KOLOM • 30 Oct 2026 • 9x dibaca
Senjakala Manusia: Memahami Lansia diantara Kelemahan dan Kasih Sayang
Manusia menghabiskan masa mudanya untuk membangun dunia, tetapi masa tuanya mengajarkan bahwa tidak semua yang dibangun dapat dipertahankan. Ketika kekuatan meninggalkannya, yang tersisa bukanlah tuntutan untuk kembali berkuasa, melainkan harapan agar kasih sayang tidak ikut menghilang.
Oleh: Khanif Fauzan
1. Manusia dan Siklus Kelemahan: QS. Ar-Rum Ayat 54
Allah SWT berfirman:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
Artinya:
"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa." (QS. Ar-Rum: 54).
Ayat ini menggambarkan perjalanan manusia dalam tiga fase besar: kelemahan, kekuatan, dan kembali kepada kelemahan. Masa kanak-kanak merupakan fase ketergantungan, masa muda menjadi fase pertumbuhan kekuatan, sedangkan masa tua merupakan fase ketika kekuatan tersebut perlahan mengalami kemunduran.
Dalam konteks kehidupan lansia, ayat ini mengandung pesan bahwa kemunduran fisik dan mental bukanlah sesuatu yang seharusnya dipandang sebagai kegagalan manusia. Ia merupakan bagian dari ketetapan kehidupan. Seseorang yang dahulu mampu bekerja keras, mengambil keputusan, mengendalikan keadaan, dan menjadi tumpuan keluarga, pada akhirnya bisa kehilangan sebagian kemampuan tersebut.
Di sinilah manusia diuji dalam memahami perubahan. Sebab, kekuatan yang dahulu dimiliki seseorang bukanlah sesuatu yang melekat secara permanen. Ia hanya titipan yang suatu saat akan berkurang.
2. Malam, Kegelisahan, dan Kebutuhan akan Ketenteraman: QS. Al-Furqan Ayat 47
Allah SWT berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَّالنَّوْمَ سُبَاتًا وَّجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا
Artinya:
"Dialah yang menjadikan malam untukmu sebagai pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha." (QS. Al-Furqan: 47).
Ayat ini menjelaskan bagaimana Allah mengatur pergantian malam dan siang sebagai bagian dari keteraturan kehidupan manusia. Malam menjadi waktu untuk beristirahat, sedangkan siang menjadi waktu untuk kembali beraktivitas.
Namun, dalam kehidupan sebagian lansia, keteraturan tersebut tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Ada lansia yang mengalami kesulitan tidur pada malam hari, merasa gelisah, mudah terbangun, bahkan menunjukkan perilaku yang berbeda dibandingkan ketika siang hari.
Fenomena tersebut dapat berkaitan dengan perubahan ritme biologis, gangguan tidur, kondisi kesehatan, maupun gangguan kognitif. Dalam keadaan tertentu, suasana malam yang lebih sunyi juga dapat membuat rasa kesepian dan ketakutan semakin terasa.
Sementara itu, datangnya fajar dan cahaya pagi dapat menghadirkan perubahan suasana. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa tidak semua gangguan tidur lansia disebabkan oleh suasana gelap atau terang.
Pesan ayat ini memberikan perspektif bahwa kehidupan manusia membutuhkan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. Ketika keseimbangan tersebut terganggu, manusia membutuhkan perhatian dan pertolongan, bukan sekadar teguran.
3. Ketika Manusia Kehilangan Kemampuan yang Dahulu Dimiliki: QS. An-Nahl Ayat 70
Allah SWT berfirman:
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
Artinya:
"Dan Allah telah menciptakan kamu, kemudian mewafatkanmu, dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada usia yang sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahakuasa." (QS. An-Nahl: 70).
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat kuat mengenai perubahan kemampuan manusia ketika memasuki usia lanjut.
Seseorang yang dahulu memiliki pengetahuan luas, pengalaman panjang, dan kemampuan berpikir yang tajam, pada suatu masa bisa mengalami penurunan daya ingat. Bahkan, ada yang kesulitan mengenali orang-orang terdekatnya.
Dalam perspektif psikologis, kondisi ini dapat berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif, demensia, atau gangguan kesehatan lainnya. Artinya, tidak semua perubahan perilaku lansia dapat dijelaskan hanya melalui persoalan karakter.
Ayat ini mengajak manusia menyadari betapa rapuhnya kemampuan yang selama ini dibanggakan. Pengetahuan, ingatan, dan kecerdasan yang dahulu menjadi kebanggaan manusia ternyata dapat mengalami kemunduran.
Ada ironi kehidupan di sini. Manusia menghabiskan masa mudanya untuk mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman, tetapi pada masa tua sebagian dari mereka justru kehilangan kemampuan untuk mengingatnya.
