REVIEW FILM • 30 Sep 2026 • 49x dibaca
Demon Slayer Infinity Castle : Kemerdekaan dari Para Hashira!
Saya benar-benar dibuat terpukau dengan film yang detail pertarungannya, iringan soundtrack, dan perubahan visualnya seakan membawa ke alam labirin yang penuh dendam, kemarahan, dan perjuangan yang bisa menitikkan air mata di antara kilatan pedang.
Di hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus 2025 kemarin, saya benar-benar dibuat terpukau dengan film yang detail pertarungannya, iringan soundtrack, dan perubahan visualnya seakan membawa ke alam labirin yang penuh dendam, kemarahan, dan perjuangan yang bisa menitikkan air mata di antara kilatan pedang.
Film itu berjudul Demon Slayer Infinity Castle Part One : Akaza Return, yang merupakan kelanjutan anime series Demon Slayer (dalam bahasa Jepang, Kimetsu no Yaiba) karangan Koyoharu Gotouge. Dalam arc movie infinity castle, mengisahkan pembalasan dendam para Hashira (pembasmi iblis) atas kematian orang terdekat akibat serangan iblis bulan atas yang semakin bertambah kuat.
Adegan pertama disuguhkan lewat seorang Hashira Batu bernama Gyoumei Himejima, tengah berziarah ke makam pendiri pemburu iblis bernama Kagaya. Dia bersimpuh di altar, sebagai penyesalan sebab sang pendiri tewas karena mengorbankan diri untuk memancing Muzan, pemimpin para iblis itu keluar. Para Hashira dikerahkan untuk memburu Muzan, setelah pemimpin para Iblis itu menyerang keluarga Ubuyashiki dan membunuh Kagaya. Ia melarikan diri dan bersembunyi di infinity Castle.
Ketika perburuan dimulai, seluruh Hashira dijebak dalam kastil yang berpindah seperti labirin tak berujung. Mereka segera dipisahkan oleh jebakan teror yang coba membunuh mereka satu per satu lewat serangan ratusan iblis tingkat rendah. Seluruh korps kehilangan kontak, sementara labirin Infinity Castle selalu berpidah tiap alunan petikan dawai, tanpa bisa mencari jalan keluar.
Tiga Pertarungan Utama : Serangan Iblis Bulan Atas
Para Hashira adalah sosok jenderalnya korps pembasmi iblis kalangan manusia. Ada tiga pertarungan besar yang mempertaruhkan nyawa dan kehormatan antara Hashira melawan Iblis bulan atas : Shinobu Kocho, Hashira serangga melawan Doma, iblis tingkat dua ; Zenitsu, si kekuatan petir, melawan iblis tingkat enam Kaigaku ; Kamado Tanjiro dan Tomioka Giyu Hashira air, melawan Akaza, iblis tingkat tiga.
Setiap emosi diceritakan dengan latar belakang dendam kepada para iblis. Seperti latar belakang Shinobu Kocho yang gigih menghabisi Doma, karena dahulu kakaknya yang merupakan Hashira, mati menjadi korban serangan sang iblis tingkat dua. Saya dapat melihat dalam film tersebut, karakter iblis adalah sosok yang menggunakan segala cara demi memenuhi ambisinya mendirikan kuasa iblis. Mereka ingin menghancurkan Hashira yang menghalangi jalan ambisi licik mereka secara fisik dan mental.
Shinobu Kocho mengeluarkan seluruh kemampuan tubuhnya dalam serangan racun, dalam menghadapi tebasan kipas Doma, yang tubuh dapat beregenerasi seketika, setiap kali tubuhnya hancur. Ia mengingat jelas kenangan saat kakaknya akan mati menyuruhnya untuk tidak menjadi Hashira dan hidup normal. Saya terkesima menyaksikan koreo visual saat adegan Shinobu menghindari serangan kilat dari Doma, bagaimana ia bisa menganalisis cermat proyeksi serangan, dan berusaha memanfaatkan momentum. Shinobu digambarkan sebagai karakter teguh yang cerdik. Tiap adegan emosional diiringi soundtrack dan permainan transisi visual 3D yang dimasukkan dalam 2D secara halus. Saya selalu menahan nafas dan berujar ‘astaga!’, tiap glegar tebasan pedang yang menyilaukan mata. Pertarungan yang sungguh epic!
