CERPEN • 03 Oct 2026 • 62x dibaca
Rambut
"Hei, kakak..." Suara gadis itu menghentikan langkah. "Apakah kau suka rambut?"
TOMY adalah sosok terbaik orang biasa. Seperti anak-anak seusianya, rutinitasnya sederhana: berangkat sekolah, pulang main game, dan tidur. Punya beberapa teman. Berbicara seperlunya, menjaga jarak dari masalah. Tanpa menonjolkan kelebihan atau cari simpati orang, Tomy menjalani hidup dengan tenang, setenang anak sungai yang mengalir perlahan. Tapi seperti anak sungai, hidupnya mengalir tanpa arah yang jelas.
Ia murah senyum setiap kali menyapa. Teman-teman di sekolah baik-baik padanya. Seolah tak tersentuh masalah. Meski tiap hari ia melihat sosok Andi yang dibuli di kamar mandi sekolah, atau menyaksikan Ratih dan kawan-kawan perempuannya diganggu para lelaki iseng, ia memilih diam. Semua itu bukan urusannya. Lagipula, ia tidak sendiri. Ada ratusan siswa lain yang juga bersikap sama. Diam.
Diam dan tak ikut campur masalah adalah ciri orang baik, bukan?
***
Tomy bangkit dari kursi, bel pulang telah berdentang.
‘Tap... tap... tap...'
Suara langkahnya sendiri yang terdengar, sepi di tengah keramaian murid yang berebut keluar kelas. Seolah terkurung dalam kotak kaca kedap suara, melihat tanpa benar-benar merasakan. Tiap kali lewat gerbang sekolah, ia hanya ingin segera sampai rumah. Baginya, sekolah merupakan beban, orang-orang di dalamnya hanyalah robot. Memenuhi teori tanpa benar-benar diterapkan sebagai manusia yang punya rasa.
Jarak rumah ke sekolah tak jauh, tapi ia selalu memilih jalan memutar. Membiarkan pikiran melayang ditengah keheningan langkah. Menutup telinga dan respon kulit terhadap kepekaan lingkungan sekitar yang juga tidak berempati.
Angin sore menemaninya melintasi kompleks perumahan, sampai di gang sempit di antara dinding mal yang menjulang tinggi. Ia biasa melangkahi ceceran sampah dan genangan air comberan. Tapi nampak ada sesuatu yang lain.
"Kakak..." Bisikan lirih terdengar dari belakang.
Tomy menoleh. Di dekat tumpukan sampah busuk, sosok gadis kecil tersungkur. Ia mengenakan gaun berenda selutut yang kusam. Kaus kaki putih lusuh tanpa alas kaki. Wajahnya pucat bagai porselen, bibirnya merekah merah. Rambutnya tergerai lembut di bahu, membingkai leher jenjang yang dihiasi kalung perak. Apa yang dilakukan seorang gadis di tempat kumuh seperti ini?
"Apa yang kau lakukan?" Tomy bertanya ragu.
Si gadis tersenyum tipis.
"Apakah kau tersesat? Atau ada yang menyakitimu? Gadis kecil tidak seharusnya berada disini..." Tomy mencoba peduli. Kenyamanannya terusik.
Gadis itu mendelik.
"Maukah kau kupanggilkan polisi?" Tomy kembali bertanya.
Senyum di wajah gadis itu mengembang, menciptakan ekspresi aneh.
"Hei..." Tomy makin gelisah. "Katakan sesuatu."
Gadis itu tetap diam. Mata sipitnya seperti sabit. Tengkuk Tomy meremang. Ia merasa ada yang tidak beres. Dengan hati-hati, ia melangkah mundur, membalikkan badan.
"Hei, kakak..."
Suara gadis itu menghentikan langkah.
"Apakah kau suka rambut?" tanyanya lembut.
Tomy menoleh pelan. Jantungnya berdegup kencang.
Udara di sekitarnya terasa berat. Gadis itu masih tersungkur dekat tempat sampah. Mata merah dengan iris hitam menatapnya tajam. Senyumnya melebar, menampilkan sepasang taring mungil yang menyembul dari bibir. Ada jejak darah sepanjang jalan di gang itu.
