dengan sepasang sayap di punggungnya.
“Sang ayah adalah seorang gerilyawan yang meski berjuang di dalam goa sekalipun, dia selalu membawa foto anaknya sembari mencari jalan pulang. Di hari pertemuan itu, sang ayah berjalan pincang di pinggiran danau, meneriaki anaknya yang merangkak tertatih mendekatinya. Kau akan membuatkan lima ilustrasi untuk adegan klimaks, terutama adegan saat para peri berkumpul membuatkan jalan menuju angkasa. Itu akan menjadi akhir pencariannya selama ini”
Amira membolak-balik beberapa naskah. Dhani menunjukkan goresan kasar ilustrasi pensil yang ia buat, suasana medan perang yang dipenuhi ledakan mortir, adu pedang, dan seorang ayah yang berdiri di padang rumput melambaikan tangan. Banyak sekali bekas sidik jari dimana-mana.
“Tuan, sketsamu buruk sekali”
“Aku tahu, kau tak perlu memperjelasnya. Itulah mengapa kau ada disini untuk membantuku”
Mata cokelatnya lekat menatap sketsa ledakan dari barisan meriam. Amira coba menerkanya.
“Membaca ceritamu, mengingatkanku akan Perang Dunia yang terjadi sepuluh tahun yang lalu tuan. Kau menggambar persis adegan kavaleri yang hancur dari jarak ratusan meter akibat letusan meriam, kulihat bawah lehermu ada bekas sayatan”
“Rupanya kau memperhatikanku. Aku salah satu sukarelawan yang terlibat dalam peristiwa itu. Pasti editorku di kota memberitahumu tentang hal ini?”
“Tidak, tuan.”
Amira meletakkan naskah, lalu memasang kanvas di jepitan. Ia buka kedua sarung tangannya, terlihat rangkaian besi menyusun pergelangan hingga ujung jemarinya yang kaku. Sebuah tangan mekanik.
“Aku paham, sebab pemandangan itu pernah kusaksikan secara langsung ”
Dhani terpaku beberapa saat. “Astaga tanganmu.. kau bekerja selama ini dengan tangan itu?”
“Aku ikut berperang hingga ledakan melenyapkan kedua tanganku, tuan, tapi kau tak perlu sangsi mengenai hasil kerjaku. Aku akan menggambarkannya persis seperti imajinasimu”
Dengan lembut, Amira mulai menggoreskan kuas bercat hitam membentuk pola karakter. Sesekali ia melirik pada sketsa Dhani, ia menambahkan beberapa warna terang untuk suasana langit, api, dan karakter manusia yang saling beradu dalam adegan di medan laga.
“Cepat sekali..” Dhani terpana.
Rembulan terang meremang, Amira menyelesaikan tiga sketsa ilustrasi pertama.
***
Esok paginya.
‘Tok-tok!’
“Dhanii! Bersihkan ruanganmu! Siapkan mejanya! Edgina dataaangg...~”
Bibi Edgina, istri dari kepala desa sekonyong-konyong datang menyeruak ke ruang tamu. Dia membawa nampan berisi roti canai, baklava, dan pie apel untuk acara makan bareng dadakan, khusus untuk Dhani yang sekian lama malam-malam sendirian.. lalu ada gadis yang datang..
“Aku yang mengantar dia kemarin”
Bibi Edgina lugas menghapus keheranan di wajah Dhani yang cringe, kenapa istri kepala desa yang berisik ini tiba-tiba langsung akrab dengan Amira si gadis kemarin sore?
“Kau tidak diapa-apain sama buaya ini kan nak?” Bibi Edgina menunjuk langsung ke muka Dhani.
Amira menatapnya datar. “Apa ini waktunya perayaan?”
“Kau jangan menanyakan hal-hal aneh. Aku tidak melakukan apapun!”
“Sangat aneh bila tiba-tiba kau memesan wanita yang tinggal beberapa waktu denganmu, lalu tidak terjadi apapun. Kau pikir aku sebodoh itu?”