Ia telah bersumpah akan membalas kematian sang kakak, namun naas mimpinya harus terkubur bersama tubuhnya yang telah mencapai batas. Sang Hashira serangga kalah setelah sengatan beracunnya yang menembus mata sang iblis, tak mampu menghalau es yang membekukan seluruh area. Serangan pamungkasnya gagal. Ia mati dipelukan Doma yang terharu atas kegigihannya, lalu perlahan tubuh Hashira serangga itu lenyap dimakan sang iblis.
Karakter iblis ditampilkan sebagai makhluk sombong, meremehkan, merusak, menghancurkan, demi menyedot dan memakan sumber daya manusia tanpa bertanggung jawab, secara sadis. Sementara sosok Hashira, adalah orang-orang yang telah merasakan derita emosional akibat pembunuhan sadis yang dilakukan para iblis pada orang tersayang. Mereka kemudian melatih diri dan jiwa hingga mencapai level kekuatan tertinggi, untuk menyerang para iblis demi membela manusia, meski harus berkorban nyawa.
Pertarungan kedua antara Agatsuma Zenitsu si kekuatan petir, melawan Kaigaku. Iblis bulan atas tingkat enam yang dulunya adalah seniornya saat masih menjadi manusia. Scene masa lalu diperlihatkan persahabatan antara Zenitsu dengan Kaigaku, yang merupakan murid dari Jigoro Kuwajuma, mantan Hashira Petir yang mendirikan perguruan seni bela diri. Zenitsu berkarakter penakut, berbeda jauh dengan Kaigaku yang berbakat dan mampu menguasai aliran petir dari jurus kedua hingga keenam. Sementara Zenitsu yang tekun, hanya mampu menguasai jurus tingkat satu.
Mengetahui Kaigaku memilih jalan iblis setelah tunduk pada Kokushibo ; iblis bulan atas tingkat satu, Jigoro sang guru tidak mampu menahan perasaan kecewa dan memilih mati dengan cara seppuku. Zenitsu yang sedih karena bunuh diri gurunya, bertekad menghadapi Kaigaku yang telah menjadi iblis dengan kekuatan petir berkali-kali lipat. Adegan pertarungan antar pengguna kekuatan petir, membuat saya sesak nafas akibat glegar visualnya sekaligus merasa simpati pada tokoh Zenitsu, yang mengalami konflik batin, karena melawan senior yang ia idolakan selama ini.
Di alam bawah sadarnya, Zenitsu bertemu sang guru yang ia panggil kakek, dan mendapat pesan emosional jika ia adalah kebanggannya. Ia yang tak terima cemoohan dari Kaigaku tentang sang guru yang lemah dan tak adil, mulai memakai jurus kilatan petir, yang segera ditangkis oleh sang iblis. Kaigaku terus mengeluarkan ejekan dan serangan bertubi-tubi, Zenitsu tetap tabah dan bertahan. Sampai pada seluruh kesadarannya, ia mampu mengaktifkan jurus petir ketujuh, dan berhasil menebas kepala Kaigaku lewat serangan petir.
Sang iblis tingkat enam dengan segala keangkuhannya, lenyap ditelan fakta bahwa ia kalah dari orang yang selama ini ia anggap anak ingusan dan penakut. Seluruh dinding kastil bergema oleh teriakan elang hitam yang memberitakan kematian sang iblis tingkat enam dan membangkitkan harapan.
Saya kira telah sampai pada akhir film, setelah menyaksikan dua pertarungan seru yang dan penuh kilas balik itu, ternyata keliru, Tokoh utama kita dalam Infinity Castle part 1, tentu saja adalah Kamado Tanjiro. Ia berperan utama sebagai perumpamaan sosok yang berjuang dari nol lalu berkembang memaknai sebab-akibat mengapa dendam itu terus ada. Ia melawan para iblis rendah bersama Hashira Air ; Tomioka Giyu, lalu dihadang Akaza sang iblis bulan atas tingkat tiga.
