KHUTBAH • 13 Oct 2026 • 49x dibaca
KHUTBAH JUMAT : Makna, Hikmah dan Nilai Sosial dalam Surat Al-Ma’un
Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita memperlakukan anak-anak yatim dengan baik? Sudahkah kita turut menjaga hak-hak mereka? Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi pada saat yang sama mengabaikan penderitaan orang-orang yang membutuhkan perlindungan kita.
KHUTBAH JUMAT : Makna, Hikmah dan Nilai Sosial dalam Surat Al-Ma’un
Oleh : Khanif Fauzan
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى، وَحَثَّنَا عَلَى الْإِحْسَانِ إِلَى الْخَلْقِ، وَنَهَانَا عَنِ الظُّلْمِ وَالْبُخْلِ وَالرِّيَاءِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala nikmat, rahmat, dan karunia-Nya. Pada hari yang mulia ini, kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul di rumah Allah, menunaikan salat Jumat, serta memperbarui keimanan dan ketakwaan kita kepada-Nya.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.
Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga ketakwaan menjadi bekal bagi kita dalam menjalani kehidupan di dunia dan menghadap Allah Swt. di akhirat kelak.
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Al-Qur’an merupakan hudan, yakni petunjuk bagi manusia menuju jalan yang benar dan diridai Allah Swt. Di dalamnya terdapat pelajaran, peringatan, serta pedoman untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga membimbing kita dalam membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia.
Salah satu surah yang memberikan pelajaran penting mengenai hubungan antara ibadah dan kepedulian sosial adalah Surah Al-Mā‘ūn, surah ke-107 dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman:
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ١
فَذٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ٢
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ٣
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ٤
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٥
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ٦
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ٧
Artinya:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
4. Maka celakalah orang yang salat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,
6. yang berbuat ria,
7. dan enggan (memberikan) bantuan.”
(QS. Al-Mā‘ūn [107]: 1–7, terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia dengan penyesuaian ejaan.)
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Tujuh ayat dalam Surah Al-Mā‘ūn memberikan peringatan yang sangat mendalam kepada kita. Surah ini menghubungkan pengingkaran terhadap agama dengan perilaku sosial yang buruk, kelalaian dalam salat, keinginan untuk memperoleh pujian manusia, serta keengganan memberikan bantuan kepada sesama.
Surah ini mengajarkan bahwa keberagamaan tidak cukup hanya ditampilkan melalui penampilan atau pengakuan. Keimanan juga harus tercermin dalam perilaku, terutama dalam memperlakukan orang-orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan.
Kata Al-Mā‘ūn sendiri merujuk pada bantuan atau sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, termasuk pertolongan sederhana yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, surah ini mengingatkan kita bahwa kebaikan tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Bantuan kecil yang diberikan dengan tulus pun memiliki nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Pertama, larangan menghardik anak yatim.
Allah Swt. berfirman:
فَذٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
Artinya: “Itulah orang yang menghardik anak yatim.” (QS. Al-Mā‘ūn: 2).
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak bersikap kasar, merendahkan, atau menelantarkan anak yatim. Anak yatim merupakan golongan yang perlu mendapatkan perhatian, perlindungan, kasih sayang, dan pemenuhan hak-haknya.
Menghardik anak yatim bukan hanya berkaitan dengan perkataan kasar, melainkan juga dapat tercermin dalam sikap mengabaikan kebutuhan mereka, menahan hak yang seharusnya diterima, atau memperlakukan mereka secara tidak adil.
Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kekayaan, kedudukan, ataupun kekuatan yang dimilikinya. Karena itu, orang yang memiliki kemampuan hendaknya menggunakan kelebihannya untuk melindungi dan membantu mereka yang membutuhkan.
Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita memperlakukan anak-anak yatim dengan baik? Sudahkah kita turut menjaga hak-hak mereka? Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi pada saat yang sama mengabaikan penderitaan orang-orang yang membutuhkan perlindungan kita.
Kedua, perintah untuk peduli kepada fakir miskin.
Allah Swt. berfirman:
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Artinya: “Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Mā‘ūn: 3).
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ayat ini tidak hanya memberikan peringatan kepada orang yang enggan memberikan bantuan kepada fakir miskin, tetapi juga menyoroti sikap tidak mendorong orang lain untuk melakukan kebaikan.