Dhani si duda paruh baya kena mental ditembak langsung seperti itu. Padahal Amira menempati ruangan khusus di belakang yang selalu terkunci, sementara ia tidur di sofa yang sekarang bersih itu. ”Aku tidak berminat pada gadis muda sepertinya, itu lebih seperti ayah dan anak...”
“Bibi..” Amira menyela. “Tuan sangatlah kotor dan bau. Aku menghabiskan sebagian waktuku membersihkan rumah ini, agar leluasa bekerja. Tapi dia selalu mengelak seperti tikus, dan kukira kau harus menasehatinya tentang hal itu”
Mendengar itu, Bibi Edgina tertawa. “Astaga, kau benar. Dia memang tikus. Bapaknya para tikus malah...”
“Hei, aku tidak sekotor itu!” sergah Dhani.
“Asal kau tahu nak, lelaki tua ini bertahun-tahun meringkuk macam trenggiling sendirian di rumah ini. Sampai ada angin apa, dia tiba-tiba kedatangan gadis muda sepertimu yang penasaran tentang dirinya. Aku heran, ada urusan apa? Tapi bukan urusanku pada kehidupan pribadimu, aku senang melihat sinar di matamu setelah sekian lama.. ”
Suasana menjadi cair, sembari menyantap hidangan yang terhampar di meja. Ada suasana familier asing yang membuat dadanya panas. Tak terasa air keluar dari matanya, menyadari betapa ia kesepian selama ini. Dhani berusaha menghapusnya.
“Kau kelilipan tuan?”
Bibi Edgina tergelak mendengar tanggapan polos Amira.
***
Di pinggir danau, berjalan dua menit ke arah tenggara, Dhani dan Amira meletakkan perlengkapan untuk membuat ilustrasi akhir cerita novel yang ditulis Dhani. Kanvas di siapkan, palet ada di tangan Amira. Dhani malah memakaikan Amira topi bundar berbulu merak.
“Kau tidak bisa langsung menggambarnya. Bisakah kau memerankan protagonis di akhir cerita?”
“Memang kenapa? Apa yang terjadi dengan si tokoh utama?”
“Di akhir cerita, sang anak bertemu dengan ayahnya di seberang danau, dan ia berdiri dari kursi rodanya dan berlari. Ia melangkah di atas permukaan air sementara para peri membuatkannya jembatan cahaya menuju seberang sana… ”
“Manusia tidak bisa berjalan di atas air”
“Aku tahu, namun kita bisa membuatnya berbeda jika dia mendapatkan kekuatan para peri yang datang dari angkasa”
“Karakternya sangat kontras denganku, tuan. Gadis ini periang dan lugu, sementara kau tidak melihat itu dariku”
“Tidak, jika kepalamu tertutupi topi itu, kau sangat mirip dengannya”
Ia menyuruh Amira berganti kostum untuk memerankan tokoh protagonis. Meskipun Amira tidak mengeluh mengerjakan pekerjaan rumah seperti bersih-bersih, memasak, melakukan ini itu seperti pembantu, bahkan lebih profesional, tetap saja dia ber-puh sebal.
“Tuan, tugasku untuk membuat ilustrasi, aku tidak mau jika kau meminta selain itu”
“Postur tubuhmu, wajahmu.. kau mengingatkanku pada anakku yang telah meninggal enam tahun lalu. Kau satu-satunya yang bisa memerankannya”
“Tapi tuan, itu tidak ada dalam kontrak. Aku tidak bisa menjadi anak atau selirmu, kau membutuhkan alternatif lain untuk mengatasi writer’s block-mu”
“Aku tidak berminat pada gadis muda sepertimu, maksudku, aku ingin ilustrasi terakhir itu kulihat dengan mata kepalaku seperti medan perang dulu. Dalam benakku, gambaran itu tidak ada. Kumohon, hanya kau yang dapat mewujudkannya”
Penolakan Amira perlahan runtuh.