Pertarungan film ini langsung mencapai klimaksnya, saat Tanjiro mengeluarkan jurus air yang berusaha menebas Akaza saat sang iblis disibukkan melawan serangan Giyu. Dalam pertarungan ini, agaknya para kreator mencurahkan seluruh kemampuannya dalam perpaduan warna, visual efek, dan soundtrack emosional yang membangkitkan rasa gemas para penonton. Bagaimana seluruh kemampuan MC yang menyilaukan mata itu, tidak mampu menghentikan regenerasi Akaza yang terlalu overpower dan memiliki reflek yang baik. Mereka bertarung cukup adil, antara dua pedang pembasmi iblis dengan Akaza yang hanya tangan kosong. Iblis bulan atas tingkat tiga itu, selalu berkoar memprovokasi semangat dan gairah pertarungan, untuk membuktikan siapa yang lebih unggul.
Sementara waktu dan stamina karakter utama mencapai batas, mereka tidak kunjung menumbangkan Akaza yang semakin kuat sehingga memaksa untuk bertahan mati-matian. Tanjiro yang berusaha menemukan celah musuh, ia mundur sejenak, menganalisis pertarungan Akaza melawan Giyu. Saat Akaza melawan Giyu, kita diperlihatkan bagaimana kecerdasan analisis sang tokoh utama, memainkan peran penting dalam membandingkan antara kemampuan dirinya dengan kemampuan sang musuh yang tidak ada habisnya. Saya tak habis pikir, jika Tanjiro bisa menggunakan kata-kata sederhana yang dapat membuat musuh berhenti sejenak. Bagaimana ia bisa mengingatkan jika musuh kuat itu dulunya bayi yang lemah, lalu membutuhkan orang lain dalam pertumbuhannya. Dalam scene inilah, kejujuran sikap sang tokoh yang berjuang untuk menghentikan kejahatan yang ambisius dan merusak, diperlihatkan lewat kilas balik pembelajaran.
Tanjiro menghentikan semua rasa dendam dan amarah yang berkecamuk dalam hatinya. Ia murnikan setiap serangan dengan pemahaman baru, jika pertarungan ini dimaksudkan untuk menghentikan kesombongan para iblis. Ia merenungkan seluruh kejadian, menganalisis musuh, menemukan kelemahan, membangkitkan kekuatan pribadi, lalu melakukan serangan seefisien mungkin dalam beberapa detik pertarungan
Lalu lewat serangan pamungkas, jurus api Tanjiro pun mampu memenggal kepala sang iblis yang bertekad untuk terus beregenerasi. Akaza terkejut jika Tanjiro mampu lolos dari koordinat serangannya. Tebasan itu seakan bukan dari manusia yang bersemangat hidup. Itu seperti pohon, yang merupakan perumpamaan dari kemurnian sikap. Sementara para karakter utama terkapar lelah, kita diperlihatkan kilas balik masa lalu Akaza sebelum menjadi iblis.
Ia dulunya adalah manusia yang dianggap sampah, sering berbuat onar dan mencuri. Sampai suatu ketika, Akaza bertemu Keizo, seorang guru judo yang berbaik hati memberikannya kesempatan kedua memperbaiki hidup. Ia memiliki keluarga baru dan Koyuki, anak sang guru judo menjadi istrinya. Namun naas, intrik politik membuat keluarga barunya tewas mengenaskan. Akaza berubah menjadi sosok penuntut balas, yang membantai orang-orang yang terlibat atas kematian keluarganya. Sampai ia bertemu Muzan, yang memberinya kekuatan iblis untuk menjadi yang terkuat.
Iblis memberikan harapan kepada manusia yang putus asa terhadap kehidupan yang menyakitkan. Mereka memberi kekuatan baru dan arah untuk menuntaskan dendam kesumat pada manusia, namun dengan cara menimpakan penderitaan yang jauh lebih kejam daripada yang pernah dirasakan sebelumnya. Sebagaimana api yang perlahan membakar harapan dan rasa kasih sayang, akhirnya hanya tersisa perang, pembunuhan, penghancuran, dan derita tiada akhir.
Namun saat Tanjiro membangkitkan kesadaran Akaza lewat kata-kata dan kejujuran bersikap, keangkuhan sang iblis mulai terganggu akibat kilas balik yang tiba-tiba muncul di benaknya. Tanjiro dan Giyu yang tidak paham kenapa sang iblis berhenti, dikejutkan dengan keputusan Akaza untuk bunuh diri secara brutal, dengan meledakkan dirinya sendiri. Kemenangan mereka mengalahkan iblis bulan atas tangka tiga, diumumkan ke seluruh penjuru Infinity Castle oleh gagak Kasugai.