Tanpa menjawab, Tomy berbalik lalu berlari meninggalkan gadis aneh itu. Rasa takut yang aneh menjalari tubuhnya. Ia terus berlari hingga menemukan petugas keamanan di sekitar mal. Nafasnya masih tersengal, ia membawa petugas kembali ke gang tersebut.
Anehnya, gadis itu sudah menghilang. Tak ada jejak darah, seolah ia tak pernah ada.
Tomy menghela napas, mencoba menenangkan dirinya. Saat meninggalkan gang itu, seutas rambut melilit pergelangan kakinya, mengikat dalam sunyi yang mencekam.
***
Rutinitas biasa terulang lagi dalam kebosanan. Hujan menghembuskan aroma dingin. Kantuk menyerang mata-mata yang lelah di dalam kelas. Tomy terus menggaruk kaki kanannya. Gatal. Tak berbekas.
‘Plak!’
"Hei, Tom! Mau denger cerita misteri yang baru kudapat hari ini?" Arfan menepuk pundaknya. Tomy melengos malas.
"Aku punya cerita yang nggak kalah mengerikan malah. Tentang orang yang belum bayar hutang-"
Arfan menunjukkan telunjuk. "Eits, simpen dulu buat nanti malem. Giliran gue cerita sekarang, coy!"
Gatal di kaki Tomy semakin menjadi. "Cerita apaan sih?"
"Ini, urban legend kota yang terkenal beberapa tahun lalu. Kemarin aku udah cerita tentang wanita bermulut sobek, ngeri kan? Sekarang giliran cerita tentang 'Puteri yang Manis.'"
Tomy menghela napas panjang, tapi diam-diam rasa penasarannya terusik.
"Ceritanya gini," Arfan memulai dengan nada berbisik. "Ada seorang puteri yang tinggal di rumah mewah. Ayahnya kaya raya, pengusaha manufaktur. Hidupnya serba kecukupan. Walau semua orang baik padanya. Tapi semua berubah semenjak keponakan lelakinya pulang dari luar negeri. Rumah itu jadi punya satu penghuni tambahan, selain ayah dan dua pembantu.
"Sayangnya, keponakan ini licik kayak rubah. Penuh tipu muslihat buat melancarkan niat jahat. Tiap ayahnya kerja, si puteri jadi mainan. Tubuh mungilnya sekarang penuh lebam, tertutupi renda-renda pakaian. Badannya sakit. Hatinya lebih sakit lagi, dia selalu dilecehkan. Kayak merpati tanpa sayap berada di rahang serigala. Tapi dia nggak berani bilang ke siapapun. Ancaman kematian bikin lidahnya kelu.
"Sampai akhirnya, si keponakan nyuruh puteri buat meracuni ayahnya. Dia nolak. Dia buang bubuk racun itu ke kamar mandi. Si keponakan yang tahu jadi marah besar. Malam itu, di bawah hujan deras, dia bawa si puteri ke kamar mandi. Pisau belati menggores punggung si puteri berkali-kali. Perih. Satu lantai merah semua. Pikiran si puteri jadi kosong."
Garukan Tomy perlahan melembut. "Terus?"
"Monster itu mulai bosan menyiksa si puteri. Ayahnya merasa kasihan lihat putrinya murung terus. Makan nggak mau, tidur pun susah. Tiap malam, dia duduk di jendela, menatap rembulan. Mengingat almarhum ibunya yang meninggal saat ia berusia lima tahun. Suatu malam, si keponakan mengancam lagi, 'Kalau besok malam nggak nurut, aku bunuh kau!'"
"Tapi naas," lanjut Arfan dengan suara lirih, "Esok malam, si puteri yang entah darimana mentalnya, menggorok leher keponakan itu saat dia tidur. Belati itu menghujam dalam, kepalanya hampir putus. Para pembantu yang tahu bilang si puteri sudah gila. Ayahnya pun dengan berat hati, membawanya ke rumah sakit jiwa."
"Serem amat," Tomy merasa merinding.
"Eit, tunggu dulu, itu belum seberapa.." Arfan melanjutkan, "Di rumah sakit jiwa, si puteri suka senyum sendirian. Senyum manis dalam kegilaan. Tiap ingat siksaan itu, dia menggoreskan kuku tajamnya ke lengan sampai berdarah. Bahkan luka-luka di lengannya dia jahit sendiri pakai jarum dan benang.
