KHUTBAH • 13 Oct 2026 • 12x dibaca
KHUTBAH IDUL FITRI : “Mewujudkan Kebaikan Selepas Ramadhan”
“… dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa), serta mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
KHUTBAH IDUL FITRI
“Mewujudkan Kebaikan Selepas Ramadhan”
Oleh: Khanif Fauzan
PEMBUKAAN KHUTBAH IDUL FITRI
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ أَكْبَرُ، الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ جَعَلَ يَوْمَكُمْ هَذَا، يَوْمَ عِيدِ الْفِطْرِ، وَيَوْمَ الْأَكْبَرِ، وَيَوْمَ السُّرُورِ، وَيَوْمَ الْمَغْفِرَةِ، يَوْمًا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ فِيهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ١
(QS. An-Nisā’: 1)
KHUTBAH IDUL FITRI (ISI KHUTBAH)
Jamaah salat Idulfitri rahimakumullah,
Dari mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketakwaan itulah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.
Di hari raya yang agung ini, marilah kita renungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: “… dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa), serta mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sebuah proses penyempurnaan diri menuju ketakwaan, yang ditandai dengan pengagungan kepada Allah dan rasa syukur yang mendalam.
Jamaah salat Idulfitri rahimakumullah,
Selama bulan Ramadan, kita telah ditempa dengan berbagai ibadah: berpuasa menahan lapar dan dahaga, menegakkan salat berjamaah, menghidupkan malam dengan qiyamul lail dan tarawih, memperbanyak tadarus Al-Qur’an, menunaikan zakat, mempererat silaturahmi, serta memperbanyak sedekah.
Semua ibadah itu pada hakikatnya adalah latihan besar untuk mengendalikan diri. Latihan menahan hawa nafsu, menahan amarah, menahan lisan dari perkataan yang buruk, dan menahan hati dari penyakit-penyakit yang merusak.
Maka, hasil dari latihan itu seharusnya tampak pada hari yang suci ini. Tidak ada lagi dendam yang tersimpan, tidak ada iri hati yang dipelihara, dan tidak ada permusuhan yang terus dijaga. Idulfitri adalah momentum kembali kepada fitrah, yaitu hati yang bersih, jiwa yang lapang, dan hubungan yang penuh kedamaian.
Hadirin jamaah salat Idulfitri rahimakumullah,
Namun demikian, kegagalan Ramadan dapat terlihat dari ketidakmampuan seseorang dalam menjaga pengendalian dirinya setelah Ramadan berlalu. Ketika lisan kembali kotor, ucapan kembali menyakitkan, dan perbuatan kembali kepada kefasikan dan kerusakan, maka itu pertanda bahwa latihan selama Ramadan belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rūm: 41)
Kerusakan itu bermula dari sifat sombong, sebagaimana kesombongan setan yang enggan tunduk kepada perintah Allah. Sifat itulah yang terus membisikkan manusia untuk melakukan kerusakan di muka bumi.
Akibat dari kerusakan itu, lahirlah manusia yang tampak baik di luar, namun sesungguhnya menderita di tengah kehidupan. Hatinya sempit, jiwanya gelisah, dan hidupnya jauh dari keberkahan. Jalan menuju Allah menjadi tertutup karena dosa-dosa yang dilakukan dalam hubungan antarmanusia: penindasan, kecurangan, korupsi, pengingkaran terhadap hak-hak, termasuk dalam urusan utang piutang, saling mencela, merendahkan orang lain, serta kesombongan yang menganggap diri lebih baik tanpa amal saleh yang nyata.
Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
Artinya: “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa…” (QS. An-Nisā’: 1)
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada perbedaan hakiki antara manusia satu dengan yang lainnya. Semua berasal dari sumber yang sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaan dan komitmen dalam menjalankan perintah Allah.
Jamaah salat Idulfitri rahimakumullah,
Wujud nyata dari ketakwaan itu bukan hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam perjuangan sosial yang berat, yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai aqabah, yaitu jalan yang terjal dan penuh tantangan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ ١١ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ ١٢ فَكُّ رَقَبَةٍ ١٣ أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ ١٤ يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ ١٥ أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ ١٦
Artinya:
“Maka tidakkah dia menempuh jalan yang terjal? Tahukah kamu apakah jalan yang terjal itu?”
“(Yaitu) melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, kepada anak yatim yang memiliki hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat membutuhkan…” (QS. Al-Balad: 11–16)
Inilah bentuk nyata ketakwaan: membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan, membantu mereka yang kelaparan, menyantuni anak yatim, serta memberdayakan fakir miskin. Ini bukan jalan yang mudah, tetapi itulah jalan menuju kemuliaan di sisi Allah.
Dan orang-orang yang mampu menempuh jalan ini, mereka disebut sebagai ashabul maimanah, yaitu golongan kanan yang penuh keberkahan. Mereka adalah masyarakat yang dibangun di atas kasih sayang, kepedulian, dan persaudaraan.