Kepedulian sosial tidak selalu harus dimulai dengan kekayaan yang melimpah. Seseorang dapat membantu sesuai dengan kemampuannya, mengajak orang lain untuk berbagi, atau turut mencarikan jalan keluar bagi mereka yang mengalami kesulitan.
Harta yang Allah titipkan kepada kita hendaknya tidak menjadikan kita lupa terhadap keadaan orang lain. Ada saudara kita yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, membiayai pendidikan anak, mendapatkan pengobatan, atau memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Karena itu, marilah kita membangun lingkungan yang saling menguatkan. Jangan sampai kita merasa cukup dengan kesejahteraan diri sendiri sementara penderitaan orang-orang di sekitar tidak lagi menyentuh hati kita.
Ketiga, larangan melalaikan salat.
Allah Swt. berfirman:
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ٤ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٥
Artinya: “Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya.” (QS. Al-Mā‘ūn: 4–5).
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Ayat ini bukanlah celaan terhadap orang yang menunaikan salat dengan sungguh-sungguh, melainkan peringatan keras terhadap mereka yang melalaikan salat.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kelalaian tersebut dapat mencakup sikap tidak memperhatikan salat, mengabaikan waktunya, serta tidak menunaikannya dengan kesungguhan yang semestinya. Dalam penjelasan tafsir, terdapat pula peringatan terhadap orang yang menampilkan ibadah di hadapan manusia, tetapi mengabaikannya ketika tidak dilihat orang lain.
Oleh sebab itu, marilah kita menjaga salat dengan sebaik-baiknya: menunaikannya pada waktunya, memenuhi rukun dan ketentuannya, serta berusaha menghadirkan hati ketika menghadap Allah Swt.
Salat bukan sekadar gerakan tubuh atau rutinitas harian. Salat merupakan bentuk penghambaan, pengakuan atas kebesaran Allah, sekaligus sarana untuk mendidik diri agar menjauhi perbuatan keji dan mungkar.
Apabila kita menginginkan kehidupan yang lebih baik, marilah kita memperbaiki salat kita terlebih dahulu. Jangan sampai kita memperhatikan penilaian manusia, tetapi melupakan kewajiban kita kepada Allah Swt.
Keempat, larangan berbuat ria.
Allah Swt. berfirman:
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
Artinya: “Yang berbuat ria.” (QS. Al-Mā‘ūn: 6).
Ria adalah melakukan atau menampilkan suatu amal agar mendapatkan pujian, pengakuan, atau penghormatan dari manusia, bukan semata-mata mengharapkan rida Allah Swt.
Seseorang mungkin terlihat dermawan di hadapan banyak orang, rajin beribadah ketika disaksikan orang lain, atau senang memperlihatkan kebaikannya demi memperoleh penghargaan. Namun, Surah Al-Mā‘ūn mengingatkan bahwa amal tidak seharusnya dijadikan alat untuk membangun citra diri.
Kita perlu senantiasa memeriksa niat masing-masing. Ketika membantu orang lain, apakah kita benar-benar ingin meringankan bebannya, ataukah kita hanya menginginkan pujian? Ketika beribadah, apakah kita ingin mendekatkan diri kepada Allah, atau justru lebih sibuk memikirkan penilaian manusia?
Tentu, tidak setiap kebaikan yang diketahui orang lain berarti ria. Mengajak orang lain berbuat baik dan memperlihatkan amal untuk tujuan yang benar dapat menjadi sarana pendidikan dan keteladanan. Yang perlu kita waspadai adalah ketika pujian manusia menjadi tujuan utama dan menggeser keikhlasan.
Marilah kita memohon kepada Allah agar diberikan hati yang ikhlas, dijauhkan dari kesombongan, dan dibimbing untuk melakukan kebaikan meskipun tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Kelima, larangan bersikap kikir dan enggan menolong.
Allah Swt. berfirman:
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
Artinya: “Dan enggan (memberikan) bantuan.” (QS. Al-Mā‘ūn: 7).
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Ayat terakhir Surah Al-Mā‘ūn menegaskan pentingnya kesediaan memberikan pertolongan kepada sesama. Kata Al-Mā‘ūn dipahami oleh para mufasir dengan cakupan makna yang beragam, antara lain bantuan sederhana yang bermanfaat, dan dalam penafsiran tertentu dikaitkan pula dengan kewajiban sosial seperti zakat.