"Yang lebih serem lagi, fakta sebenarnya dalam cerita ini tuh begini. Sebelum si puteri dibawa ke rumah sakit jiwa, jasadnya sebenarnya sudah membusuk dekat tumpukan sampah sudut gang. Sehabis membunuh si keponakan, dia bunuh diri dengan menenggak racun. Nah, pertanyaannya... siapa yang jadi pembunuh di rumah sakit jiwa itu?" Arfan menyeringai.
Tomy mengangkat alis. "Maksud lo? Si puteri sebenarnya.."
"Ya jelas, Tom. Si puteri sudah jadi hantu. Dia gentayangan dan menghantui siapa aja yang di panggil 'kakak.' Kalau kau dengar dia berkata, 'Kakak, apa kau suka rambutku?' Jangan pernah jawab atau tatap matanya. Kalau kau bicara atau menyapanya, dalam tiga hari kau bakal mati."
"Kalau aku menjawab gimana?" potong Tomy.
"Kalau kau jawab, dia bakal mencintaimu, kakak. Dia butuh perhatian. Kalau kau menyentuh rambutnya, dia bakal kabulkan permintaanmu. Tapi nyawamu di ujung tanduk."
Arfan menepuk lengan Tomy. "Udah ah, jangan melamun!"
Tomy tersadar dari lamunannya. Tengkuknya terasa dingin. Rasa takut perlahan menyusup ke dadanya.
"Serem banget, Fan. Gue nggak mood denger cerita horor lagi."
"Cemen," Arfan cengengesan. Ia beranjak dari kursinya. Namun, tiba-tiba ia berhenti.
"Eh, Tom..."
"Apaan lagi?"
Telunjuk Arfan mengarah ke lantai. "Lihat di bawah kakimu."
Tomy menunduk. Di bawah telapak kakinya berserakan helai rambut yang menggulung rontok. Kakinya tampak menghitam, bekas garukannya terlilit sehelai rambut panjang. Aromanya harum. Terlalu harum.
Dan di sudut matanya, ia bisa melihat... sosok lolita mungil sedang bergelantung di kakinya, tersenyum manis.
Semarang, 2017
(Dari buku : 'Integral' - 2026 - Karya Khanif Fauzan)
Ia murah senyum setiap kali menyapa. Teman-teman di sekolah baik-baik padanya. Seolah tak tersentuh masalah. Meski tiap hari ia melihat sosok Andi yang dibuli di kamar mandi sekolah, atau menyaksikan Ratih dan kawan-kawan perempuannya diganggu para lelaki iseng, ia memilih diam. Semua itu bukan urusannya. Lagipula, ia tidak sendiri. Ada ratusan siswa lain yang juga bersikap sama. Diam.
Diam dan tak ikut campur masalah adalah ciri orang baik, bukan?
***
Tomy bangkit dari kursi, bel pulang telah berdentang.
‘Tap... tap... tap...'
Suara langkahnya sendiri yang terdengar, sepi di tengah keramaian murid yang berebut keluar kelas. Seolah terkurung dalam kotak kaca kedap suara, melihat tanpa benar-benar merasakan. Tiap kali lewat gerbang sekolah, ia hanya ingin segera sampai rumah. Baginya, sekolah merupakan beban, orang-orang di dalamnya hanyalah robot. Memenuhi teori tanpa benar-benar diterapkan sebagai manusia yang punya rasa.
Jarak rumah ke sekolah tak jauh, tapi ia selalu memilih jalan memutar. Membiarkan pikiran melayang ditengah keheningan langkah. Menutup telinga dan respon kulit terhadap kepekaan lingkungan sekitar yang juga tidak berempati.
Angin sore menemaninya melintasi kompleks perumahan, sampai di gang sempit di antara dinding mal yang menjulang tinggi. Ia biasa melangkahi ceceran sampah dan genangan air comberan. Tapi nampak ada sesuatu yang lain.
"Kakak..." Bisikan lirih terdengar dari belakang.