Karena itu, memahami lansia membutuhkan kerendahan hati. Jangan sampai seseorang yang dahulu menjadi guru kehidupan justru diperlakukan secara tidak manusiawi ketika ia mulai kehilangan ingatannya.
4. Merendahkan Sayap Kasih Sayang: QS. Al-Isra Ayat 23–24
Allah SWT berfirman:
فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya:
"Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.'" (QS. Al-Isra: 23–24).
Inilah salah satu landasan moral paling kuat dalam membangun hubungan antargenerasi.
Allah tidak sekadar memerintahkan manusia untuk menghormati orang tua, tetapi menggunakan ungkapan yang sangat mendalam: wakhfidh lahumā janāḥadz-dzulli minar-raḥmah, yang berarti merendahkan diri di hadapan keduanya dengan penuh kasih sayang.
Ungkapan merendahkan sayap kasih sayang memberikan gambaran tentang kelembutan. Sebagaimana seekor burung melindungi anak-anaknya dengan sayap, manusia diperintahkan menghadirkan perlindungan dan kasih sayang kepada orang tuanya.
Dalam kehidupan lansia, perintah ini menjadi sangat penting. Ketika orang tua mulai kehilangan kemandirian, mudah mengeluh, keras kepala, atau membutuhkan perhatian berlebihan, anak-anak tidak seharusnya langsung memandangnya sebagai gangguan.
Ada sejarah panjang pengorbanan di balik perilaku mereka. Orang tua yang dahulu membersihkan tubuh anaknya, menyuapi makanan, menenangkan tangisan, dan mengorbankan waktu untuk membesarkan keluarga, kini mungkin membutuhkan perlakuan serupa.
Ayat ini sekaligus mengoreksi cara pandang masyarakat yang menganggap lansia sebagai beban ekonomi dan sosial. Islam justru menempatkan penghormatan terhadap orang tua sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah.
Dengan demikian, masa tua bukan alasan untuk mengurangi martabat seseorang. Justru ketika kekuatan mereka berkurang, kasih sayang orang-orang di sekitarnya harus semakin diperkuat.
5. Senjakala Kehidupan dan Kembalinya Kelemahan: QS. Yasin Ayat 68
Allah SWT berfirman:
وَمَن نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ
Artinya:
"Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya. Maka, mengapa mereka tidak mengerti?" (QS. Yasin: 68).
Ayat ini menghadirkan renungan tentang paradoks umur panjang. Manusia yang semakin bertambah usianya tidak selalu mengalami pertambahan kekuatan. Sebaliknya, ia dapat mengalami kemunduran fisik dan kemampuan sebagaimana ketika dirinya belum memiliki kemandirian.
Masa tua adalah senjakala, sebuah titik di mana manusia menyadari bahwa terang hidupnya perlahan ditutup oleh kegelapan. Pada saat itu, kekuatan fisik sudah tidak lagi bisa menguasai hajat hidup, dan daya mental pun tidak sanggup lagi menanggung beban yang sama seperti dahulu.
Lansia menjadi konsumen dari segala yang pernah ia hasilkan di masa muda. Mereka menikmati hasil kerja, memelihara kenangan, dan mengulang-ulang cerita lama yang dianggap sebagai bukti kebenaran hidupnya. Semua itu dapat menjadi cara untuk menjaga martabat dan meninggalkan jejak bagi generasi penerus.
Lansia ingin mengulangi masa kejayaan, karena bagi mereka, itulah nikmat tertinggi. Bukan semata-mata untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjadi cerita warisan yang akan diturunkan kepada anak cucu. Mereka ingin dikenang bukan karena kelemahannya, melainkan karena perjuangan yang telah dilakukan sepanjang hidup.
Maka, memahami perilaku lansia bukan sekadar melihat kerewelan atau keluhannya, melainkan memahami sebuah fase kehidupan yang memang kembali menuju titik awal: kelemahan, ketergantungan, dan kebutuhan akan kasih sayang.
Pada akhirnya, lansia hanyalah manusia yang sedang berjalan menuju kegelapan terakhir, sambil menggenggam erat sisa-sisa cahaya yang masih tersisa dari masa lalunya.
Barangkali, yang mereka butuhkan bukanlah kekuasaan untuk kembali mengatur kehidupan orang lain, melainkan pengakuan bahwa mereka pernah menjadi bagian penting dari kehidupan banyak orang. Mereka tidak selalu membutuhkan nasihat, tetapi terkadang hanya membutuhkan telinga yang bersedia mendengarkan cerita lama.
Sebab, masa tua bukanlah akhir dari martabat manusia. Ia adalah pengingat bagi generasi yang lebih muda bahwa suatu hari nanti, mereka pun mungkin akan berdiri di tempat yang sama: kehilangan kekuatan, bergantung kepada orang lain, dan berharap masih ada seseorang yang bersedia menyisakan kasih sayang untuknya.