Amanat dan Nilai Moral
Film ini menggambarkan tekad dan usaha yang saling dibenturkan untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul, siapa yang berkembang dengan pemahaman baru. Shinobu Kocho yang terbakar dendam, tidak mampu mengalahkan Doma yang malah membuatnya putus asa. Zenitsu yang berupaya menyadarkan Kaigaku, akhirnya harus membunuh mantan seniornya demi menghentikan kejahatan, tapi penuh sesal dan kesedihan.
Lain halnya dalam pertarungan melawan Akaza. Berpikir itu melelahkan, namun Tanjiro dengan sabar melakukannya dalam pertarungan singkat. Ia mengendalikan rasa agar tidak terbakar dendam dan permusuhan, tetapi menjadikan alasan bahwa kejahatan memang harus dilawan, karena musuhnya berada di jalan yang salah.
Tanjiro menggunakan prinsip mengasihi musuh: menyerang argumen dan pemahaman yang keliru, sekaligus membangkitkan ingatan masa lalu musuhnya. Ia tidak hanya mengandalkan serangan fisik, melainkan membuat musuh berpikir ulang tentang apa yang sedang ia lakukan.
Musuh yang kuat bisa dikalahkan lewat pikirannya sendiri. Dengan cara ini, tanpa perlu banyak kekuatan, Tanjiro mampu membuka selubung pikiran musuh hingga membuatnya putus asa secara moral dalam perlawanan. Poin penting dalam pertarungan adalah bagaimana karakter terbentuk dari interaksi selama ini. Ternyata, musuh pun memiliki masa lalu yang indah, sebelum berubah akibat sebab kehidupan yang menyakitkan.
Akaza sebagai musuh lebih memilih jalan gelap dengan dendam sebagai puncak kendaraannya daripada hidup damai dengan masalahnya sendiri. Sejatinya, ia membenci dirinya sendiri karena tidak mampu melindungi orang yang ia cintai. Ia sosok yang tidak mampu mengendalikan diri. Tidak merdeka, berbeda dengan Tanjiro yang mampu memerdekakan rasa sehingga ia mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Menjadi orang yang dicintai dimulai dengan mengalahkan ego, lalu menghargai jerih payah, dan berterima kasih dengan memberi kepercayaan. Dari situlah rasa hormat muncul, respek melekat, dan hidup yang baik menjadi arah untuk saling membangun.
Film berdurasi 2 jam 35 menit ini telah tayang di bioskop seluruh Indonesia sejak 15 Agustus 2025, dan mendapatkan rating 8.7/10 versi imdb (2025). Menurut myanimelist, film yang disutradarai disutradarai Haruo Sotozaki dan Hikaru Kondou ini berada di rating 8.78, rank ke 37 populer per agustus 2025. Setiap adegan diwarnai background musik dari komposer legendaris Yuki Kajiura dan Go Shiina. "Taiyō ga Noboranai Sekai" (A World Where the Sun Never Rises) dinyanyikan oleh Aimer dan "Zankoku no Yoru ni Kagayake (Shine in the Cruel Night) dinyanyikan oleh LiSA.
Ufotable sebagai studio produksi film mendapatkan pujian luas dari kalangan penggemar Demon Slayer di seluruh dunia.