“Jika putriku masih hidup.. kurasa dia tumbuh ceria sepertimu, aku ingin impian itu menjadi nyata. Kau akan dapat melukiskannya pula”
“Bahkan jika itu hanya satu adegan, apakah kau akan mengingatnya?”
“Aku bisa menggambarkannya melalui kata-kata”
Amira mengangguk, dia memakai topi bundar yang menyembul dua bulu merak itu.
“Aku adalah mesin ilustrator. Untuk mewujudkan dunia dalam imajinasi, semuanya harus sesuai dengan keinginan tuan”
Kostum yang dimaksud adalah rompi berenda, topi bundar, dan payung bulat. Amira memakainya, dan berlari mengitari sisi danau hingga berhenti diantara ilalang dan guguran daun. Dhani menatapnya seksama, namun ia tak menyangka Amira akan melakukan yang lebih dari bayangannya.
“Amira, berhenti!”
‘Zrrash…’
Dengan meyakinkan diri, Amira mengambil ancang-ancang dan melompat. Satu hentakan tanah membuatnya terbang. Angin berhembus menerbangkan syal kerudung merah, payungnya terkembang. Roknya menggelembung diantara helai daun yang detik itu melambat. Satu kerjap semua berhenti, seolah Dhani melihat para peri tengah membangun jembatan di ujung kaki Amira. Jembatan cahaya yang membuncah, seolah dia tidak pernah hilang dari dunia ini.
Seorang gadis yang topinya terbang melayang.
‘Aku ingin selalu dipanggil ayah olehmu’
“Ayah, aku akan menunjukkanmu keajaiban di danau itu, yah, danau tempat kita melihat burung-burung berterbangan di atas air. Kau menceritakan surga, ketika kita berlayar menggunakan sampan kecil melihat barisan pegunungan. Ada kebahagiaan disitu, keajaiban matahari pagi yang muncul kala kita berselimut kain. Suatu hari, akan kutunjukkan padamu, yah, suatu hari..”
Berkelindan memori ketika si kecil menunjukkan gambar crayonnya pertama kali. Si tinggi dan si kecil bergandengan di danau. Selalu ceria, meski piatu sejak lahir setelah sang isteri melahirkannya.
“Suaramu lebih indah dari desau angin..”
“Ayah, aku akan tumbuh tinggi dan cantik, untuk menemanimu..”
“Kau lebih cantik dari mentari pagi...”
“Akan kutunjukkan padamu impianku, ayah, bersamamu terbang diantara burung-burung albatros, untuk menyampaikan pesan, bahwa aku sangat mencintaimu”
“Ah, kurasa benar. Kau telah berjanji namun aku lupa semuanya.. aku mengharap untuk menemuimu sekali lagi, berjanji akan memelukmu hangat, menghindarkanmu akan badai hujan yang kelam itu.. maukah engkau membiarkanku menyentuhmu sekali lagi? Menyediakan air hangat untukmu mandi, menyiapkan sarapan pagi yang senantiasa kita warnai dengan teh dan pie apel favoritmu, dan berburu ikan untuk kitty si kucing yang imut.. maukah kau hadir kembali? Untuk membiarkanku memeluk semua kenangan itu, semua desau angin yang perlahan memudar tertutupi keegoisanku melupakan kesedihan… namun seharusnya aku mendengarkan kalimat yang berulang-ulang itu..
“Untuk mengucap terima kasih, dan salam perpisahan, bahwa kenangan ada untuk impian bersamamu di surga…
‘Kau selalu hadir untuk menemaniku‘
Tak terasa lelehan intan mengalir di pipinya. “Eh.. eh?” matanya panas untuk menahannya. Waktu terasa diputar kembali. Imaji sosok yang hadir di matanya lenyap seperti gelembung sabun. Ia sedikit menyesal, namun bayangan itu cukup untuk membuatnya sadar bahwa sebenarnya ia sangat merindukannya.
“Tuan!”
Dhani tersadar.
“Apakah anda melihatnya? Saya dapat maju selangkah..”
Sebenarnya ia tidak dapat melihat sebab air menutupi matanya.