Tomy menoleh. Di dekat tumpukan sampah busuk, sosok gadis kecil tersungkur. Ia mengenakan gaun berenda selutut yang kusam. Kaus kaki putih lusuh tanpa alas kaki. Wajahnya pucat bagai porselen, bibirnya merekah merah. Rambutnya tergerai lembut di bahu, membingkai leher jenjang yang dihiasi kalung perak. Apa yang dilakukan seorang gadis di tempat kumuh seperti ini?
"Apa yang kau lakukan?" Tomy bertanya ragu.
Si gadis tersenyum tipis.
"Apakah kau tersesat? Atau ada yang menyakitimu? Gadis kecil tidak seharusnya berada disini..." Tomy mencoba peduli. Kenyamanannya terusik.
Gadis itu mendelik.
"Maukah kau kupanggilkan polisi?" Tomy kembali bertanya.
Senyum di wajah gadis itu mengembang, menciptakan ekspresi aneh.
"Hei..." Tomy makin gelisah. "Katakan sesuatu."
Gadis itu tetap diam. Mata sipitnya seperti sabit. Tengkuk Tomy meremang. Ia merasa ada yang tidak beres. Dengan hati-hati, ia melangkah mundur, membalikkan badan.
"Hei, kakak..."
Suara gadis itu menghentikan langkah.
"Apakah kau suka rambut?" tanyanya lembut.
Tomy menoleh pelan. Jantungnya berdegup kencang.
Udara di sekitarnya terasa berat. Gadis itu masih tersungkur dekat tempat sampah. Mata merah dengan iris hitam menatapnya tajam. Senyumnya melebar, menampilkan sepasang taring mungil yang menyembul dari bibir. Ada jejak darah sepanjang jalan di gang itu.
Tanpa menjawab, Tomy berbalik lalu berlari meninggalkan gadis aneh itu. Rasa takut yang aneh menjalari tubuhnya. Ia terus berlari hingga menemukan petugas keamanan di sekitar mal. Nafasnya masih tersengal, ia membawa petugas kembali ke gang tersebut.
Anehnya, gadis itu sudah menghilang. Tak ada jejak darah, seolah ia tak pernah ada.
Tomy menghela napas, mencoba menenangkan dirinya. Saat meninggalkan gang itu, seutas rambut melilit pergelangan kakinya, mengikat dalam sunyi yang mencekam.
***
Rutinitas biasa terulang lagi dalam kebosanan. Hujan menghembuskan aroma dingin. Kantuk menyerang mata-mata yang lelah di dalam kelas. Tomy terus menggaruk kaki kanannya. Gatal. Tak berbekas.
‘Plak!’
"Hei, Tom! Mau denger cerita misteri yang baru kudapat hari ini?" Arfan menepuk pundaknya. Tomy melengos malas.
"Aku punya cerita yang nggak kalah mengerikan malah. Tentang orang yang belum bayar hutang-"
Arfan menunjukkan telunjuk. "Eits, simpen dulu buat nanti malem. Giliran gue cerita sekarang, coy!"
Gatal di kaki Tomy semakin menjadi. "Cerita apaan sih?"
"Ini, urban legend kota yang terkenal beberapa tahun lalu. Kemarin aku udah cerita tentang wanita bermulut sobek, ngeri kan? Sekarang giliran cerita tentang 'Puteri yang Manis.'"
Tomy menghela napas panjang, tapi diam-diam rasa penasarannya terusik.
"Ceritanya gini," Arfan memulai dengan nada berbisik. "Ada seorang puteri yang tinggal di rumah mewah. Ayahnya kaya raya, pengusaha manufaktur. Hidupnya serba kecukupan. Walau semua orang baik padanya. Tapi semua berubah semenjak keponakan lelakinya pulang dari luar negeri. Rumah itu jadi punya satu penghuni tambahan, selain ayah dan dua pembantu.
"Sayangnya, keponakan ini licik kayak rubah. Penuh tipu muslihat buat melancarkan niat jahat. Tiap ayahnya kerja, si puteri jadi mainan. Tubuh mungilnya sekarang penuh lebam, tertutupi renda-renda pakaian. Badannya sakit. Hatinya lebih sakit lagi, dia selalu dilecehkan. Kayak merpati tanpa sayap berada di rahang serigala. Tapi dia nggak berani bilang ke siapapun. Ancaman kematian bikin lidahnya kelu.