Pelajaran yang dapat kita ambil ialah bahwa seorang muslim hendaknya tidak membiarkan sifat kikir menguasai dirinya hingga enggan memberikan bantuan yang mampu ia berikan.
Pertolongan tidak selalu berupa uang. Kita dapat meminjamkan barang yang dibutuhkan, membantu tetangga yang sedang kesulitan, berbagi ilmu, memberikan tenaga, atau meluangkan waktu untuk mendengarkan dan mencari solusi bagi orang yang menghadapi masalah.
Jangan meremehkan bantuan kecil. Bisa jadi, sesuatu yang terasa sederhana bagi kita merupakan hal yang sangat berarti bagi orang lain.
Jika kita ingin membangun masyarakat yang kuat, marilah kita mulai dengan membiasakan diri saling menolong. Sebab, kehidupan yang baik bukan hanya kehidupan ketika setiap orang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, melainkan juga kehidupan ketika orang-orang di dalamnya bersedia membantu satu sama lain.
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Dari penjelasan Surah Al-Mā‘ūn tersebut, setidaknya ada empat pelajaran utama yang dapat kita renungkan.
Pertama, kita diperintahkan untuk berbuat baik dan peduli kepada sesama, terutama anak yatim dan fakir miskin.
Kedua, kita dilarang melalaikan salat dan hendaknya senantiasa memperbaiki kualitas ibadah kepada Allah Swt.
Ketiga, kita dilarang berbuat ria dan hendaknya menjaga keikhlasan dalam setiap amal.
Keempat, kita dilarang bersikap kikir serta enggan memberikan pertolongan yang bermanfaat kepada orang lain.
Keempat pelajaran tersebut menunjukkan bahwa ibadah dan kepedulian sosial merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan. Kesalehan tidak cukup hanya tampak dalam hubungan kita dengan Allah, tetapi juga perlu diwujudkan dalam hubungan kita dengan sesama manusia.
Jangan sampai kita rajin mendatangi tempat ibadah, tetapi tidak peduli kepada tetangga yang kelaparan. Jangan sampai kita mudah berbicara tentang kebaikan, tetapi enggan melakukannya ketika ada orang yang membutuhkan bantuan. Jangan sampai kita mengharapkan pujian manusia, tetapi melupakan keikhlasan kepada Allah Swt.
Marilah kita meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Mulailah dari keluarga, tetangga, dan masyarakat tempat kita tinggal. Apabila ada yang kesulitan, bantulah sesuai kemampuan. Apabila ada yang membutuhkan ilmu, bagikanlah ilmu yang bermanfaat. Apabila ada kesempatan untuk mendorong orang lain berbuat baik, janganlah kita menyia-nyiakannya.
Berbagi tidak hanya menjadi jalan untuk mengharapkan rida Allah, tetapi juga dapat menumbuhkan rasa syukur, mempererat persaudaraan, dan membangun kehidupan masyarakat yang lebih peduli.
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Berbahagialah orang-orang yang senantiasa menyebarkan kebaikan dan kebahagiaan kepada sesama, sementara di dalam hatinya tertanam rasa syukur kepada Allah Swt. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang menjaga salat, memuliakan anak yatim, peduli kepada fakir miskin, menjauhi ria, dan ringan tangan dalam memberikan pertolongan.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang beriman, bertakwa, ikhlas dalam beramal, dan bermanfaat bagi sesama.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Marilah kita kembali meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tidak hanya tekun beribadah, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keadaan orang-orang di sekitar kita.
Marilah kita mengamalkan pelajaran Surah Al-Mā‘ūn dalam kehidupan sehari-hari. Jagalah salat kita, luruskan niat dalam beramal, sayangilah anak yatim, bantulah fakir miskin, dan janganlah kita enggan memberikan pertolongan meskipun sederhana.
Semoga Allah Swt. menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta menjadikan kita manusia yang membawa manfaat dan kebaikan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
Selanjutnya, marilah kita berdoa kepada Allah Swt.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَطَهِّرْ نِيَّاتِنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ.
اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَى الصَّلَاةِ، وَمِنَ الْمُحْسِنِينَ إِلَى الْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ، وَمِنَ الْمُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى.
اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا رَحِيمَةً، وَأَيْدِيًا سَخِيَّةً، وَأَلْسِنَةً صَادِقَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً تَرْضَاهَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
أَقِمِ الصَّلَاةَ.
Oleh : Khanif Fauzan
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى، وَحَثَّنَا عَلَى الْإِحْسَانِ إِلَى الْخَلْقِ، وَنَهَانَا عَنِ الظُّلْمِ وَالْبُخْلِ وَالرِّيَاءِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala nikmat, rahmat, dan karunia-Nya. Pada hari yang mulia ini, kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul di rumah Allah, menunaikan salat Jumat, serta memperbarui keimanan dan ketakwaan kita kepada-Nya.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw., beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.
Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga ketakwaan menjadi bekal bagi kita dalam menjalani kehidupan di dunia dan menghadap Allah Swt. di akhirat kelak.
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Al-Qur’an merupakan hudan, yakni petunjuk bagi manusia menuju jalan yang benar dan diridai Allah Swt. Di dalamnya terdapat pelajaran, peringatan, serta pedoman untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga membimbing kita dalam membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia.
Salah satu surah yang memberikan pelajaran penting mengenai hubungan antara ibadah dan kepedulian sosial adalah Surah Al-Mā‘ūn, surah ke-107 dalam Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman:
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ١
فَذٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ٢
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ٣
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ٤
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٥
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ٦
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ٧
Artinya:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
4. Maka celakalah orang yang salat,
5. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,
6. yang berbuat ria,
7. dan enggan (memberikan) bantuan.”
(QS. Al-Mā‘ūn [107]: 1–7, terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia dengan penyesuaian ejaan.)
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Tujuh ayat dalam Surah Al-Mā‘ūn memberikan peringatan yang sangat mendalam kepada kita. Surah ini menghubungkan pengingkaran terhadap agama dengan perilaku sosial yang buruk, kelalaian dalam salat, keinginan untuk memperoleh pujian manusia, serta keengganan memberikan bantuan kepada sesama.
Surah ini mengajarkan bahwa keberagamaan tidak cukup hanya ditampilkan melalui penampilan atau pengakuan. Keimanan juga harus tercermin dalam perilaku, terutama dalam memperlakukan orang-orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan.
Kata Al-Mā‘ūn sendiri merujuk pada bantuan atau sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, termasuk pertolongan sederhana yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, surah ini mengingatkan kita bahwa kebaikan tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar. Bantuan kecil yang diberikan dengan tulus pun memiliki nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Pertama, larangan menghardik anak yatim.
Allah Swt. berfirman:
فَذٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
Artinya: “Itulah orang yang menghardik anak yatim.” (QS. Al-Mā‘ūn: 2).
Ayat ini mengingatkan kita agar tidak bersikap kasar, merendahkan, atau menelantarkan anak yatim. Anak yatim merupakan golongan yang perlu mendapatkan perhatian, perlindungan, kasih sayang, dan pemenuhan hak-haknya.
Menghardik anak yatim bukan hanya berkaitan dengan perkataan kasar, melainkan juga dapat tercermin dalam sikap mengabaikan kebutuhan mereka, menahan hak yang seharusnya diterima, atau memperlakukan mereka secara tidak adil.
Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh kekayaan, kedudukan, ataupun kekuatan yang dimilikinya. Karena itu, orang yang memiliki kemampuan hendaknya menggunakan kelebihannya untuk melindungi dan membantu mereka yang membutuhkan.
Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita memperlakukan anak-anak yatim dengan baik? Sudahkah kita turut menjaga hak-hak mereka? Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi pada saat yang sama mengabaikan penderitaan orang-orang yang membutuhkan perlindungan kita.
Kedua, perintah untuk peduli kepada fakir miskin.
Allah Swt. berfirman:
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
Artinya: “Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Mā‘ūn: 3).
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ayat ini tidak hanya memberikan peringatan kepada orang yang enggan memberikan bantuan kepada fakir miskin, tetapi juga menyoroti sikap tidak mendorong orang lain untuk melakukan kebaikan.
Kepedulian sosial tidak selalu harus dimulai dengan kekayaan yang melimpah. Seseorang dapat membantu sesuai dengan kemampuannya, mengajak orang lain untuk berbagi, atau turut mencarikan jalan keluar bagi mereka yang mengalami kesulitan.