“Ya, aku melihatnya”
Amira benar-benar basah kuyup oleh air danau. Tetesannya merembes dari rok serta lengan panjang yang penuh lumpur dan daun kering. Topi dan payung yang ia kenakan lusuh bercampur lumpur di genggamannya, tapi Amira menunjukkan ekspresi senyum melegakan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Adegan itu cukup untuk Dhani. ‘Kau telah mewujudkan impian itu..’
“Terima kasih, Amira”
Mesin ilustrator itu bekerja dengan sangat baik.
***
Tiga hari telah berlalu.
Lima lembar lukisan ilustrasi telah selesai dengan sempurna. Selain Amira yang professional dan kompeten dalam pekerjaannya, ia mendapat pemandangan terakhir bab yang ingin ia sempurnakan. Pemandangan yang selama ini ingin ia lihat. Dhani salut dan berterima kasih.
“Apakah aku bisa melihatnya lagi?”
Amira berbalik di pintu keluar.
“Mustahil tuan” Nyatanya ia tidak mau melakukannya lagi. Bibirnya menyunggingkan senyum di wajahnya yang datar. “Namun aku bisa menggambarkanmu lagi, imaji yang ada dalam kepalamu”
Dhani mengangguk mantap. “Itu cukup untukku”
Boyolali, 26 Juli 2023
(Dari buku : 'Mata Berlian' - 2023 - Karya Khanif Fauzan)
Kala itu si kecil Rin yang berusia enam tahun sakit panas. Di malam mencekam, ia dekap anak perempuan semata wayangnya menempuh perjalanan darat menggunakan delman, dua jam menuju kota. Namun, entah takdir sial macam apa yang lewat, badannya telah dingin. Sedingin hujan yang menggemresikkan memori masa lalunya. Anak perempuannya yang selalu berbinar bagai berlian telah meninggal. Sendiri, ia tinggal di tepi danau menatap hujan.
Ia mengimpikan kembali bertemu dengannya, namun rasanya mustahil.
Esok pagi, Dhani sampai di kantor penerbitan majalah bulanan untuk bertemu dengan editor yang menanyakan revisi bab novelnya yang berjudul : “Meniti Jalan Menuju Angkasa”.
“Sepertinya kau stuck menuju bab terakhir, apakah ada masalah?”
“Block writers biasa dialami penulis sepertiku, aku akan segera mengirimkan kelanjutannya”
“Kau tidak bisa melanjutkan cerita ini, well, kulihat sikapmu yang menolak beberapa ilustrasi untuk penerbitan bab selanjutnya membuatku kelimpungan, apa yang kau pikirkan? Kau harusnya membuat ini menjadi mudah saja”
Dhani, melirik ke arah mesin tik di sudut jendela. “ Tiga gambar yang kau ajukan tidak sesuai ceritaku, makannya aku kemari untuk membuatnya mudah. Bagaimana jika aku saja yang membuat ilustrasi bab terakhir?”
“Gambarmu parah sekali, itu akan hancur seperti enam bulan kemarin. Aku sudah menebak, kau akan mengatakan itu. Makannya aku telah menyiapkan ini untukmu, lihat”
Dhani menerima brosur. “ Apa ini?”
“Kau bisa mengggunakan jasa mesin ilustrator untuk mewujudkan idealisme di kepalamu itu. Mesin ini sedang populer di kota bulan ini. Harga sewa per ilustrasinya agak mahal, namun kau bisa memikirkannya”
Ia baca seksama informasi dalam brosur.
“Aku tidak mau menerima review buruk dari pembaca lagi. Kau akan mengambilnya”
“Masa sewa hanya tiga hari?”
“Hanya dengan bualanmu, lima ilustrasi tercipta dengan waktu sesingkat itu””
Dhani mengangguk. Ide yang sangat menarik.
***
‘Tok-tok’
“Masuk!”
Pesanannya datang, Dhani terpana.
“Selamat siang tuan, perkenalkan nama saya Amira. Saya adalah mesin ilustrator yang di sewa selama tuan ingin mewujudkan dunia dalam kanvas...”