Daftar Pustaka :
CNN Indonesia. 2025. “Sinopsis Demon Slayer Kimetsu no Yaiba the Movie : Infinity Castle”. https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20250815171747-220-1262959/sinopsis-demon-slayer-kimetsu-no-yaiba-the-movie-infinity-castle (Diakses 08 September 2025)
https://myanimelist.net/anime/59192/Kimetsu_no_Yaiba_Movie__Mugen_Jou-hen (Diakses 07 September 2025)
Pradana, Shandy. 2025. “Review Demon Slayer the Movie : Pembuka Trilogi yang Epik”. https://www.idntimes.com/hype/entertainment/review-demon-slayer-the-movie-pembuka-trilogi-yang-epik-00-ffxpq-2ngvhn. (Diakses 08 September 2025)
https://id.wikipedia.org/wiki/Demon_Slayer:_Kimetsu_no_Yaiba_%E2%80%93_The_Movie:_Infinity_Castle
https://www.imdb.com/title/tt32820897/ (Diakses 07 September 2025)
Review Film - Oleh Khanif Fauzan
Film itu berjudul Demon Slayer Infinity Castle Part One : Akaza Return, yang merupakan kelanjutan anime series Demon Slayer (dalam bahasa Jepang, Kimetsu no Yaiba) karangan Koyoharu Gotouge. Dalam arc movie infinity castle, mengisahkan pembalasan dendam para Hashira (pembasmi iblis) atas kematian orang terdekat akibat serangan iblis bulan atas yang semakin bertambah kuat.
Adegan pertama disuguhkan lewat seorang Hashira Batu bernama Gyoumei Himejima, tengah berziarah ke makam pendiri pemburu iblis bernama Kagaya. Dia bersimpuh di altar, sebagai penyesalan sebab sang pendiri tewas karena mengorbankan diri untuk memancing Muzan, pemimpin para iblis itu keluar. Para Hashira dikerahkan untuk memburu Muzan, setelah pemimpin para Iblis itu menyerang keluarga Ubuyashiki dan membunuh Kagaya. Ia melarikan diri dan bersembunyi di infinity Castle.
Ketika perburuan dimulai, seluruh Hashira dijebak dalam kastil yang berpindah seperti labirin tak berujung. Mereka segera dipisahkan oleh jebakan teror yang coba membunuh mereka satu per satu lewat serangan ratusan iblis tingkat rendah. Seluruh korps kehilangan kontak, sementara labirin Infinity Castle selalu berpidah tiap alunan petikan dawai, tanpa bisa mencari jalan keluar.
Tiga Pertarungan Utama : Serangan Iblis Bulan Atas
Para Hashira adalah sosok jenderalnya korps pembasmi iblis kalangan manusia. Ada tiga pertarungan besar yang mempertaruhkan nyawa dan kehormatan antara Hashira melawan Iblis bulan atas : Shinobu Kocho, Hashira serangga melawan Doma, iblis tingkat dua ; Zenitsu, si kekuatan petir, melawan iblis tingkat enam Kaigaku ; Kamado Tanjiro dan Tomioka Giyu Hashira air, melawan Akaza, iblis tingkat tiga.
Setiap emosi diceritakan dengan latar belakang dendam kepada para iblis. Seperti latar belakang Shinobu Kocho yang gigih menghabisi Doma, karena dahulu kakaknya yang merupakan Hashira, mati menjadi korban serangan sang iblis tingkat dua. Saya dapat melihat dalam film tersebut, karakter iblis adalah sosok yang menggunakan segala cara demi memenuhi ambisinya mendirikan kuasa iblis. Mereka ingin menghancurkan Hashira yang menghalangi jalan ambisi licik mereka secara fisik dan mental.
Shinobu Kocho mengeluarkan seluruh kemampuan tubuhnya dalam serangan racun, dalam menghadapi tebasan kipas Doma, yang tubuh dapat beregenerasi seketika, setiap kali tubuhnya hancur. Ia mengingat jelas kenangan saat kakaknya akan mati menyuruhnya untuk tidak menjadi Hashira dan hidup normal. Saya terkesima menyaksikan koreo visual saat adegan Shinobu menghindari serangan kilat dari Doma, bagaimana ia bisa menganalisis cermat proyeksi serangan, dan berusaha memanfaatkan momentum. Shinobu digambarkan sebagai karakter teguh yang cerdik. Tiap adegan emosional diiringi soundtrack dan permainan transisi visual 3D yang dimasukkan dalam 2D secara halus. Saya selalu menahan nafas dan berujar ‘astaga!’, tiap glegar tebasan pedang yang menyilaukan mata. Pertarungan yang sungguh epic!
Ia telah bersumpah akan membalas kematian sang kakak, namun naas mimpinya harus terkubur bersama tubuhnya yang telah mencapai batas. Sang Hashira serangga kalah setelah sengatan beracunnya yang menembus mata sang iblis, tak mampu menghalau es yang membekukan seluruh area. Serangan pamungkasnya gagal. Ia mati dipelukan Doma yang terharu atas kegigihannya, lalu perlahan tubuh Hashira serangga itu lenyap dimakan sang iblis.