1. Manusia dan Siklus Kelemahan: QS. Ar-Rum Ayat 54
Allah SWT berfirman:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
Artinya:
"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa." (QS. Ar-Rum: 54).
Ayat ini menggambarkan perjalanan manusia dalam tiga fase besar: kelemahan, kekuatan, dan kembali kepada kelemahan. Masa kanak-kanak merupakan fase ketergantungan, masa muda menjadi fase pertumbuhan kekuatan, sedangkan masa tua merupakan fase ketika kekuatan tersebut perlahan mengalami kemunduran.
Dalam konteks kehidupan lansia, ayat ini mengandung pesan bahwa kemunduran fisik dan mental bukanlah sesuatu yang seharusnya dipandang sebagai kegagalan manusia. Ia merupakan bagian dari ketetapan kehidupan. Seseorang yang dahulu mampu bekerja keras, mengambil keputusan, mengendalikan keadaan, dan menjadi tumpuan keluarga, pada akhirnya bisa kehilangan sebagian kemampuan tersebut.
Di sinilah manusia diuji dalam memahami perubahan. Sebab, kekuatan yang dahulu dimiliki seseorang bukanlah sesuatu yang melekat secara permanen. Ia hanya titipan yang suatu saat akan berkurang.
2. Malam, Kegelisahan, dan Kebutuhan akan Ketenteraman: QS. Al-Furqan Ayat 47
Allah SWT berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَّالنَّوْمَ سُبَاتًا وَّجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا
Artinya:
"Dialah yang menjadikan malam untukmu sebagai pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangkit berusaha." (QS. Al-Furqan: 47).
Ayat ini menjelaskan bagaimana Allah mengatur pergantian malam dan siang sebagai bagian dari keteraturan kehidupan manusia. Malam menjadi waktu untuk beristirahat, sedangkan siang menjadi waktu untuk kembali beraktivitas.
Namun, dalam kehidupan sebagian lansia, keteraturan tersebut tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Ada lansia yang mengalami kesulitan tidur pada malam hari, merasa gelisah, mudah terbangun, bahkan menunjukkan perilaku yang berbeda dibandingkan ketika siang hari.
Fenomena tersebut dapat berkaitan dengan perubahan ritme biologis, gangguan tidur, kondisi kesehatan, maupun gangguan kognitif. Dalam keadaan tertentu, suasana malam yang lebih sunyi juga dapat membuat rasa kesepian dan ketakutan semakin terasa.
Sementara itu, datangnya fajar dan cahaya pagi dapat menghadirkan perubahan suasana. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa tidak semua gangguan tidur lansia disebabkan oleh suasana gelap atau terang.
Pesan ayat ini memberikan perspektif bahwa kehidupan manusia membutuhkan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. Ketika keseimbangan tersebut terganggu, manusia membutuhkan perhatian dan pertolongan, bukan sekadar teguran.
3. Ketika Manusia Kehilangan Kemampuan yang Dahulu Dimiliki: QS. An-Nahl Ayat 70
Allah SWT berfirman:
وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
Artinya:
"Dan Allah telah menciptakan kamu, kemudian mewafatkanmu, dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada usia yang sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Mahakuasa." (QS. An-Nahl: 70).
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat kuat mengenai perubahan kemampuan manusia ketika memasuki usia lanjut.
Seseorang yang dahulu memiliki pengetahuan luas, pengalaman panjang, dan kemampuan berpikir yang tajam, pada suatu masa bisa mengalami penurunan daya ingat. Bahkan, ada yang kesulitan mengenali orang-orang terdekatnya.
Dalam perspektif psikologis, kondisi ini dapat berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif, demensia, atau gangguan kesehatan lainnya. Artinya, tidak semua perubahan perilaku lansia dapat dijelaskan hanya melalui persoalan karakter.
Ayat ini mengajak manusia menyadari betapa rapuhnya kemampuan yang selama ini dibanggakan. Pengetahuan, ingatan, dan kecerdasan yang dahulu menjadi kebanggaan manusia ternyata dapat mengalami kemunduran.
Ada ironi kehidupan di sini. Manusia menghabiskan masa mudanya untuk mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman, tetapi pada masa tua sebagian dari mereka justru kehilangan kemampuan untuk mengingatnya.
Karena itu, memahami lansia membutuhkan kerendahan hati. Jangan sampai seseorang yang dahulu menjadi guru kehidupan justru diperlakukan secara tidak manusiawi ketika ia mulai kehilangan ingatannya.
4. Merendahkan Sayap Kasih Sayang: QS. Al-Isra Ayat 23–24
Allah SWT berfirman:
فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya:
"Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.'" (QS. Al-Isra: 23–24).