"Sampai akhirnya, si keponakan nyuruh puteri buat meracuni ayahnya. Dia nolak. Dia buang bubuk racun itu ke kamar mandi. Si keponakan yang tahu jadi marah besar. Malam itu, di bawah hujan deras, dia bawa si puteri ke kamar mandi. Pisau belati menggores punggung si puteri berkali-kali. Perih. Satu lantai merah semua. Pikiran si puteri jadi kosong."
Garukan Tomy perlahan melembut. "Terus?"
"Monster itu mulai bosan menyiksa si puteri. Ayahnya merasa kasihan lihat putrinya murung terus. Makan nggak mau, tidur pun susah. Tiap malam, dia duduk di jendela, menatap rembulan. Mengingat almarhum ibunya yang meninggal saat ia berusia lima tahun. Suatu malam, si keponakan mengancam lagi, 'Kalau besok malam nggak nurut, aku bunuh kau!'"
"Tapi naas," lanjut Arfan dengan suara lirih, "Esok malam, si puteri yang entah darimana mentalnya, menggorok leher keponakan itu saat dia tidur. Belati itu menghujam dalam, kepalanya hampir putus. Para pembantu yang tahu bilang si puteri sudah gila. Ayahnya pun dengan berat hati, membawanya ke rumah sakit jiwa."
"Serem amat," Tomy merasa merinding.
"Eit, tunggu dulu, itu belum seberapa.." Arfan melanjutkan, "Di rumah sakit jiwa, si puteri suka senyum sendirian. Senyum manis dalam kegilaan. Tiap ingat siksaan itu, dia menggoreskan kuku tajamnya ke lengan sampai berdarah. Bahkan luka-luka di lengannya dia jahit sendiri pakai jarum dan benang.
"Yang lebih serem lagi, fakta sebenarnya dalam cerita ini tuh begini. Sebelum si puteri dibawa ke rumah sakit jiwa, jasadnya sebenarnya sudah membusuk dekat tumpukan sampah sudut gang. Sehabis membunuh si keponakan, dia bunuh diri dengan menenggak racun. Nah, pertanyaannya... siapa yang jadi pembunuh di rumah sakit jiwa itu?" Arfan menyeringai.
Tomy mengangkat alis. "Maksud lo? Si puteri sebenarnya.."
"Ya jelas, Tom. Si puteri sudah jadi hantu. Dia gentayangan dan menghantui siapa aja yang di panggil 'kakak.' Kalau kau dengar dia berkata, 'Kakak, apa kau suka rambutku?' Jangan pernah jawab atau tatap matanya. Kalau kau bicara atau menyapanya, dalam tiga hari kau bakal mati."
"Kalau aku menjawab gimana?" potong Tomy.
"Kalau kau jawab, dia bakal mencintaimu, kakak. Dia butuh perhatian. Kalau kau menyentuh rambutnya, dia bakal kabulkan permintaanmu. Tapi nyawamu di ujung tanduk."
Arfan menepuk lengan Tomy. "Udah ah, jangan melamun!"
Tomy tersadar dari lamunannya. Tengkuknya terasa dingin. Rasa takut perlahan menyusup ke dadanya.
"Serem banget, Fan. Gue nggak mood denger cerita horor lagi."
"Cemen," Arfan cengengesan. Ia beranjak dari kursinya. Namun, tiba-tiba ia berhenti.
"Eh, Tom..."
"Apaan lagi?"
Telunjuk Arfan mengarah ke lantai. "Lihat di bawah kakimu."
Tomy menunduk. Di bawah telapak kakinya berserakan helai rambut yang menggulung rontok. Kakinya tampak menghitam, bekas garukannya terlilit sehelai rambut panjang. Aromanya harum. Terlalu harum.
Dan di sudut matanya, ia bisa melihat... sosok lolita mungil sedang bergelantung di kakinya, tersenyum manis.
Semarang, 2017
(Dari buku : 'Integral' - 2026 - Karya Khanif Fauzan)
TAGS: cerpen, horor, rambut