Seorang gadis muda, kerudungnya merah kirmizi, rok semata kaki bersepatu bot cokelat. Tidak ada alat atau semacamnya, ia hanya membawa satu koper besar dan lima ikat kanvas.
”Kau mesin ilustrator itu? Kukira itu mesin cetak atau semacamnya...”
Mesin ilustrator adalah istilah yang digunakan pada masa revolusi industri sekarang, untuk menyebut seorang pelukis handal yang bekerja secanggih mesin.
“Dan kau salah satu yang terbaik?”
Gadis muda itu mengangguk. Matanya mengkilat seperti boneka. “Saya akan tinggal selama tiga hari disini, mohon kerjasamanya”
***
Tidak pernah ia kira, yang datang adalah seorang gadis muda.
“Dimana saya akan mulai bekerja tuan?”
Dhani menunjuk kamarnya yang berantakan. “Kau bisa menggunakan ruanganku untuk bekerja, namun aku perlu sedikit merapikannya”
Amira melihat ruang tamu disekitarnya sangat berantakan. “Apakah kau tidak pernah membersihkan rumahmu?”
“Akan ku rapikan, kau bisa menaruh beberapa barangmu terlebih dahulu” Dhani menunjuk kamar belakang yang kosong.
Amira meletakkan kopernya ke dalam kamar, sementara Dhani masih memikirkan gambar macam apa yang akan ia buat bersama gadis ini. Ada gadis muda cantik di rumahnya, dan akan tinggal beberapa hari berdua. Sayang itu lebih terasa ayah dan anak menyadari umurnya telah hampir berkepala empat.
‘Fuuh’ kepul asap rokok melayang.
Sebuah sapu disodorkan oleh Amira. Dahi Dhani mengkerut.
“Tuan, kau akan membersihkannya sekarang”
“Sebentar, kita bisa melakukannya esok hari. Kau istirahatlah dahulu..”
“Kita akan langsung mengerjakannya. Aku adalah ilustrator, bukan pembantu”
Dhani menerima sapu. “O..oke?”
Amira sangat kaku dan blak-blakan.
***
Semburat sore meremang di halaman.
Cerita yang ditulis Dhani adalah, tentang seorang anak kecil yang kehilangan ayahnya di medan perang. Sang anak menderita penyakit leukemia yang mengharuskannya istirahat total dari segala macam aktifitas. Dia selalu mengurung diri kamar, menghabiskan waktunya berbincang dengan para peri yang bersedia membuatkannya jalan menuju angkasa. Ia selalu mencari kebenaran dimana sang ayah, dan dia berharap untuk bisa terbang dengan sepasang sayap di punggungnya.
“Sang ayah adalah seorang gerilyawan yang meski berjuang di dalam goa sekalipun, dia selalu membawa foto anaknya sembari mencari jalan pulang. Di hari pertemuan itu, sang ayah berjalan pincang di pinggiran danau, meneriaki anaknya yang merangkak tertatih mendekatinya. Kau akan membuatkan lima ilustrasi untuk adegan klimaks, terutama adegan saat para peri berkumpul membuatkan jalan menuju angkasa. Itu akan menjadi akhir pencariannya selama ini”
Amira membolak-balik beberapa naskah. Dhani menunjukkan goresan kasar ilustrasi pensil yang ia buat, suasana medan perang yang dipenuhi ledakan mortir, adu pedang, dan seorang ayah yang berdiri di padang rumput melambaikan tangan. Banyak sekali bekas sidik jari dimana-mana.
“Tuan, sketsamu buruk sekali”
“Aku tahu, kau tak perlu memperjelasnya. Itulah mengapa kau ada disini untuk membantuku”
Mata cokelatnya lekat menatap sketsa ledakan dari barisan meriam. Amira coba menerkanya.