Karakter iblis ditampilkan sebagai makhluk sombong, meremehkan, merusak, menghancurkan, demi menyedot dan memakan sumber daya manusia tanpa bertanggung jawab, secara sadis. Sementara sosok Hashira, adalah orang-orang yang telah merasakan derita emosional akibat pembunuhan sadis yang dilakukan para iblis pada orang tersayang. Mereka kemudian melatih diri dan jiwa hingga mencapai level kekuatan tertinggi, untuk menyerang para iblis demi membela manusia, meski harus berkorban nyawa.
Pertarungan kedua antara Agatsuma Zenitsu si kekuatan petir, melawan Kaigaku. Iblis bulan atas tingkat enam yang dulunya adalah seniornya saat masih menjadi manusia. Scene masa lalu diperlihatkan persahabatan antara Zenitsu dengan Kaigaku, yang merupakan murid dari Jigoro Kuwajuma, mantan Hashira Petir yang mendirikan perguruan seni bela diri. Zenitsu berkarakter penakut, berbeda jauh dengan Kaigaku yang berbakat dan mampu menguasai aliran petir dari jurus kedua hingga keenam. Sementara Zenitsu yang tekun, hanya mampu menguasai jurus tingkat satu.
Mengetahui Kaigaku memilih jalan iblis setelah tunduk pada Kokushibo ; iblis bulan atas tingkat satu, Jigoro sang guru tidak mampu menahan perasaan kecewa dan memilih mati dengan cara seppuku. Zenitsu yang sedih karena bunuh diri gurunya, bertekad menghadapi Kaigaku yang telah menjadi iblis dengan kekuatan petir berkali-kali lipat. Adegan pertarungan antar pengguna kekuatan petir, membuat saya sesak nafas akibat glegar visualnya sekaligus merasa simpati pada tokoh Zenitsu, yang mengalami konflik batin, karena melawan senior yang ia idolakan selama ini.
Di alam bawah sadarnya, Zenitsu bertemu sang guru yang ia panggil kakek, dan mendapat pesan emosional jika ia adalah kebanggannya. Ia yang tak terima cemoohan dari Kaigaku tentang sang guru yang lemah dan tak adil, mulai memakai jurus kilatan petir, yang segera ditangkis oleh sang iblis. Kaigaku terus mengeluarkan ejekan dan serangan bertubi-tubi, Zenitsu tetap tabah dan bertahan. Sampai pada seluruh kesadarannya, ia mampu mengaktifkan jurus petir ketujuh, dan berhasil menebas kepala Kaigaku lewat serangan petir.
Sang iblis tingkat enam dengan segala keangkuhannya, lenyap ditelan fakta bahwa ia kalah dari orang yang selama ini ia anggap anak ingusan dan penakut. Seluruh dinding kastil bergema oleh teriakan elang hitam yang memberitakan kematian sang iblis tingkat enam dan membangkitkan harapan.
Saya kira telah sampai pada akhir film, setelah menyaksikan dua pertarungan seru yang dan penuh kilas balik itu, ternyata keliru, Tokoh utama kita dalam Infinity Castle part 1, tentu saja adalah Kamado Tanjiro. Ia berperan utama sebagai perumpamaan sosok yang berjuang dari nol lalu berkembang memaknai sebab-akibat mengapa dendam itu terus ada. Ia melawan para iblis rendah bersama Hashira Air ; Tomioka Giyu, lalu dihadang Akaza sang iblis bulan atas tingkat tiga.
Pertarungan film ini langsung mencapai klimaksnya, saat Tanjiro mengeluarkan jurus air yang berusaha menebas Akaza saat sang iblis disibukkan melawan serangan Giyu. Dalam pertarungan ini, agaknya para kreator mencurahkan seluruh kemampuannya dalam perpaduan warna, visual efek, dan soundtrack emosional yang membangkitkan rasa gemas para penonton. Bagaimana seluruh kemampuan MC yang menyilaukan mata itu, tidak mampu menghentikan regenerasi Akaza yang terlalu overpower dan memiliki reflek yang baik. Mereka bertarung cukup adil, antara dua pedang pembasmi iblis dengan Akaza yang hanya tangan kosong. Iblis bulan atas tingkat tiga itu, selalu berkoar memprovokasi semangat dan gairah pertarungan, untuk membuktikan siapa yang lebih unggul.