Harta yang Allah titipkan kepada kita hendaknya tidak menjadikan kita lupa terhadap keadaan orang lain. Ada saudara kita yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, membiayai pendidikan anak, mendapatkan pengobatan, atau memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Karena itu, marilah kita membangun lingkungan yang saling menguatkan. Jangan sampai kita merasa cukup dengan kesejahteraan diri sendiri sementara penderitaan orang-orang di sekitar tidak lagi menyentuh hati kita.
Ketiga, larangan melalaikan salat.
Allah Swt. berfirman:
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ٤ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٥
Artinya: “Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya.” (QS. Al-Mā‘ūn: 4–5).
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Ayat ini bukanlah celaan terhadap orang yang menunaikan salat dengan sungguh-sungguh, melainkan peringatan keras terhadap mereka yang melalaikan salat.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa kelalaian tersebut dapat mencakup sikap tidak memperhatikan salat, mengabaikan waktunya, serta tidak menunaikannya dengan kesungguhan yang semestinya. Dalam penjelasan tafsir, terdapat pula peringatan terhadap orang yang menampilkan ibadah di hadapan manusia, tetapi mengabaikannya ketika tidak dilihat orang lain.
Oleh sebab itu, marilah kita menjaga salat dengan sebaik-baiknya: menunaikannya pada waktunya, memenuhi rukun dan ketentuannya, serta berusaha menghadirkan hati ketika menghadap Allah Swt.
Salat bukan sekadar gerakan tubuh atau rutinitas harian. Salat merupakan bentuk penghambaan, pengakuan atas kebesaran Allah, sekaligus sarana untuk mendidik diri agar menjauhi perbuatan keji dan mungkar.
Apabila kita menginginkan kehidupan yang lebih baik, marilah kita memperbaiki salat kita terlebih dahulu. Jangan sampai kita memperhatikan penilaian manusia, tetapi melupakan kewajiban kita kepada Allah Swt.
Keempat, larangan berbuat ria.
Allah Swt. berfirman:
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
Artinya: “Yang berbuat ria.” (QS. Al-Mā‘ūn: 6).
Ria adalah melakukan atau menampilkan suatu amal agar mendapatkan pujian, pengakuan, atau penghormatan dari manusia, bukan semata-mata mengharapkan rida Allah Swt.
Seseorang mungkin terlihat dermawan di hadapan banyak orang, rajin beribadah ketika disaksikan orang lain, atau senang memperlihatkan kebaikannya demi memperoleh penghargaan. Namun, Surah Al-Mā‘ūn mengingatkan bahwa amal tidak seharusnya dijadikan alat untuk membangun citra diri.
Kita perlu senantiasa memeriksa niat masing-masing. Ketika membantu orang lain, apakah kita benar-benar ingin meringankan bebannya, ataukah kita hanya menginginkan pujian? Ketika beribadah, apakah kita ingin mendekatkan diri kepada Allah, atau justru lebih sibuk memikirkan penilaian manusia?
Tentu, tidak setiap kebaikan yang diketahui orang lain berarti ria. Mengajak orang lain berbuat baik dan memperlihatkan amal untuk tujuan yang benar dapat menjadi sarana pendidikan dan keteladanan. Yang perlu kita waspadai adalah ketika pujian manusia menjadi tujuan utama dan menggeser keikhlasan.
Marilah kita memohon kepada Allah agar diberikan hati yang ikhlas, dijauhkan dari kesombongan, dan dibimbing untuk melakukan kebaikan meskipun tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Kelima, larangan bersikap kikir dan enggan menolong.
Allah Swt. berfirman:
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
Artinya: “Dan enggan (memberikan) bantuan.” (QS. Al-Mā‘ūn: 7).
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Ayat terakhir Surah Al-Mā‘ūn menegaskan pentingnya kesediaan memberikan pertolongan kepada sesama. Kata Al-Mā‘ūn dipahami oleh para mufasir dengan cakupan makna yang beragam, antara lain bantuan sederhana yang bermanfaat, dan dalam penafsiran tertentu dikaitkan pula dengan kewajiban sosial seperti zakat.
Pelajaran yang dapat kita ambil ialah bahwa seorang muslim hendaknya tidak membiarkan sifat kikir menguasai dirinya hingga enggan memberikan bantuan yang mampu ia berikan.