“Membaca ceritamu, mengingatkanku akan Perang Dunia yang terjadi sepuluh tahun yang lalu tuan. Kau menggambar persis adegan kavaleri yang hancur dari jarak ratusan meter akibat letusan meriam, kulihat bawah lehermu ada bekas sayatan”
“Rupanya kau memperhatikanku. Aku salah satu sukarelawan yang terlibat dalam peristiwa itu. Pasti editorku di kota memberitahumu tentang hal ini?”
“Tidak, tuan.”
Amira meletakkan naskah, lalu memasang kanvas di jepitan. Ia buka kedua sarung tangannya, terlihat rangkaian besi menyusun pergelangan hingga ujung jemarinya yang kaku. Sebuah tangan mekanik.
“Aku paham, sebab pemandangan itu pernah kusaksikan secara langsung ”
Dhani terpaku beberapa saat. “Astaga tanganmu.. kau bekerja selama ini dengan tangan itu?”
“Aku ikut berperang hingga ledakan melenyapkan kedua tanganku, tuan, tapi kau tak perlu sangsi mengenai hasil kerjaku. Aku akan menggambarkannya persis seperti imajinasimu”
Dengan lembut, Amira mulai menggoreskan kuas bercat hitam membentuk pola karakter. Sesekali ia melirik pada sketsa Dhani, ia menambahkan beberapa warna terang untuk suasana langit, api, dan karakter manusia yang saling beradu dalam adegan di medan laga.
“Cepat sekali..” Dhani terpana.
Rembulan terang meremang, Amira menyelesaikan tiga sketsa ilustrasi pertama.
***
Esok paginya.
‘Tok-tok!’
“Dhanii! Bersihkan ruanganmu! Siapkan mejanya! Edgina dataaangg...~”
Bibi Edgina, istri dari kepala desa sekonyong-konyong datang menyeruak ke ruang tamu. Dia membawa nampan berisi roti canai, baklava, dan pie apel untuk acara makan bareng dadakan, khusus untuk Dhani yang sekian lama malam-malam sendirian.. lalu ada gadis yang datang..
“Aku yang mengantar dia kemarin”
Bibi Edgina lugas menghapus keheranan di wajah Dhani yang cringe, kenapa istri kepala desa yang berisik ini tiba-tiba langsung akrab dengan Amira si gadis kemarin sore?
“Kau tidak diapa-apain sama buaya ini kan nak?” Bibi Edgina menunjuk langsung ke muka Dhani.
Amira menatapnya datar. “Apa ini waktunya perayaan?”
“Kau jangan menanyakan hal-hal aneh. Aku tidak melakukan apapun!”
“Sangat aneh bila tiba-tiba kau memesan wanita yang tinggal beberapa waktu denganmu, lalu tidak terjadi apapun. Kau pikir aku sebodoh itu?”
Dhani si duda paruh baya kena mental ditembak langsung seperti itu. Padahal Amira menempati ruangan khusus di belakang yang selalu terkunci, sementara ia tidur di sofa yang sekarang bersih itu. ”Aku tidak berminat pada gadis muda sepertinya, itu lebih seperti ayah dan anak...”
“Bibi..” Amira menyela. “Tuan sangatlah kotor dan bau. Aku menghabiskan sebagian waktuku membersihkan rumah ini, agar leluasa bekerja. Tapi dia selalu mengelak seperti tikus, dan kukira kau harus menasehatinya tentang hal itu”
Mendengar itu, Bibi Edgina tertawa. “Astaga, kau benar. Dia memang tikus. Bapaknya para tikus malah...”
“Hei, aku tidak sekotor itu!” sergah Dhani.
“Asal kau tahu nak, lelaki tua ini bertahun-tahun meringkuk macam trenggiling sendirian di rumah ini. Sampai ada angin apa, dia tiba-tiba kedatangan gadis muda sepertimu yang penasaran tentang dirinya. Aku heran, ada urusan apa? Tapi bukan urusanku pada kehidupan pribadimu, aku senang melihat sinar di matamu setelah sekian lama.. ”
Suasana menjadi cair, sembari menyantap hidangan yang terhampar di meja. Ada suasana familier asing yang membuat dadanya panas. Tak terasa air keluar dari matanya, menyadari betapa ia kesepian selama ini. Dhani berusaha menghapusnya.