Jamaah salat Idulfitri rahimakumullah,
Maka, marilah kita jadikan Idulfitri ini bukan sekadar perayaan, tetapi sebagai titik awal untuk menjaga hasil pendidikan Ramadan. Kita lanjutkan pengendalian diri, kita jaga lisan dan perbuatan, kita kuatkan kepedulian sosial, dan kita bangun masyarakat yang saling mengasihi.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang benar-benar kembali kepada fitrah dan meraih derajat takwa.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
KHUTBAH KEDUA IDUL FITRI
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ الزَّادِ، وَأَعْظَمُ الْوَصَايَا. اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Marilah kita sempurnakan kebahagiaan di hari yang mulia ini dengan memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta mengembalikan kita kepada fitrah yang suci.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
“Mewujudkan Kebaikan Selepas Ramadhan”
Oleh: Khanif Fauzan
PEMBUKAAN KHUTBAH IDUL FITRI
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ أَكْبَرُ، الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ جَعَلَ يَوْمَكُمْ هَذَا، يَوْمَ عِيدِ الْفِطْرِ، وَيَوْمَ الْأَكْبَرِ، وَيَوْمَ السُّرُورِ، وَيَوْمَ الْمَغْفِرَةِ، يَوْمًا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ فِيهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ١
(QS. An-Nisā’: 1)
KHUTBAH IDUL FITRI (ISI KHUTBAH)
Jamaah salat Idulfitri rahimakumullah,
Dari mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketakwaan itulah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.
Di hari raya yang agung ini, marilah kita renungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: “… dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa), serta mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sebuah proses penyempurnaan diri menuju ketakwaan, yang ditandai dengan pengagungan kepada Allah dan rasa syukur yang mendalam.
Jamaah salat Idulfitri rahimakumullah,
Selama bulan Ramadan, kita telah ditempa dengan berbagai ibadah: berpuasa menahan lapar dan dahaga, menegakkan salat berjamaah, menghidupkan malam dengan qiyamul lail dan tarawih, memperbanyak tadarus Al-Qur’an, menunaikan zakat, mempererat silaturahmi, serta memperbanyak sedekah.
Semua ibadah itu pada hakikatnya adalah latihan besar untuk mengendalikan diri. Latihan menahan hawa nafsu, menahan amarah, menahan lisan dari perkataan yang buruk, dan menahan hati dari penyakit-penyakit yang merusak.
Maka, hasil dari latihan itu seharusnya tampak pada hari yang suci ini. Tidak ada lagi dendam yang tersimpan, tidak ada iri hati yang dipelihara, dan tidak ada permusuhan yang terus dijaga. Idulfitri adalah momentum kembali kepada fitrah, yaitu hati yang bersih, jiwa yang lapang, dan hubungan yang penuh kedamaian.
Hadirin jamaah salat Idulfitri rahimakumullah,
Namun demikian, kegagalan Ramadan dapat terlihat dari ketidakmampuan seseorang dalam menjaga pengendalian dirinya setelah Ramadan berlalu. Ketika lisan kembali kotor, ucapan kembali menyakitkan, dan perbuatan kembali kepada kefasikan dan kerusakan, maka itu pertanda bahwa latihan selama Ramadan belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rūm: 41)
Kerusakan itu bermula dari sifat sombong, sebagaimana kesombongan setan yang enggan tunduk kepada perintah Allah. Sifat itulah yang terus membisikkan manusia untuk melakukan kerusakan di muka bumi.
Akibat dari kerusakan itu, lahirlah manusia yang tampak baik di luar, namun sesungguhnya menderita di tengah kehidupan. Hatinya sempit, jiwanya gelisah, dan hidupnya jauh dari keberkahan. Jalan menuju Allah menjadi tertutup karena dosa-dosa yang dilakukan dalam hubungan antarmanusia: penindasan, kecurangan, korupsi, pengingkaran terhadap hak-hak, termasuk dalam urusan utang piutang, saling mencela, merendahkan orang lain, serta kesombongan yang menganggap diri lebih baik tanpa amal saleh yang nyata.
Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
Artinya: “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa…” (QS. An-Nisā’: 1)
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada perbedaan hakiki antara manusia satu dengan yang lainnya. Semua berasal dari sumber yang sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaan dan komitmen dalam menjalankan perintah Allah.
Jamaah salat Idulfitri rahimakumullah,
Wujud nyata dari ketakwaan itu bukan hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam perjuangan sosial yang berat, yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai aqabah, yaitu jalan yang terjal dan penuh tantangan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ ١١ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ ١٢ فَكُّ رَقَبَةٍ ١٣ أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ ١٤ يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ ١٥ أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ ١٦
Artinya:
“Maka tidakkah dia menempuh jalan yang terjal? Tahukah kamu apakah jalan yang terjal itu?”
“(Yaitu) melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, kepada anak yatim yang memiliki hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat membutuhkan…” (QS. Al-Balad: 11–16)
Inilah bentuk nyata ketakwaan: membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan, membantu mereka yang kelaparan, menyantuni anak yatim, serta memberdayakan fakir miskin. Ini bukan jalan yang mudah, tetapi itulah jalan menuju kemuliaan di sisi Allah.
Dan orang-orang yang mampu menempuh jalan ini, mereka disebut sebagai ashabul maimanah, yaitu golongan kanan yang penuh keberkahan. Mereka adalah masyarakat yang dibangun di atas kasih sayang, kepedulian, dan persaudaraan.
Jamaah salat Idulfitri rahimakumullah,
Maka, marilah kita jadikan Idulfitri ini bukan sekadar perayaan, tetapi sebagai titik awal untuk menjaga hasil pendidikan Ramadan. Kita lanjutkan pengendalian diri, kita jaga lisan dan perbuatan, kita kuatkan kepedulian sosial, dan kita bangun masyarakat yang saling mengasihi.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang benar-benar kembali kepada fitrah dan meraih derajat takwa.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
KHUTBAH KEDUA IDUL FITRI
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ الزَّادِ، وَأَعْظَمُ الْوَصَايَا. اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Marilah kita sempurnakan kebahagiaan di hari yang mulia ini dengan memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta mengembalikan kita kepada fitrah yang suci.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا.
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
TAGS: khutbah idul fitri, kebaikan selepas ramadhan