Pertolongan tidak selalu berupa uang. Kita dapat meminjamkan barang yang dibutuhkan, membantu tetangga yang sedang kesulitan, berbagi ilmu, memberikan tenaga, atau meluangkan waktu untuk mendengarkan dan mencari solusi bagi orang yang menghadapi masalah.
Jangan meremehkan bantuan kecil. Bisa jadi, sesuatu yang terasa sederhana bagi kita merupakan hal yang sangat berarti bagi orang lain.
Jika kita ingin membangun masyarakat yang kuat, marilah kita mulai dengan membiasakan diri saling menolong. Sebab, kehidupan yang baik bukan hanya kehidupan ketika setiap orang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, melainkan juga kehidupan ketika orang-orang di dalamnya bersedia membantu satu sama lain.
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Dari penjelasan Surah Al-Mā‘ūn tersebut, setidaknya ada empat pelajaran utama yang dapat kita renungkan.
Pertama, kita diperintahkan untuk berbuat baik dan peduli kepada sesama, terutama anak yatim dan fakir miskin.
Kedua, kita dilarang melalaikan salat dan hendaknya senantiasa memperbaiki kualitas ibadah kepada Allah Swt.
Ketiga, kita dilarang berbuat ria dan hendaknya menjaga keikhlasan dalam setiap amal.
Keempat, kita dilarang bersikap kikir serta enggan memberikan pertolongan yang bermanfaat kepada orang lain.
Keempat pelajaran tersebut menunjukkan bahwa ibadah dan kepedulian sosial merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan. Kesalehan tidak cukup hanya tampak dalam hubungan kita dengan Allah, tetapi juga perlu diwujudkan dalam hubungan kita dengan sesama manusia.
Jangan sampai kita rajin mendatangi tempat ibadah, tetapi tidak peduli kepada tetangga yang kelaparan. Jangan sampai kita mudah berbicara tentang kebaikan, tetapi enggan melakukannya ketika ada orang yang membutuhkan bantuan. Jangan sampai kita mengharapkan pujian manusia, tetapi melupakan keikhlasan kepada Allah Swt.
Marilah kita meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Mulailah dari keluarga, tetangga, dan masyarakat tempat kita tinggal. Apabila ada yang kesulitan, bantulah sesuai kemampuan. Apabila ada yang membutuhkan ilmu, bagikanlah ilmu yang bermanfaat. Apabila ada kesempatan untuk mendorong orang lain berbuat baik, janganlah kita menyia-nyiakannya.
Berbagi tidak hanya menjadi jalan untuk mengharapkan rida Allah, tetapi juga dapat menumbuhkan rasa syukur, mempererat persaudaraan, dan membangun kehidupan masyarakat yang lebih peduli.
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Berbahagialah orang-orang yang senantiasa menyebarkan kebaikan dan kebahagiaan kepada sesama, sementara di dalam hatinya tertanam rasa syukur kepada Allah Swt. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang menjaga salat, memuliakan anak yatim, peduli kepada fakir miskin, menjauhi ria, dan ringan tangan dalam memberikan pertolongan.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang beriman, bertakwa, ikhlas dalam beramal, dan bermanfaat bagi sesama.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
Jamaah salat Jumat rahimakumullah,
Marilah kita kembali meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tidak hanya tekun beribadah, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keadaan orang-orang di sekitar kita.
Marilah kita mengamalkan pelajaran Surah Al-Mā‘ūn dalam kehidupan sehari-hari. Jagalah salat kita, luruskan niat dalam beramal, sayangilah anak yatim, bantulah fakir miskin, dan janganlah kita enggan memberikan pertolongan meskipun sederhana.
Semoga Allah Swt. menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta menjadikan kita manusia yang membawa manfaat dan kebaikan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
Selanjutnya, marilah kita berdoa kepada Allah Swt.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَطَهِّرْ نِيَّاتِنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ.
اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَى الصَّلَاةِ، وَمِنَ الْمُحْسِنِينَ إِلَى الْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ، وَمِنَ الْمُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى.
اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا رَحِيمَةً، وَأَيْدِيًا سَخِيَّةً، وَأَلْسِنَةً صَادِقَةً، وَأَعْمَالًا صَالِحَةً تَرْضَاهَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
أَقِمِ الصَّلَاةَ.
TAGS: khutbah jumat, makna al maun