Sementara waktu dan stamina karakter utama mencapai batas, mereka tidak kunjung menumbangkan Akaza yang semakin kuat sehingga memaksa untuk bertahan mati-matian. Tanjiro yang berusaha menemukan celah musuh, ia mundur sejenak, menganalisis pertarungan Akaza melawan Giyu. Saat Akaza melawan Giyu, kita diperlihatkan bagaimana kecerdasan analisis sang tokoh utama, memainkan peran penting dalam membandingkan antara kemampuan dirinya dengan kemampuan sang musuh yang tidak ada habisnya. Saya tak habis pikir, jika Tanjiro bisa menggunakan kata-kata sederhana yang dapat membuat musuh berhenti sejenak. Bagaimana ia bisa mengingatkan jika musuh kuat itu dulunya bayi yang lemah, lalu membutuhkan orang lain dalam pertumbuhannya. Dalam scene inilah, kejujuran sikap sang tokoh yang berjuang untuk menghentikan kejahatan yang ambisius dan merusak, diperlihatkan lewat kilas balik pembelajaran.
Tanjiro menghentikan semua rasa dendam dan amarah yang berkecamuk dalam hatinya. Ia murnikan setiap serangan dengan pemahaman baru, jika pertarungan ini dimaksudkan untuk menghentikan kesombongan para iblis. Ia merenungkan seluruh kejadian, menganalisis musuh, menemukan kelemahan, membangkitkan kekuatan pribadi, lalu melakukan serangan seefisien mungkin dalam beberapa detik pertarungan
Lalu lewat serangan pamungkas, jurus api Tanjiro pun mampu memenggal kepala sang iblis yang bertekad untuk terus beregenerasi. Akaza terkejut jika Tanjiro mampu lolos dari koordinat serangannya. Tebasan itu seakan bukan dari manusia yang bersemangat hidup. Itu seperti pohon, yang merupakan perumpamaan dari kemurnian sikap. Sementara para karakter utama terkapar lelah, kita diperlihatkan kilas balik masa lalu Akaza sebelum menjadi iblis.
Ia dulunya adalah manusia yang dianggap sampah, sering berbuat onar dan mencuri. Sampai suatu ketika, Akaza bertemu Keizo, seorang guru judo yang berbaik hati memberikannya kesempatan kedua memperbaiki hidup. Ia memiliki keluarga baru dan Koyuki, anak sang guru judo menjadi istrinya. Namun naas, intrik politik membuat keluarga barunya tewas mengenaskan. Akaza berubah menjadi sosok penuntut balas, yang membantai orang-orang yang terlibat atas kematian keluarganya. Sampai ia bertemu Muzan, yang memberinya kekuatan iblis untuk menjadi yang terkuat.
Iblis memberikan harapan kepada manusia yang putus asa terhadap kehidupan yang menyakitkan. Mereka memberi kekuatan baru dan arah untuk menuntaskan dendam kesumat pada manusia, namun dengan cara menimpakan penderitaan yang jauh lebih kejam daripada yang pernah dirasakan sebelumnya. Sebagaimana api yang perlahan membakar harapan dan rasa kasih sayang, akhirnya hanya tersisa perang, pembunuhan, penghancuran, dan derita tiada akhir.
Namun saat Tanjiro membangkitkan kesadaran Akaza lewat kata-kata dan kejujuran bersikap, keangkuhan sang iblis mulai terganggu akibat kilas balik yang tiba-tiba muncul di benaknya. Tanjiro dan Giyu yang tidak paham kenapa sang iblis berhenti, dikejutkan dengan keputusan Akaza untuk bunuh diri secara brutal, dengan meledakkan dirinya sendiri. Kemenangan mereka mengalahkan iblis bulan atas tangka tiga, diumumkan ke seluruh penjuru Infinity Castle oleh gagak Kasugai.