Inilah salah satu landasan moral paling kuat dalam membangun hubungan antargenerasi.
Allah tidak sekadar memerintahkan manusia untuk menghormati orang tua, tetapi menggunakan ungkapan yang sangat mendalam: wakhfidh lahumā janāḥadz-dzulli minar-raḥmah, yang berarti merendahkan diri di hadapan keduanya dengan penuh kasih sayang.
Ungkapan merendahkan sayap kasih sayang memberikan gambaran tentang kelembutan. Sebagaimana seekor burung melindungi anak-anaknya dengan sayap, manusia diperintahkan menghadirkan perlindungan dan kasih sayang kepada orang tuanya.
Dalam kehidupan lansia, perintah ini menjadi sangat penting. Ketika orang tua mulai kehilangan kemandirian, mudah mengeluh, keras kepala, atau membutuhkan perhatian berlebihan, anak-anak tidak seharusnya langsung memandangnya sebagai gangguan.
Ada sejarah panjang pengorbanan di balik perilaku mereka. Orang tua yang dahulu membersihkan tubuh anaknya, menyuapi makanan, menenangkan tangisan, dan mengorbankan waktu untuk membesarkan keluarga, kini mungkin membutuhkan perlakuan serupa.
Ayat ini sekaligus mengoreksi cara pandang masyarakat yang menganggap lansia sebagai beban ekonomi dan sosial. Islam justru menempatkan penghormatan terhadap orang tua sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah.
Dengan demikian, masa tua bukan alasan untuk mengurangi martabat seseorang. Justru ketika kekuatan mereka berkurang, kasih sayang orang-orang di sekitarnya harus semakin diperkuat.
5. Senjakala Kehidupan dan Kembalinya Kelemahan: QS. Yasin Ayat 68
Allah SWT berfirman:
وَمَن نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ ۖ أَفَلَا يَعْقِلُونَ
Artinya:
"Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya. Maka, mengapa mereka tidak mengerti?" (QS. Yasin: 68).
Ayat ini menghadirkan renungan tentang paradoks umur panjang. Manusia yang semakin bertambah usianya tidak selalu mengalami pertambahan kekuatan. Sebaliknya, ia dapat mengalami kemunduran fisik dan kemampuan sebagaimana ketika dirinya belum memiliki kemandirian.
Masa tua adalah senjakala, sebuah titik di mana manusia menyadari bahwa terang hidupnya perlahan ditutup oleh kegelapan. Pada saat itu, kekuatan fisik sudah tidak lagi bisa menguasai hajat hidup, dan daya mental pun tidak sanggup lagi menanggung beban yang sama seperti dahulu.
Lansia menjadi konsumen dari segala yang pernah ia hasilkan di masa muda. Mereka menikmati hasil kerja, memelihara kenangan, dan mengulang-ulang cerita lama yang dianggap sebagai bukti kebenaran hidupnya. Semua itu dapat menjadi cara untuk menjaga martabat dan meninggalkan jejak bagi generasi penerus.
Lansia ingin mengulangi masa kejayaan, karena bagi mereka, itulah nikmat tertinggi. Bukan semata-mata untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjadi cerita warisan yang akan diturunkan kepada anak cucu. Mereka ingin dikenang bukan karena kelemahannya, melainkan karena perjuangan yang telah dilakukan sepanjang hidup.
Maka, memahami perilaku lansia bukan sekadar melihat kerewelan atau keluhannya, melainkan memahami sebuah fase kehidupan yang memang kembali menuju titik awal: kelemahan, ketergantungan, dan kebutuhan akan kasih sayang.
Pada akhirnya, lansia hanyalah manusia yang sedang berjalan menuju kegelapan terakhir, sambil menggenggam erat sisa-sisa cahaya yang masih tersisa dari masa lalunya.
Barangkali, yang mereka butuhkan bukanlah kekuasaan untuk kembali mengatur kehidupan orang lain, melainkan pengakuan bahwa mereka pernah menjadi bagian penting dari kehidupan banyak orang. Mereka tidak selalu membutuhkan nasihat, tetapi terkadang hanya membutuhkan telinga yang bersedia mendengarkan cerita lama.
Sebab, masa tua bukanlah akhir dari martabat manusia. Ia adalah pengingat bagi generasi yang lebih muda bahwa suatu hari nanti, mereka pun mungkin akan berdiri di tempat yang sama: kehilangan kekuatan, bergantung kepada orang lain, dan berharap masih ada seseorang yang bersedia menyisakan kasih sayang untuknya.
TAGS: analisis lansia, kolom


:format(webp)/article/6WGXd7E5PoKFblOC6oTFv/original/036998000_1604477217-shutterstock_1675031788.jpg)