“Kau kelilipan tuan?”
Bibi Edgina tergelak mendengar tanggapan polos Amira.
***
Di pinggir danau, berjalan dua menit ke arah tenggara, Dhani dan Amira meletakkan perlengkapan untuk membuat ilustrasi akhir cerita novel yang ditulis Dhani. Kanvas di siapkan, palet ada di tangan Amira. Dhani malah memakaikan Amira topi bundar berbulu merak.
“Kau tidak bisa langsung menggambarnya. Bisakah kau memerankan protagonis di akhir cerita?”
“Memang kenapa? Apa yang terjadi dengan si tokoh utama?”
“Di akhir cerita, sang anak bertemu dengan ayahnya di seberang danau, dan ia berdiri dari kursi rodanya dan berlari. Ia melangkah di atas permukaan air sementara para peri membuatkannya jembatan cahaya menuju seberang sana… ”
“Manusia tidak bisa berjalan di atas air”
“Aku tahu, namun kita bisa membuatnya berbeda jika dia mendapatkan kekuatan para peri yang datang dari angkasa”
“Karakternya sangat kontras denganku, tuan. Gadis ini periang dan lugu, sementara kau tidak melihat itu dariku”
“Tidak, jika kepalamu tertutupi topi itu, kau sangat mirip dengannya”
Ia menyuruh Amira berganti kostum untuk memerankan tokoh protagonis. Meskipun Amira tidak mengeluh mengerjakan pekerjaan rumah seperti bersih-bersih, memasak, melakukan ini itu seperti pembantu, bahkan lebih profesional, tetap saja dia ber-puh sebal.
“Tuan, tugasku untuk membuat ilustrasi, aku tidak mau jika kau meminta selain itu”
“Postur tubuhmu, wajahmu.. kau mengingatkanku pada anakku yang telah meninggal enam tahun lalu. Kau satu-satunya yang bisa memerankannya”
“Tapi tuan, itu tidak ada dalam kontrak. Aku tidak bisa menjadi anak atau selirmu, kau membutuhkan alternatif lain untuk mengatasi writer’s block-mu”
“Aku tidak berminat pada gadis muda sepertimu, maksudku, aku ingin ilustrasi terakhir itu kulihat dengan mata kepalaku seperti medan perang dulu. Dalam benakku, gambaran itu tidak ada. Kumohon, hanya kau yang dapat mewujudkannya”
Penolakan Amira perlahan runtuh.
“Jika putriku masih hidup.. kurasa dia tumbuh ceria sepertimu, aku ingin impian itu menjadi nyata. Kau akan dapat melukiskannya pula”
“Bahkan jika itu hanya satu adegan, apakah kau akan mengingatnya?”
“Aku bisa menggambarkannya melalui kata-kata”
Amira mengangguk, dia memakai topi bundar yang menyembul dua bulu merak itu.
“Aku adalah mesin ilustrator. Untuk mewujudkan dunia dalam imajinasi, semuanya harus sesuai dengan keinginan tuan”
Kostum yang dimaksud adalah rompi berenda, topi bundar, dan payung bulat. Amira memakainya, dan berlari mengitari sisi danau hingga berhenti diantara ilalang dan guguran daun. Dhani menatapnya seksama, namun ia tak menyangka Amira akan melakukan yang lebih dari bayangannya.
“Amira, berhenti!”
‘Zrrash…’
Dengan meyakinkan diri, Amira mengambil ancang-ancang dan melompat. Satu hentakan tanah membuatnya terbang. Angin berhembus menerbangkan syal kerudung merah, payungnya terkembang. Roknya menggelembung diantara helai daun yang detik itu melambat. Satu kerjap semua berhenti, seolah Dhani melihat para peri tengah membangun jembatan di ujung kaki Amira. Jembatan cahaya yang membuncah, seolah dia tidak pernah hilang dari dunia ini.
Seorang gadis yang topinya terbang melayang.