Amanat dan Nilai Moral
Film ini menggambarkan tekad dan usaha yang saling dibenturkan untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul, siapa yang berkembang dengan pemahaman baru. Shinobu Kocho yang terbakar dendam, tidak mampu mengalahkan Doma yang malah membuatnya putus asa. Zenitsu yang berupaya menyadarkan Kaigaku, akhirnya harus membunuh mantan seniornya demi menghentikan kejahatan, tapi penuh sesal dan kesedihan.
Lain halnya dalam pertarungan melawan Akaza. Berpikir itu melelahkan, namun Tanjiro dengan sabar melakukannya dalam pertarungan singkat. Ia mengendalikan rasa agar tidak terbakar dendam dan permusuhan, tetapi menjadikan alasan bahwa kejahatan memang harus dilawan, karena musuhnya berada di jalan yang salah.
Tanjiro menggunakan prinsip mengasihi musuh: menyerang argumen dan pemahaman yang keliru, sekaligus membangkitkan ingatan masa lalu musuhnya. Ia tidak hanya mengandalkan serangan fisik, melainkan membuat musuh berpikir ulang tentang apa yang sedang ia lakukan.
Musuh yang kuat bisa dikalahkan lewat pikirannya sendiri. Dengan cara ini, tanpa perlu banyak kekuatan, Tanjiro mampu membuka selubung pikiran musuh hingga membuatnya putus asa secara moral dalam perlawanan. Poin penting dalam pertarungan adalah bagaimana karakter terbentuk dari interaksi selama ini. Ternyata, musuh pun memiliki masa lalu yang indah, sebelum berubah akibat sebab kehidupan yang menyakitkan.
Akaza sebagai musuh lebih memilih jalan gelap dengan dendam sebagai puncak kendaraannya daripada hidup damai dengan masalahnya sendiri. Sejatinya, ia membenci dirinya sendiri karena tidak mampu melindungi orang yang ia cintai. Ia sosok yang tidak mampu mengendalikan diri. Tidak merdeka, berbeda dengan Tanjiro yang mampu memerdekakan rasa sehingga ia mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Menjadi orang yang dicintai dimulai dengan mengalahkan ego, lalu menghargai jerih payah, dan berterima kasih dengan memberi kepercayaan. Dari situlah rasa hormat muncul, respek melekat, dan hidup yang baik menjadi arah untuk saling membangun.
Film berdurasi 2 jam 35 menit ini telah tayang di bioskop seluruh Indonesia sejak 15 Agustus 2025, dan mendapatkan rating 8.7/10 versi imdb (2025). Menurut myanimelist, film yang disutradarai disutradarai Haruo Sotozaki dan Hikaru Kondou ini berada di rating 8.78, rank ke 37 populer per agustus 2025. Setiap adegan diwarnai background musik dari komposer legendaris Yuki Kajiura dan Go Shiina. "Taiyō ga Noboranai Sekai" (A World Where the Sun Never Rises) dinyanyikan oleh Aimer dan "Zankoku no Yoru ni Kagayake (Shine in the Cruel Night) dinyanyikan oleh LiSA.
Ufotable sebagai studio produksi film mendapatkan pujian luas dari kalangan penggemar Demon Slayer di seluruh dunia.
Daftar Pustaka :
CNN Indonesia. 2025. “Sinopsis Demon Slayer Kimetsu no Yaiba the Movie : Infinity Castle”. https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20250815171747-220-1262959/sinopsis-demon-slayer-kimetsu-no-yaiba-the-movie-infinity-castle (Diakses 08 September 2025)
https://myanimelist.net/anime/59192/Kimetsu_no_Yaiba_Movie__Mugen_Jou-hen (Diakses 07 September 2025)
Pradana, Shandy. 2025. “Review Demon Slayer the Movie : Pembuka Trilogi yang Epik”. https://www.idntimes.com/hype/entertainment/review-demon-slayer-the-movie-pembuka-trilogi-yang-epik-00-ffxpq-2ngvhn. (Diakses 08 September 2025)
https://id.wikipedia.org/wiki/Demon_Slayer:_Kimetsu_no_Yaiba_%E2%80%93_The_Movie:_Infinity_Castle
https://www.imdb.com/title/tt32820897/ (Diakses 07 September 2025)
Review Film - Oleh Khanif Fauzan
TAGS: review film, anime, kimetsu no yaiba