‘Aku ingin selalu dipanggil ayah olehmu’
“Ayah, aku akan menunjukkanmu keajaiban di danau itu, yah, danau tempat kita melihat burung-burung berterbangan di atas air. Kau menceritakan surga, ketika kita berlayar menggunakan sampan kecil melihat barisan pegunungan. Ada kebahagiaan disitu, keajaiban matahari pagi yang muncul kala kita berselimut kain. Suatu hari, akan kutunjukkan padamu, yah, suatu hari..”
Berkelindan memori ketika si kecil menunjukkan gambar crayonnya pertama kali. Si tinggi dan si kecil bergandengan di danau. Selalu ceria, meski piatu sejak lahir setelah sang isteri melahirkannya.
“Suaramu lebih indah dari desau angin..”
“Ayah, aku akan tumbuh tinggi dan cantik, untuk menemanimu..”
“Kau lebih cantik dari mentari pagi...”
“Akan kutunjukkan padamu impianku, ayah, bersamamu terbang diantara burung-burung albatros, untuk menyampaikan pesan, bahwa aku sangat mencintaimu”
“Ah, kurasa benar. Kau telah berjanji namun aku lupa semuanya.. aku mengharap untuk menemuimu sekali lagi, berjanji akan memelukmu hangat, menghindarkanmu akan badai hujan yang kelam itu.. maukah engkau membiarkanku menyentuhmu sekali lagi? Menyediakan air hangat untukmu mandi, menyiapkan sarapan pagi yang senantiasa kita warnai dengan teh dan pie apel favoritmu, dan berburu ikan untuk kitty si kucing yang imut.. maukah kau hadir kembali? Untuk membiarkanku memeluk semua kenangan itu, semua desau angin yang perlahan memudar tertutupi keegoisanku melupakan kesedihan… namun seharusnya aku mendengarkan kalimat yang berulang-ulang itu..
“Untuk mengucap terima kasih, dan salam perpisahan, bahwa kenangan ada untuk impian bersamamu di surga…
‘Kau selalu hadir untuk menemaniku‘
Tak terasa lelehan intan mengalir di pipinya. “Eh.. eh?” matanya panas untuk menahannya. Waktu terasa diputar kembali. Imaji sosok yang hadir di matanya lenyap seperti gelembung sabun. Ia sedikit menyesal, namun bayangan itu cukup untuk membuatnya sadar bahwa sebenarnya ia sangat merindukannya.
“Tuan!”
Dhani tersadar.
“Apakah anda melihatnya? Saya dapat maju selangkah..”
Sebenarnya ia tidak dapat melihat sebab air menutupi matanya.
“Ya, aku melihatnya”
Amira benar-benar basah kuyup oleh air danau. Tetesannya merembes dari rok serta lengan panjang yang penuh lumpur dan daun kering. Topi dan payung yang ia kenakan lusuh bercampur lumpur di genggamannya, tapi Amira menunjukkan ekspresi senyum melegakan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Adegan itu cukup untuk Dhani. ‘Kau telah mewujudkan impian itu..’
“Terima kasih, Amira”
Mesin ilustrator itu bekerja dengan sangat baik.
***
Tiga hari telah berlalu.
Lima lembar lukisan ilustrasi telah selesai dengan sempurna. Selain Amira yang professional dan kompeten dalam pekerjaannya, ia mendapat pemandangan terakhir bab yang ingin ia sempurnakan. Pemandangan yang selama ini ingin ia lihat. Dhani salut dan berterima kasih.
“Apakah aku bisa melihatnya lagi?”
Amira berbalik di pintu keluar.
“Mustahil tuan” Nyatanya ia tidak mau melakukannya lagi. Bibirnya menyunggingkan senyum di wajahnya yang datar. “Namun aku bisa menggambarkanmu lagi, imaji yang ada dalam kepalamu”
Dhani mengangguk mantap. “Itu cukup untukku”
Boyolali, 26 Juli 2023
(Dari buku : 'Mata Berlian' - 2023 - Karya Khanif Fauzan)
TAGS: cerpen, mata berlian


